Monday, April 29, 2013

Kontraktor Buron Dijebloskan Ke Sel Saat Maghrib

MARTAPURA - Setelah cukup lama buron, BR, warga Bati-Bati, Tala yang menjadi kontraktor dalam proyek pengadaan mesin balok es dan pengerjaan bengkel Pelabuhan  Pendaratan Ikan (PPI) di Kecamatan Aluh-Aluh akhirnya tertangkap juga oleh tim monitoring bentukan Kejagung, Kejati Kalsel dan Kejari Martapura dibantu Polda Kalsel dan Polres Tala di sebuah terminal Kota Pelaihari, Tala, Senin (29/4) siang sekitar pukul 12.00 Wita.


BR yang tertangkap tanpa perlawanan kemudian dibawa oleh tim monitoring ke Kejati Kalsel untuk kepentingan administrasi untuk selanjutnya dibawa ke Kejari Martapura  pada sorenya. Dan di kala Maghrib, BR dimasukkan ke dalam mobil tahanan Kejari Martapura dan dijebloskan dalam LP Martapura di Tanjung Rema, Martapura sebagai tahanan titipan Kejari Martapura.

"BR ini adalah salah satu tersangka dalam proyek mesin es dan bengkel PPI. Sejak Februari karena mangkir tiga kali dari panggilan resmi Kejari Martapura, dijadikan  DPO. Berkat kerja keras tim monitoring dibantu aparat Polda Kalsel dan Polres Tala, tersangka diamankan di terminal Pelaihari, masih tak jauh dari Mapolres Tala," ujar Kajari Martapura, Supardi SH MH, kepada para wartawan.

Menurut Supardi, tim sudah mencium keberadaan BR di Banjarmasin setelah tim melakukan penyadapan sinyal HP yang digenggam tersangka. Sejak subuh Senin itu, tim kemudian berupaya melacak keberadaan BR. Hanya saja, BR diduga kembali lagi ke Pelaihari, dan tim pun masih terus melakukan pengejaran. Hingga BR sesampainya di sebuah terminal yang entah melakukan urusan apa, kemudian didekati dan diamankan tanpa perlawanan.


Sebagaimana pengakuan Kasi Pidsus Kejari Martapura, Tri Yulianto SH MH, beberapa hari sebelumnya, pihaknya sempat mencium keberadaan BR di Landasan Ulin, diduga di kediaman istri muda BR. Sebuah mobil Nissan Juke yang diduga ada BR di dalamnya, meluncur keluar kawasan Landasan Ulin, sehingga dikejar oleh aparat sampai terjadi kejar-kejaran. Namun BR kembali menghilang. "Kaca spion mobil saya sampai patah," aku Tri.

Kasus dugaan korupsi proyek pengadaan mesin balok es dan pengerjaan bengkel Pelabuhan Pendarataan Ikan (PPI) di Kecamatan Aluh-Aluh, Kabupaten Banjar masih terus bergulir. Berkas pertama yang ditangani Pidsus Kejari Martapura, terdakwa Nur Hayati, pejabat pembuat komitmen pada Dinas Perikanan dan Kelautan Banjar masih menjalani persidangan di Pengadilan Tipikor Banjarmasin, namun kali ini aparat menyasar tersangka lain, yakni kontraktor proyek, BR. Tersangka lain, adalah mantan pejabat Dinas
Perikanan dan Kelautan Banjar, NE.

Menurut Tri, mereka cukup bukti menetapkan BR yang adalah kuasa direktur CV Asya dan CV Lutfiana Meydatama selaku pelaksana pengadaan dan pengerjaan proyek, di mana  proyek sendiri anggarannya senilai kurang lebih Rp5 miliar. Sementara nilai kerugian dari kasus ini menurut BPKP Kalselteng senilai Rp289 juta. BR sendiri dikenakan pasal 2 (primer) dan pasal 3 (subsider) UU Tipikor serta Jo pasal 55 KUHP. Selain BR, Kejari Martapura juga telah menetapkan NE sebagai tersangka, sebab NE diduga juga
terlibat dalam menerima uang hasil korupsi pada proyek ini. NE sendiri pada saat kejadian 2011 lalu itu adalah pejabat penting di Dinas Perikanan dan Kelautan Banjar.

Menurut TRI, dalam fakta baru di persidangan dan hasil penyidikan, NE inilah yang memerintahkan Nur Hayati untuk melakukan pembayaran, meski proyek belum beres. Kasus ini muncul setelah ada dugaan penyimpangan pembayaran proyek sebesar 100 persen sementara kondisi proyek di lapangan masih 70 persen. Dalam laporan fiktif, pada 15 Desember 2011 lalu, kontiner barang kelengkapan pabrik es dan bengkel datang di Pelabuhan Trisakti. Faktanya, sebagaimana berita acara serah terima kontiner, pada
15 Desember 2011 itu, kontiner telah tiba di Aluh-Aluh, Kecamatan Aluh-Aluh. Bahkan, selain kontiner yang tiba tanggal itu di Trisakti, sebagian barang ada lagi datang ke Trisakti setelah tanggal tersebut.

Penyimpangan proyek di 2011 ini, terutama pada pembuatan pabrik dan pengadaan peralatan pendukungnya sejumlah 51 item, meski ada juga pembuatan jalan lingkungan  seputar pabrik. Proyek dikalkulasi hanya selesai sekitar 40 hingga 50 persen saja, namun keuangan proyek yang dikucurkan ke kontraktor diduga mencapai 70 persen lebih.

Nur Hayati mengakui kalau ia jarang melihat langsung pengerjaan proyek di lapangan. Ia hanya sering terlibat komunikasi via telepon dengan seseorang berinisial RN yang mengaku staf dari kontraktor berinisial BR. Dalam perkembangan di pengadilan, ujar Tri, Nur Hayati membayar pekerjaan setelah ada perintah dari NE. adi 

No comments: