Monday, May 13, 2013

Pastur Diislamkan Tuan Guru Sekumpul (Bagian 1)

Dari seseorang mantan pastur, sebut saja Hendra (40)

Saya (Hendra) sejak kecil dididik dalam ajaran Kristen yang ketat. Bahkan oleh orangtua

saya, saya disekolahkan hingga ke Vatikan. Sekian lama akhirnya sayapun menyandang predikat

sebagai pastur. Saya juga memperoleh kepercayaan untuk menggembala umat di sebuah gereja di

Banjarbaru, tepatnya seberang Unlam Banjarbaru.

Sekitar tahun 2.000, saya bersama rekan pastur lainnya berniat untuk rekreasi mengisi

liburan akhir pekan. Tujuan kami ke Pantai Takisung, Tala. Menggunakan bis pinjaman dari

gereja di Banjarmasin, kami pun berangkat. Di pantai, kami mendirikan tenda. Sebagaimana

kebiasaan, sebagai pastur saya memperoleh tenda sendiri, jadi tidak ada teman dalam tenda

saya, sementara tiga tenda lainnya ada di dekat tenda saya. Sebelum tengah malam, kami pun

masuk kemah dan terlelap.

Pada tengah malam, saya terbangun karena ada ucapan salam dari seseorang.

"Assalamu'alaikum," kata orang asing itu. Salam itu diulang lagi sambil menepuk-nepuk tenda

saya. Penasaran, saya pun bangkit dan keluar kemah. Karena saya Kristen, saya tak menyahut

salam tersebut. Saya lalu mengampiri seorang kakek yang belum pernah saya kenal. Ia memakai

jubah berwarna hijau dan bolang juga berwarna hijau, janggutnya hitam namun ada kombinasi

putih di bagian ujungnya.

Saya lalu salami tangannya. Aneh, kehalusan tangan kakek itu lebih halus rasanya dari kain

sutra. Pada bagian jempol kanan kakek itu seperti tidak bertulang. "Kenapa jempol kakek

seperti tidak bertulang," tanya saya. "Oh ini akibat kecelakaan, tapi nanti saja saya

ceritakan," kata kakek itu. "Ada apa kakek, ada keperluan apa," tanya saya. "Saya hanya

menyampaikan bahwa sudah saatnya kamu berpindah dari agamamu ke Islam, seperti agama kakek,"

sahut kakek misterius itu. Saya lihat sekeliling, tak ada yang terbangun dari dalam kemah

lainnya. "Saya tidak bisa kakek, karena sudah delapan turunan, kami adalah penganut Kristen

yang taat," jawab saya.

"Tidak, memang sudah saatnya kami mengikuti agama yang benar, yakni Islam, sebab sejak dalam

perut ibumu, di dahimu sudah dituliskan Allah asma-Nya," tegas kakek tersebut. Saya lantas

berpikir cepat. "Kalau memang kakek benar, apa kakek bisa menunjukkan mu'jizat sebagai tanda

kebenaran dari Tuhan," pancing saya. "Kalau itu soal gampang," kata kakek itu sambil

tertawa.
Entah bagaimana, tiba-tiba dari genggaman kakek itu muncul sebuah gelas kecil lagi bening.

"Zam-zam, ambil air Zam-zam itu," perintah kakek itu kepada saya sambil menyodorkan gelas

dan menunjuk ke laut. Mengertilah saya kalau saya mesti mengambil air laut itu. Kakek itu

menyuruh saya minum tiga tegukan. Anehnya, kala minum tidak asin, melainkan tawar.

Baru saja selesai tegukan ketiga, tiba-tiba saya merasakan gatal yang sangat hebat. Saya

sadari rasa gatal itu dari jubah pastur, salib dan perlengkapan

yang saya kenakan kala itu. Seketika itu juga melepaskan atribut kepasturan saya. Begitu

sudah lepas semua, tinggal celana dan sepatu, barulah rasa gatal yang hebat itu hilang.

Rasanya seeperti digigit semut gatal yang sangat banyak.

Mulai saat itu, mulai ada rasa takjub kepada kakek tersebut. "Siapa nama kakek, dan di mana

kakek tinggal," tanya saya. "nanti kamu juga tahu dengan sendirinya siapa saya. Adapun

tempat saya di sana," kata kakek itu sambil menunjuk ke arah laut yang di kejauhan saya

lihat seperti ada lampu kelap-kelip. Namun, anehnya saat itu, seperti ada jalan dari tempat

kami berdiri ke arah tempat yang ditunjuk kakek tersebut.

Kami lalu berjalan menyusuri jalan tersebut. Namun, di tengah perjalanan, kakek itu

menghentikan langkahnya. "Belum saatnya kamu memasuki kediamanku, karena kamu masih belum

suci. Kamu mesti beragama seperti agama kakek," kata kakek tersebut yang pembawaannya tenang

dan berwibawa.

Seketika saja kakek tersebut menghilang. Belum sempat saya berpikir banyak, tiba-tiba sebuah

ombak menghantam muka saya, dan seketika saya sudah ada di air laut. Saya lalu bergegas

keluar air menuju pantai. Sekali lagi aneh, yang basah cuma muka saya, celana dan sepatu

saya masih kering seperti semula.

Dengan masih terheran-heran, saya memandang ke arah laut. Seiring waktu, saya pun masuk ke

tenda dan merebahkan diri dan akhirnya tertidur. Pukul enam pagi saya bangun dari

pembaringan dan ingin melihat keadaan pantai di mana saya bersama seorang kakek misterius

terlibat dialog yang masih segar diingatan. Saya perhatikan, memang masih ada jejak sepatu

saya di pantai. Bahkan, meski ombak beberapa kali menghantam pantai, jejak kaki saya masih

ada. Saya kenal betul bagaimana tapak sepatu saya.

Sepulang dari Takisung itu lah, pikirannya saya mulai berkecamuk. Keimanan saya kepada

ajaran Kristen sedikit demi sedikit mulai luntur. (bersambung) adi permana

4 comments:

Anonymous said...

sekedar masukn mas,, klu bisa sertakan nara sumber ny, biar gak di anggap orng HOAX :-)

dxchovlo said...

sekedar masukn mas,, klu bisa sertakan nara sumber ny, biar gak di anggap orng HOAX :-)

dxchovlo said...

sekedar masukn mas,, klu bisa sertakan nara sumber ny, biar gak di anggap orng HOAX :-)

dxchovlo said...

sekedar masukn mas,, klu bisa sertakan nara sumber ny, biar gak di anggap orng HOAX :-)kti