Wednesday, June 17, 2015

Oknum Disdik Provinsi Kalsel Diduga Main Proyek Siluman


MARTAPURA - Ibarat fenomena gunung es, diperkirakan ada sejumlah proyek di daerah yang berlabel 'proyek siluman'. Betapa tidak, proyek itu tidak jelas kontraktornya siapa, berapa nilainya dan kapan batas selesainya, akibat ketiadaan papan (plang) proyek. Satu contoh yang ditemukan wartawan adalah di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Raudhatul Jannah, Jl Permata RT 10, Martapura.Dari pengamatan, madrasah yang dikepalai oleh Masniah SAg ini sedang berbenah. Ada sejumlah pekerja yang membangun pagar madrasah yang panjangnya puluhan meter. Tahun sebelumnya, 2014, ada juga proyek serupa yang tak jelas siapa pelaksananya.

Masniah yang berhasil dikonfirmasi, Selasa (16/6) mengatakan, dirinya tak tahu nama kontraktornya dan
berapa nilai proyeknya. "Kami tidak menerima dananya, karena cuma kegiatan pekerjaan ini saja. Yang saya tahu, yang mengepalai pekerjaan di lapangan, namanya Pak Sugi," tukasnya.

Kemudian disinggung darimana proyek ini, Masniah menyatakan bahwa proyek ini diyakininya berasal dari Disdik Provinsi Kalsel. Ditanya lebih lanjut siapa pejabat di Disdik Provinsi Kalsel yang sepertinya berwenang dalam proyek tersebut, Masniah menyebut nama Rahmat, seorang kasi.

Masniah mengaku pernah menyampaikan kepada Rahmat agar papan proyek dipasang, namun hal itu tak pernah dilakukan. "Saya sama sekali tidak tahu berapa nilainya, yang jelas madrasah kami mendapat bantuan berupa pekerjaan bangunan saja," ungkapnya.

Masniah membantah kalau dirinya tidak pernah berkoordinasi dengan pihak yayasan. "Jika ada yang akan diusulkan, pasti saya beritahukan kepada ketua yayasan," kilahnya.

Sementara itu, Ardiansyah, ketua yayasan MI Raudhatul Jannah mengatakan, ia sama sekali tidak mengetahui proyek tersebut. "Pernah saya diberitahu Lurah Tanjung Rema Darat Hafizh Anshari, berkas proposal itu sudah saya tandatangani. Kalimat itu jelas membuat saya bingung, karena saya merasa tidak pernah menandatangani proposal permohonan bantuan proyek," tegasnya.

Lurah Hafizh Anshari kepada wartawan mengaku bahwa Masniah pernah meminta tandatangannya pada proposal permohonan bantuan proyek, namun ia meragukan kalau ketua yayasan tidak mengetahui adanya proposal tersebut. Disinggung apakah bisa tandatangan ketua yayasan dipalsukan, Hafizh mengaku tak berani berpekulasi, namun ke depan ia akan lebih hati-hati dan akan mengkonfirmasi ke ketua yayasan terlebih dahulu sebelum membubuhkan tandatangan pada proposal yang diajukan Masniah. Rahmat yang dikonfirmasi cuma mengatakan bahwa pihaknya akan menegur kontraktornya tanpa mau melanjutkan wawancara. adi

No comments: