Friday, December 19, 2014

H Arief, Wartawan Pekerja Keras



***H Arief Wartawan Pekerja Keras***
Pria yang lahir di Banjarmasin, 11 April 1979 dikenal wartawan lainnya sebagai wartawan
pekerja keras. Pria berkacamata tebal ini aktif di partai politik, klub otomotif, bahkan
aktif membesarkan PWI Kalsel melalui kegiatan biliarnya.
Arief dapat dimaklumi demikian, karena karakternya itu terbentuk dari sikap hidup ayahnya,
Husaini yang sejak dulu dikenal warga sebagai pekerja ulet, tak mudah putus asa.
Dari usahasang ayah yang cuma tukang cat, sampai akhirnya memiliki travel perjalanan umrah dan haji.  Sekarang pun, ayahnya aktif di DPRD Kalsel.
"Beliau panutan saya, bagaimana menghadapi hidup, agar tidak mudah menyerah meski sempat  terjatuh (bangkrut). Beliau hampir tak pernah bapapadah (nasihat) dengan mulut, tetapi  beliau memberi contoh dari perbuatan beliau yang giat dan tak mudah putus asa," tukasnya.
Arief yang berbintang Aries ini berprinsip hidup harus seimbang. Kalaupun sibuk dalam
dunia, namun kegiatan ibadah pun tak boleh dilupakan. Uniknya, meski berpenampilan trendi dan modis, dan hafal sejumlah lagu Barat, H Arief ini ternyata suka menggelar pengajian di rumahnya kawasan Jl Jafri Zam-zam Kompleks DPRD.
"Bila ada hajat dan hari kelahiran, saya lebih senang mengundang anak yatim dan grup 
maulidan. Sebab, syair dan tabuhan terbang yang intinya memuji Nabi Muhammad SAW itu begitu indah. Dan mudah-mudahan dengan berkat Nabi itu, segala hajat kita mengandung berkah," ulasnya.
Suami Nurmiyati (35) ini dalam keseharian hidup rukun. "Kami berdua kebetulan memiliki
kesamaan pola pikir yakni open minding, keterbukaan dan meliha segala persoalan secara
objektif," bebernya. Alhasil, meski sang istri juga memiliki kesibukan, Arief bisa secara
bijaksana mempersilakannya. Begitu pula sebaliknya, Arief yang memiliki segudang kegiatan
di samping kewartawanan, bisa enak menjalaninya, tanpa harus direcoki sang istri.
"Alhamdulillah istri saya sangat mengerti kegiatan saya. Bagaimana kita pulang larut malam
karena tugas di media, istri saya sudah maklum dan memahaminya," jelasnya.


Pria kekar yang memiliki tujuh saudara ini juga dikenal pemurah karena suka mentraktir
rekan lainnya kala nongkrong di warung, menunggu peliputan. Menurutnya, harta tak akan
dibawa mati, sehingga jika bisa bermanfaat untuk orang lain, H Arief dengan senang hati
melakukannya.
Di klub otomotif sesama penggemar mobil BMW, H Arief kerap bersama anggota lainnya melaksanakan bakti sosial seperti menyumbang uang untuk korban kebakaran. Baginya, peduli kepada sesama yang sedang menderita sangat penting dikembangkan, mengingat rasa kebersamaan dan kegotongroyongan di masyarakat saat ini sudah mulai luntur.
“Saya sering melihat, ayah sering menyisihkan sebagian rezekinya kepada tetangga atau orang lain yang kebetulan sedang kesusahan. Meski beliau tidak membilangi kami, namun sikap hidup ayah itu terus membekas dalam ingatan saya, sehingga saya pun mencontoh hal yang bagi saya sangat luar biasa itu,” imbuh pria yang suka tampil necis ini.
Keunggulan H Arief dibanding rekan wartawan lainnya, ia begitu mudah bergaul dengan siapa saja. Bahkan, kepada sejumlah pejabat, H Arief begitu luwes sehingga mudah diterima. Maka tak heran, jika ada kegiatan wartawan, semisal even biliar, ia mudah memperoleh sokongan dana dari pengusaha atau pejabat yang ikhlas menjadi sponsor kegiatannya.
“Mungkin karena ini, Ketua Siwo PWI Kalsel mempercayakan saya jadi koordinator cabang olahraga biliar,” cetusnya sambil tertawa lebar.
Penyuka musik ini juga dikenal pemaaf meski ada hal yang kurang mengenakkan. “Allah saja Maha Pengampun, maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mudah memberi maaf kepada orang lain,” tambahnya.
Akhirnya, meski profesi sebagai wartawan menurut H Arief bukan halangan baginya untuk bisa berbuat lebih untuk masyarakat. Baginya, sumbangsih kepada masyarakat tidak hanya hak orang-orang kaya, pejabat atau pengusaha, karena menjadi wartawan pun banyak hal yang bisa dilakukan. “Misalnya menyuarakan aspirasi masyarakat bawah juga bagian kebaikan wartawan,” ujarnya diplomatis.(adi permana)


No comments: