Tuesday, May 14, 2013

Pastur Diislamkan Tuan Guru Sekumpul (Bagian 3/Habis)


Saya (Hendra) mengingat betul pesan Nabi Khidr AS yang disampaikan melalui Abah Guru Sekumpul. Abah juga menyampaikan nasihat tambahan. "Nak, bila kamu sudah Islam kemudian menjadi kaya raya, berarti Islam kamu tidak lah benar-benar. Namun, jika nanti kehidupanmu sulit dan susah, maka berarti kamu sudah beragama dengan benar. Sebab Allah berkehendak menguji keikhlasan kamu mengikut agama yang hak ini," papar Abah Guru Sekumpul.

Saya hanya bisa menganggukkan kepala seraya berkata, "Inggih Abah." Beliau kemudian berdoa memohon kepada Allah semoga saya ditetapkan iman dan selamat dunia wal akhirat untuk bisa berkumpul dengan beliau kembali di akhirat. Saya merinding jika mengingat peristiwa itu.

Perlu diketahui bahwa selama saya menjadi pastur di gereja di Banjarbaru itu, kehidupan saya begitu menyenangkan, tak ada kesusahan. Tiap kali mau belanja atau apa saja, tinggal ambil duit di kas gereja. Pokoknya, sumbangan dari gereja yang lebih tinggi, dari Vatikan dan sumbangan jemaat begitu banyak, saya tak pernah kekurangan uang, bahkan berlebih.

Setelah saya masuk Islam, kehidupan yang susah pun langsung saya temui. Namun, untunglah, keluarga Guru Rosyad terkadang memanfaatkan jasa saya menyetirkan mobil keluarga mereka, misal pergi ke undangan acara maulidan dan pengajian.

Pernah ada pengalaman aneh atau yang bisa disebut karamah Abah Guru Sekumpul. Kami rombongan malam-malam baru saja pulang dari Madurejo di salah satu kecamatan di Kabupaten Banjar. Pada tengah malam saya menyetir mobil membawa rombongan keluarga Guru Rosyad, sementara Abah Guru dan rombongan lainnya di mobil lain di belakang kami.

Begitu tiba di kawasan Astambul, mobil yang saya setir tiba-tiba mogok. Sadarlah saya kalau mobil sudah kehabisan bensin. Tengah malam itu sudah tidak ada lagi kios bensin yang buka. tak berapa lama, tiba lah mobil di belakang yang membawa Abah Guru Sekumpul. Beliau keluar mobil, "Ada apa Nak," tanya beliau. "Kehabisan bensin Abah," ujar saya.

"Coba cari ember," perintah beliau. Saya pun mencoba mencari ember. Kebetulan di sisi jalan lain ada truk terparkir dan ada sopirnya. Saya tanya apakah punya ember dan syukurlah si sopir truk punya ember. Saya pinjam dan saya bawa ke hadapan Abah Guru Sekumpul. "Ambil air ke sungai," saran beliau. Saya pun turun ke sungai di bawah jembatan Astambul mengambil air. "Masukkan air itu ke tangki bensin," perintah beliau lagi. Meski agak bingung saya turuti saja perintah beliau. "Masih kurang." tanya beliau. Saya cuma mengangguk. "Tambahi lagi dua ember," tendas beliau. Setelah semua air dimasukkan, saya diperintah menstarter mobil dan ajaib, mesin mobil hidup, dan penunjuk (indikator) bensin menunjukkan tanda full.

Rombongan pun melanjutkan perjalanan. Sebelumnya, Abah Guru Sekumpul berpesan, jika sudah sampai ke rumah, buang kembali air dari tangki.

Kelebihan Abah Guru Sekumpul lainnya yang saya temui langsung, pernah saya lagi sakit dan mesti berobat ke dokter, namun tak punya duit. Saya lantas melapor ke kediaman Abah Guru Sekumpul. Saya ditemani seorang teman. Setelah dipersilakan penjaga regol saya masuk. Abah Guru Sekumpul dari dalam rumah terlihat tergesa sambil memakai sarung. "Kenapa Nak, ada masalah apa," tanya beliau penuh kasih sayang. Saya pun mengisahkan kesulitan akibat sakit namun tak punya duit.

Beliau dengan sigap merogoh buntalan sarung dan mengambil sesuatu. "Nah ini Nak, untuk berobat," ucap beliau. Saya mengucap terima kasih, mengecup tangan beliau dan permisi. Namun, berjalan keluar rumah beliau itu dengan hati bertanya-tanya. Teman saya bilang ada yang aneh, karena waktu masuk rumah, tampak sekali Abah Guru Sekumpul memakai sarung dan mustahil sempat memasukkan uang ke buntalan sarung.

Ketika sampai ke dokter saya berobat, periksa dan menebus obat. Sekali lagi ajaib. uang yang diminta dokter maupun apoteker, totalnya pas Rp250 ribu, sejumlah uang yang dikasih Abah Guru Sekumpul.

Pernah saya meminta uang ke paman saya yang adalah pendeta terhormat di gereja Banjarmasin, namun karena dia tahu kalau saya sudah Muslim, saya malah dihardik. Bahkan bukan uang yang saya terima, melainkan hantaman gelas ke pelipis kanan, hingga sobek dan mengucurkan darah.

Saya pulang dan mengadu ke Abah Guru Sekumpul. Beliau mengingatkan agar saya tak usah dendam. "Rasulullah sering dianiaya, dihina dan dicaci oleh umatnya yang belum beriman, namun Rasulullah tetap sabar, tak dendam bahkan beliau mendoakan agar orang tadi mendapat hidayah dari Allah," nasihat beliau.

Itulah kenangan saya (Hendra si mantan pastur) bersama Abah Guru Sekumpul. adi permana  

4 comments:

Ais elkirami said...

Waw ... Jadi terharu membaca ... mudahan kita di kumpulkan lwn sidin berkat kecintaan kita dengan orang yang di cintai allah

Wahidi Wahidi said...

mun sudah diberi allah hidayah, apalagi nang ma islam akan kekasih Nabi Muhammad uma basyukur banar, semoga kita di kumpulkan lwn sidin berkat kecintaan kita dengan orang yang di cintai allah.

Zaini Saja said...

Subhanallah ... Ulun izin share

Unknown said...

Massaallah, nangis ulun bacanya