Monday, April 15, 2013

Guru Bakhiet, Sang Murabbi Mursyid

Subhanallah. Dengan menyebut asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang dengan berkat rahmat-Nya jua kita diberikan nikmat terbesar iman dan Islam. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah ke hadrat Nabi Besar Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan pengikut beliau dari dahulu hingga hari akhir. Tulisan ini hanya copas dari blog hamba Allah (lihat bagian terakhir tulisan).


Saya terbuka hati ingin mengetahui Guru Bakhiet, seorang ulama kharismatik di Hulu Sungai, tepatnya Barabai, HST. Saya memperoleh informasi, insya Allah benar, karena informasi ini muncul dari salah satu murid Tuan Guru Sekumpul. Beliau, Abu Zein Al-Banjari memberitahu kepada saya bahwa Guru Bakhiet di alam ruhani, adalah murabbi mursyid Thariqat Syadziliyyah di Kalsel.

Semoga Allah SWT dengan hak Rasulullah SAW, berkat Tuan Guru Sekumpul dan berkat kewalian Guru Bakhiet, saya bisa menjadi salah satu murid thariqat beliau, aamiin.

Sejarah Hidup Nama lengkapnya K.H. Muhammad Bakhiet atau biasa dipanggil Guru Bakhiet. Ia
dilahirkan tanggal 01 Januari 1966 di Telaga Air Mata (Kampung Arab) sebuah nama perkampungan
yang ada dikabupaten Hulu Sungai Tengah. Ayahnya adalah Haji Ahmad Mugni atau sebutan popolernya
di masyarakat dengan nama Haji Amat Nagara (Kabupaten Hulu Sungai Selatan). K.H. Muhammad Bakhiet
mempunyai seorang istri yang bernama Hj. Sakdiah dan tiga orang anak.

Secara geneologi ia merupakan keturunan kelima dari Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari yang silsilah nasabnya, yaitu Muhammad Bakhiet – Ahmad Mugni – Ismail – Muhammad Thehir – Syihabuddin. Suasana kehidupan religius sudah sangat kental semasa hidupnya, baik ketika masih kecil hingga dewasa. Hal itu
karena lingkungan keluarganya maupun lingkungan pergaulannya sehari-hari sangat memberikan warna
terhadap karakter kepribadiannya yang religius. Ia amat dekat dengan ayahnya yang juga seorang
ulama populer di zamannya, khususnya di wilayah Hulu Sungai di Kalimantan Selatan. Dari ayahnya
inilah ia sangat banyak mengambil ilmu, khususnya ilmu bathin, dan orang tuanya sekaligus sebagai
gurunya. Latar belakang pendidikan beliau adalah di tahap pendidikan formal beliau hanya sampai
kelas IV Sekolah Dasar Negeri pada tahun 1976. Selebihnya beliau lebih banyak menimba ilmu pada
pendidikan non formal, yaitu mulai dari pendidikan dari kedua orang tuanya, khususnya dari
ayahnya yang seorang ulama. Beliau pernah menimba ilmu di Pondok Pesantren Ibnu Amin (Pamangkih)
pada tahun 1977 kurang lebih selama tiga tahun. Selanjutnya pada tahun 1980 menjadi santri Pondok
Pesantren Darussalam (Martapura) kurang lebih enam bulan. Daris situ kemudian pindah ke
Darussalamah kurang lebih satu setengah tahun. Setelah sekian lama di Martapura, kemudian beliau
kembali ke Barabai dan berguru dengan orang tua beliau sendiri dan berguru dengan para ulama yang
ada disekitarnya. Dalam memperdalam ilmu agama banyak ia ambil dari para ulama terkemuka.

Guru-guru beliau antara lain adalah orang tua beliau i sendiri yaitu Tuan Guru Haji Ahmad Mugni, dari
sini sangat banyak ilmu yang diperoleh khususnya berkenaan dengan ilmu bathin (ilmu tasawuf).
Ilmu fiqih secara khusus berguru dengan H. Abdul Wahab (Kampung Qadli Barabai). Ilmu bahasa Arab
khususnya ilmu Nahwu ditimbanya dari H. Hasan dan H. Saleh (Barabai). Sedangkan berkenaan dengan
ilmu falak beliau pelajari dari K.H. Mahfuz (almarhum) seorang tokoh Pendiri Pondik Pesantren
Pamangkih. K.H. Muhammad Bakhiet dimata masyarakat dinilai memiliki sifat-sifat terpuji dan
memiliki ilmu pengetahuan yang luas dan dalam serta memiliki daya tarik tersendiri. Oleh karena
itu belia menjadi pelita umat, khususnya di wilayah Hulu Sungai. Pengajiannya dihadri oleh
puluhan ribu orang yang datang dari berbagai pelosok. Disamping sebagai ulama. K.H Muhammad
Bakhiet juga seorang guru Tarikat Alawiyah. Berkenaan dengan dengan Tarikat Alawiyah ini secara
histeris beliau pada tahun 1993 oleh orang tuanya. Guru Bakhiet dikirim ke Surabaya (Bangil).
Disinilah ia mengaji dan mengambil Tarikat Alawiyah dari Habib Zein Al Abidin Ahmad Alaydrus.

Kurang lebih satu tahun bergelut dalam dunia Tarikat Alawiyah dengan syarat para jamaah yang
mengikutinya tidak kurang dari 40 orang. Waktu itu ada sejumlah nama yang aktif malah menjadi
murid utama beliau, diantaranya adalah Abdul Karim, Abdurrahim, Abdul Aziz, Abdushomat, Abdul
Muin, Ahmad Mugeni, Ahmad Said, Ahmad Nor, Ali Mawardi, Baihaqi, Fahrurrazi, H. Abdussalam, H.
Alfian Hidayat, H. Darussalam, Zunaidi HA, Mahdi Jauhari, Muhammad Arsyad, Muhammad Ahyad,
Muhammad Farid Wajidi, dan lain-lain. Tarikat Alawiyah sangat maju pesat perkembangannya yang
pengikutnya hingga kini mencapai puluhan ribu orang. Pada mulanya pengajian tarikat Alawiyah
bertempat di Pondok Pesantren Hidayaturrahman Barabai. Ditempat ini pengajian berlangsung kurang
lebih 40 minggu atau 40 kali pertemuan. Namun setiap kali pertemuan pesertanya semakin bertambah.

Bertambahnya jumlah jamaah maka beliau pindah lagi ke pondok pesantren Rahmatullah Ummah. Dari
sinilah nantinya menjadi pondok pesantren Nurul Muhibbin yang sekarang cukup terkenal itu. Di
lokasi pengajian yang baru ini dapat menampung jamaah lebih banyak yang menurut masyarakat setiap
kali pengajian tidak kurang dari puluhan ribu orang yang datang ketempat ini. Sekarang nama
lengkapnya adalah Pondok Pesantren Nurul Muhibbin yang beralamat di Jln. M. Ramli No. 89 Barabai
Darat. Sarana prasarananya cukup memadai, yaitu area yang cukup luas, yakni pondok pesantren dan
mushalla, lapangan yang lumayan luas dan tempat parkir. Majelis Taklim Nurul Muhibbin sekarang
ini telah membidangi lembaga-lembaga khusus, yaitu : Pondok Pesantren, Majelis Taklim (termasuk
pengajian tarikat Alawiyah), Panti Yatim dan Tahfiz Al-Qur’an. Disamping itu Majelis Taklim Nurul

Muhibbin ini mempunyai beberapa cabang diberbagai daerah seperti di Ilung (Kecamatan Batang Alai
Utara), di Negara (Kabupaten Hulu Sungai Selatan), di Halong (Balangan) dan kedepan rencananya
majelis Taklim ini akan dibangun di Paringin dengan lokasi yang sangat luas dan lengkap dengan
rencana pemukimannya. Sosok K. H. Muhammad Bakhiet sangat kharismatik dan sangat dihormati oleh
masyarakatnya di Hulu Sungai. Menurut beberapa orang yang dekat dengan beliau kelebihan yang
dimiliki oleh beliau disamping ilmu dan amaliahnya, antara lain yaitu:  Menjauhi pemerintah.
Contohnya beliau menolak dibawa Umrah oleh Pemerintah Daerah.  Netral dalam persoalan politik
dan tidak ikut-ikutan dalam persoalan ini. Umpamanya beliau menolak pemberian berupa uang dan
harta karena kepentingan polotik (partai).  Beliau tahan terhadap godaan dunia (wara’).  Sangat
memuliakan para habaib. Setiap tanggal 3-5 beliau membagi beras untuk para janda, habaib atau
yang miskin. Begitu juga pada hari raya. Walaupun beliau bukan turunan habaib tetapi para habib
mengakui beliau sebagai begian dari keluarga habaib (Mulhaq Habaib), karena kecintaannya yang
luar biasa terhadap para habaib. Konon beliau tidak bisa dalam seharipun kalau tidak bertemu
dengan habib, walaupun hanya melihat mukanya. 2. Karya-Karyanya Karya-karya K.H. Muhammad Bakhiet ada yang berupa tulisan yang umumnya diambil dari karya-karya Al Ghazali khususnya Ihya
Ulumuddin, juga ada yang berupa buletin. Disamping itu berbagai kegiatan pengajian telah di
dokumentasikan dan kaset-kasetnya beredar ditengah-tengah masyarakat. Dari kaset inilah pengajian
beliau bisa diakses. Malah salah satu stasion telivisi swasta di Kota Banjarmasin telah
menyiarkan secara berkala pengajian beliau tersebut. Karya beliau yang tertulis antara lain,
yaitu : a. Kitab Ilmu dan Hikmah (Menuju Kesempurnaan Diri) Kitab ini diambil dari karya Al Alim
al Ulamah al Arif bial Allah al Habib Abdullah Ibn Alwi al Haddad, yang ditulis dalam bahasa
Melayu. Kitab ini dicetak dua jilid, jilid pertama berisi 110 halaman, dan jilid II, 88 halaman.
Adapun isi kitab tersebut adalah tentang berbagai prinsip dasar untuk menuju kesempurnaan diri
atau kepribadian yang paripurna. b. Kitâb al-Ikhlâs Kitab al ikhlas ini dikutip dari kitab Ihya
Ulumuddin karangan Iman Abi Hamid Al Ghazali, kemudian dipindah bahasakan kedalam bahasa melayu.
Tulisannya menggunakan huruf Arab Melayu dicetak dan diterbitkan oleh Majelis al Zikir wa al Ta’
lim Nurul Muhibbin Barabai Kalimantan Selatan. Adapun banyaknya halaman berjumlah 120 halaman.
Kitab ini membahas hal-ihwal ikhlas sebagai sikap yang harus dimiliki oleh seseorang untuk
memperoleh kedekatan dengan Allah. c. Kitab Raudhât al –Thâlibîn Kitab ini juga diambil dari
karya Al Ghazali yang dialih bahasakan kedalam bahasa Melayu, dan dicetak dengan huruf Arab
Melayu. Kitab ini terdiri dari dua jilid (dua bagian). Bagian pertama berisi 124 halaman,
sedangkan bagian kedua berjilid 127 halaman. Kitab ini diterbitkan oleh Majelis Ta’lim Nurul
uhibbin Barabai Kalimantan Selatan (tanpa tahun). Isi kitab ini berkenaan dengan masalah rukun
agama, tauhid, tasawuf dan pembersihan diri. d. Kitab al-Tafakkur Kitab al Tafakkur ini diambil
dari kitab Ihya Ulumuddin karangan al Imam Abi Hamid al Ghazali, kemudian dialih bahasakan
kedalam bahasa melayu, dan menggunakan huruf arab melayu. Kitab ini dicetak dan diterbitkan oleh
Majelis Zikir wa Ta’lim Nurul Muhibbin Barabai Kalimantan Selatan. Jumlah halaman kitab ini
sebanyak 119 halaman. Kitab ini berisi hal-ihwal tafakkur, seperti hakikat dan keutamaan
tafakkur, serta cara-cara melakukannya. e. Kitab Al Taubah Kitab ini diambil dari karya Imam
Hujjatul Islam Al Ghazali yang dialih bahasakan ke bahasa Melayu dan menggunakan huruf Arab
Melayu. Kitab ini dicetak dan diterbitkan oleh Majelis Ta’lim Nurul Muhibbin Barabai Kalimantan
Selatan. Kitab ini dicetak dua jilid (dua bagian). Bagian pertama sebanyak 160 halaman, dan
bagian kedua 147 halaman. Kitab ini membicarakan tentang seluk-beluk taubat seperti : pengertian,
hakikat, keutamaan, dan cara melakukan taubat. f. Kitab al-Shalat Isi kitab ini diambil dari
karya Al Ghazali yang dialih bahasakan kedalam bahasa Melayu dan menggunakan huruf Arab Melayu.
Kitab ini diterbitkan oleh Majelis al Zikir wa al Ta’lim Nurul Muhibbin Barabai tanpa tahun.
Kitab ini ditulis sebanyak dua jilid. Jilid pertama terdiri dari tujuh bab dan 139 halaman, dan
jilid kedua sebanyak 132 halaman. Kitab ini berisi tentang keutamaan, hukum, dan pembahasan
tentang berbagai jenis dan aturan shalat. g. Kitab Jalan Keridhaan Ilahi Kitab ini isinya adalah
alih bahasa dari Kitab Minhajal al Abidin karya Al Imam Abi Hamid Muhammad Ibn Muhammad Al
Ghazaly, dibahasakan kedalam bahasa Melayu dengan menggunakan huruf Arab Melayu. Buku ini ditulis
sebanyak lima jilid (lima bagian) . Jilid pertama terdiri dari 114 halaman, jilid kedua 113
halaman, jilid ketiga 111 halaman, jilid keempat 117 halaman, dan jilid kelima 147 halaman. Kitab
ini diterbitkan oleh Majelis Ta’lim Nurul Muhibbin Barabai Kalimantan Selatan. Kitab ini berisi
uraian tentang berbagai perkara yang dihadapi seseorang yang hendak berkhidmad (melayani) dan
beribadah kepada Allah. h. Kitab Adâb Al Kasbi Kitab Adâb al Kasbi ini adalah saduran dari kitab
Ihya Ulumuddin karangan Imam Abi Hamid al Ghazali yang tulis aslinya berbahasa arab, oleh Guru
Bakhied di tulis kedalam bahasa melayu dengan menggunakan huruf Arab Melayu. Kitab ini
diterbitkan oleh Majelis Ta’lim Nurul Muhibbin Barabai, yang banyaknya 131 halaman. Isi kitab
mengenai aturan bermuamalah atau menjalankan kegiatan ekonomi dan bisnis sesuai dengan aturan
ajaran Islam. BAB III PENUTUP A. Simpulan Dari berbagai uraian sebelumnya, maka penelitian ini
dapat disimpulkan sebagai berikut: 1) K. H. Abdul Hamid Karim adalah seorang Ulama besar
dizamannya di daerah Hulu Sungai Tengah. Sebagai alumni Mesir maka masa hidupnya lebih banyak
dicurahkan di dunia pendidikan. Dia adalah tokoh pendiri berbagai lembaga pendidikandi daerahnya,
seperti Madrasah Tsanawiyah Pantai Hambawang dan Madrasah Tsanawiyah Birayang. Dia juga pendiri
organisasi Persatuan Perguruan Islam (PPI). Berbagai jabatan penting pernah juga diraihnya
seperti Pimpinan Madrasah Muallimin, Kepala Kantor Pendidikan Agama Islam. Di samping itu beliau
adalah tokoh perintis Fakultas Tarbiyah IAIN Antasari Barabai (menjabat wakil Dekan I). Terakhir
beliau pernah menjadi Dekan Al Wasliyah (STIT Barabai). Selanjutnya ketika beliau tidak bisa
aktif di lembaga pendidikan formal, ia masih berkiprah memberikan pengajian agama dirumahnya
sendiri untuk masyarakat. Ada sejumlah karyanya antara lain: Risâlah Kasyful Janan al-Hilat wa
al-Mâl al-Dauran, Risâlah fî al-Nikâhati al-Fâsidah, Kifâyat al-’Irfân fî Mabâdi’ al-’Ilm al-
Qur’ân, al-Mazhâhib al-’Arba’ah. 2) K. H. Muhammad Zaini Ghani adalah sosok Ulama kharismatis dan
tidak ada tanding di zamannya. Popularitasnya tidak hanya di kawasan Kalimantan malah ke
mancanegara. Kebesaran beliau tidak kalah dengan datuknya yaitu Syekh Muhammad Arsyad al-
Banjary. Jamaahnya yang mengikuti pengajiannya berjumlah puluhan malah ratusan ribu orang. Dia
dikenal oleh masyarakat karena keluasan ilmunya, akhlaknya, kedermawanannya, gaya bicaranya yang
tenang dan berwibawa sehingga masyarakat merasa sejuk, tenang dan khusyu’ bersama beliau. Oleh
karenanya sebagian besar masyarakat memandangnya sebagai wali Allah. Semasa hidupnya belaiu juga
menulis beberapa karya monumental yang pada umumnya bercorak amaliyah (amalan-amalan), seperti
Risâlah Mubârakah, manaqib al-Syaikh al-Sayyid Muhammad bin ’Abd al-Karîm al-Qâdirî al-Hasanî al-
Sammân al Madanî, al-Risâlah al-Nurâniyyah fî Syarh al-Tawassulât al-Sammâniyah, Nubdzah min
Manâqib al-Imâm al-Masyhûr bi al-Ustâdz al-A’zham Muhammad bin ’Ali Bâ ’alawî , dan al-Imdâd fî
Aurâd Ahl al-Widâd. 3) K. H. Ahmad Bakhiet adalah seorang ulama kharismatis yang mempunyai daya
tarik tersendiri bagi masyarakat di kawasan Hulu Sungai, khususnya dan di Kalimantan Selatan pada
umumnya. Dalam setiap pengajiannya selalu dihadiri oleh puluhan ribu orang. Kiprahnya tidak hanya
sebagai guru Tarikat ’Alawiyah, tetapi akrif juga di berbagai institusi yang di pimpinya seperti
Pondok Pesantren, Majelis Ta’lim, dan Panti Asuhan. Di sela-sela kesibukannya, ia telah
menghasilkan berbagai karya, baik berupa buku, bulletin, dan kaset sebagai media dakwah beliau.
Karya tulisnya antara lain: Kitab al-Shalat, Kitab al-Ikhlash, Kitab al-Tafakkur, Kitab Ilmu dan
Hikmah, Kitab Raudhât al-Thâlibîn, Kitab al-Taubat, Kitab Jalan Keridhaan Ilahi, Kitab ’Adab al-
Kasbi, dan lain-lain. B. Rekomendasi Karena penelitian ini hanya bersifat deskriptif mengenai
sejarah hidup dan karya-karya para ulama, yaitu K. H. Abdul Hamid Karim, K. H. Muhammad Zaini
Ghani, dan K. H. Ahmad Bakhiet, maka sisi lainnya yang lebih fokus dan mendalam dengan berbagai
pendekatan sangat penting dilakukan sebagai penelitian lanjutan. Dengan demikian diharapkan bisa
memberikan informasi ilmiah yang lebih lengkap dan mendalam. (sumber: http://islambanjar.blogspot.com/2012/05/tiga-ulama-banjar.html)

1 comment:

Anonymous said...

bisa info dimana saya bisa beli/peroleh vcd tausiah guru bakhiet?
ahmadr@gmail.com
makasih