Monday, March 11, 2013

Kontraktor Proyek Mesin Es Buron

MARTAPURA - Kasus dugaan korupsi proyek pengadaan mesin balok es dan pengerjaan bengkel Pelabuhan Pendarataan Ikan (PPI) di Kecamatan Aluh-Aluh, Kabupaten Banjar masih terus bergulir. Meski berkas pertama yang ditangani Pidsus Kejari Martapura, terdakwa Nur Hayati, pejabat pembuat komitmen pada Dinas Perikanan dan Kelautan Banjar masih menjalani persidangan di Pengadilan Tipikor Banjarmasin, namun kali ini aparat menyasar tersangka lain, yakni kontraktor proyek, BR. Namun, setelah tiga kali pemanggilan, BR tetap mangkir dan kini dinyatakan buron.

Penetapan buron untuk tersangka BR disampaikan oleh Kasi Pidsus Kejari Martapura, Tri Yulianto SH didampingi dua staf penyidik Budi Mukhlis SH MHum dan Tri Taruna SH dalam jumpa pers dengan wartawan, akhir pekan tadi. Menurut Tri, mereka cukup bukti menetapkan BR yang adalah kuasa direktur CV Asya dan CV Lutfiana Meydatama selaku pelaksana pengadaan dan pengerjaan proyek, di mana proyek sendiri anggarannya senilai kurang lebih Rp5 miliar. Sementara nilai kerugian dari kasus ini menurut BPKP Kalselteng senilai Rp289 juta.

BR yang berusia 40 tahun adalah warga Jl Melati, Bati-Bati, Tanah Laut. Kejari Martapura telah bekerjasama dengan aparat kepolisian untuk mengejar dan menangkap BR. "Kepada warga diharap bantuannya. Jika melihat pria ini untuk segera melaporkannya ke Kejari Martapura, telpon 05114721238 atau ke 085225287778," ungkap Tri. BR sendiri dikenakan pasal 2 (primer) dan pasal 3 (subsider) UU Tipikor serta Jo pasal 55 KUHP.

Selain BR, Kejari Martapura juga telah menetapkan NE sebagai tersangka, sebab NE diduga juga terlibat dalam menerima uang hasil korupsi pada proyek ini. NE sendiri pada saat kejadian 2011 lalu itu adalah pejabat penting di Dinas Perikanan dan Kelautan Banjar. Menurut TRI, dalam fakta baru di persidangan dan hasil penyidikan, NE inilah yang memerintahkan Nur Hayati untuk melakukan pembayaran, meski proyek belum beres.

Kasus ini muncul setelah ada dugaan penyimpangan pembayaran proyek sebesar 100 persen sementara kondisi proyek di lapangan masih 70 persen. Dalam laporan fiktif, pada 15 Desember 2011 lalu, kontiner barang kelengkapan pabrik es dan bengkel datang di Pelabuhan Trisakti. Faktanya, sebagaimana berita acara serah terima kontiner, pada 15 Desember 2011 itu, kontiner telah tiba di Aluh-Aluh, Kecamatan Aluh-Aluh. Bahkan, selain kontiner yang tiba tanggal itu di Trisakti, sebagian barang ada lagi datang ke Trisakti setelah
tanggal tersebut.

Penyimpangan proyek di 2011 ini, terutama pada pembuatan pabrik dan pengadaan peralatan pendukungnya sejumlah 51 item, meski ada juga pembuatan jalan lingkungan seputar pabrik. Proyek dikalkulasi hanya selesai sekitar 40 hingga 50 persen saja, namun keuangan proyek yang dikucurkan ke kontraktor diduga mencapai 70  persen lebih.

Nur Hayati mengakui kalau ia jarang melihat langsung pengerjaan proyek di lapangan. Ia hanya sering terlibat komunikasi via telepon dengan seseorang berinisial RN yang mengaku staf dari kontraktor berinisial BR. Dalam perkembangan di pengadilan, ujar Tri, Nur Hayati membayar pekerjaan setelah ada perintah dari NE. adi

No comments: