Tuesday, May 14, 2013

Pastur Diislamkan Tuan Guru Sekumpul (Bagian 2)


Di tengah berkecamuknya pikiran apakah akan pindah agama atau tetap dalam kepercayaan lama, bahkan sempat terlibat perang Sampit, saya (Hendra) kebetulan punya kenalan yang masih keluarga dari Guru Rosyad. Dari sini saya punya keinginan untuk mempelajari Islam sedikit demi sedikit. Namun, oleh karena Guru Rosyad sakit-sakitan, beliau menyarankan agar saya masuk Islam dengan bimbingan Abah Guru Sekumpul. Diantar Guru Rosyad dan menantunya, saya menghadap Abah Guru Sekumpul, di rumah beliau di Sekumpul, sekitar tahun 2001. Begitu melihat saya, Abah Guru Sekumpul berkata, "Masih saja kah mencium secara tajam?" Saya kaget karena beliau langsung tahu kalau saya bisa mencium bau suku tertentu. "Inggih," kata saya. "Ibarat kebun binatang, perut kamu berkumpul banyak binatang," lanjut Abah Guru Sekumpul. Dan memang, karena saya bersuku Dayak, dan masih bercampur dengan kepercayaan Kaharingan, ajian atau untalan apa saja sudah pernah masuk ke dalam perut saya.

"Kalau ingin berislam, kamu mesti dibersihkan dahulu," kata Abah Guru Sekumpul. Saya manut saja, ketika beliau menyuruh saya mengambil air minum di dapur. Beliau menyuruh saya meminum air tersebut dan beliau lalu menepuk pundak saya. Seketika saya merasa mulas dan muntah-muntah. Ada banyak kotoran hitam yang keluar dari mulut saya, sekira-kira satu mangkok ukuran sedang.

Setelah beliau merasa sudah habis semua yang jelek-jelek dalam perut saya, kemudian beliau menyuruh saya berwudhu dan kemudian diislamkan dengan cara dituntun oleh beliau dua kalimat syahadat yang saya ikuti dengan pelan. "Asyhaduan laa ilaaha illallah, wa asyhadu anna muhammadan rasulullaah," ucap saya mengikuti. Begitu selesai pengucapan dan disahkan oleh hadirin, plong lah sudah rasa di hati.

Selesai acara pengislaman saya, saya kembali bercengkrama dengan Abah Guru Sekumpul. Kemudian saya memaparkan kisah lama saya di Pantai Takisung. Beliau sepertinya sudah mafhum. "Tahu kah kamu Nak, yang menemui kamu di Pantai Takisung itu ialah Nabi Khidr AS. Beliau itulah yang menguasai lautan maupun perairan. Apakah kamu ingin berjumpa kembali dengan beliau?" terang sekaligus tawar Abah Guru Sekumpul. "Inggih," jawab saya singkat.

Beliau lalu menyuruh saya mengambil air dalam baskom dari dapur. Beliau kemudian menyuruh saya bertawasul ke Nabi Khidr AS , bershalawat serta menepuk air di baskom itu tiga kali. Ajaib, sekonyong-konyong keluarlah kakek seperti yang pernah saya lihat di Pantai Takisung. Kakek yang adalah Nabi Khidr itu muncul sepinggang dari permukaan air baskom. Saya cuma kagum tak bisa bicara. Abah Guru Sekumpul saya lihat menunduk dan mengangguk tiga kali. Sekejap kemudian, Nabi Khidr sudah menghilang. "Nak, tadi beliau berpesan agar kamu benar-benar dalam beragama (Islam). Ibarat sekarang sudah diberi lembaran kertas putih, jangan sampai dibikin kotor lagi," kata Abah Guru Sekumpul.  Bersambung. (adi permana)

No comments: