Sunday, March 3, 2013

Banjar Terkesan Purwakarta Teguh Pertahankan Budaya

MARTAPURA - Perjalanan studi banding Bagian Humas Setda Banjar ke Pemkab Purwakarta meninggalkan kesan bagi Humas Banjar bahwa Purwakarta di era globalisasi ini masih tetap teguh mempertahankan budaya lokalnya yang asli Sunda.
    Menurut Kabag Humas Setda Banjar Azwar, keseriusan Pemkab Purwakarta, Jabar dalam mempertahankan nilai-nilai budaya setempat, sebagai wujud kearifan lokal yang tentu saja pantas jika menjadi contoh bagi Kabupaten Banjar.    Dari keterangan Asisten Pemerintahan Setda Purwakarta, Dwi Sutrisno, pegawai Pemkab Purwakarta oleh Bupati Purwakarta, Dedi Mulyana, sejak 2008 lalu telah diwajibkan memakai pakaian adat kampret setiap Selasa, Rabu dan Kamis. Para prianya memakai kampret warna hitam-hitam lengkap dengan ikat kepala khasnya. Demikian juga para wanitanya diwajibkan memakai pakaian kebaya warna hitam dipadu renda putih-putih.
    Jika kita berkunjung ke Pemkab Purwakarta di hari-hari itu, maka kelihatan seolah-olah kita sedang berada di masa lalu, karena di setiap instansi, pegawainya lengkap memakai pakaian adat Sunda, kampret dan kebaya.
    Tak hanya itu, untuk murid-murid SD hingga SMP juga diwajibkan memakai kampret dan kebaya setiap hari Rabu. "Bupati kami tak ingin memberatkan, sehingga setiap murid mendapat subsidi Rp75 ribu untuk membeli pakaian khas Sunda ini," terang Dwi.
    Selain itu, di sudut-sudut kota juga dibangun patung beserta taman, dan pendopo-pendopo yang menggambarkan kekhasan Bumi Sunda. Saking banyaknya patung yang ada di Purwakarta, sampai-sampai Bupati Dedi Mulyana digelari 'Bupati Patung'.
    Peninggalan-peninggalan sejarah yang bernilai budaya juga turut dilestarikan, seperti Alun-alun Kiansantang, Pendopo Kabupaten, Situ Buleud, Bangunan Julang Ngapah, Gedung Kembar, dan lain-lain.
    Kekhasan Sunda di Purwakarta tentu saja menjadi daya tarik tersendiri bagi turis-turis mancanegara dan lokal. Anak-anak berbakat seni budaya juga dikembangkan potensinya dengan mengikutsertakannya dalam Safari Budaya, seperti pagaleran tari Jaipong, tari Wilujang Sumping, Genyek maupun Buncis.
    Meski wilayahnya hanya 9 kali luas Bandung, atau sekitar 971,72 Km persegi dengan penduduk kurang lebih 800 ribu jiwa, Purwakarta bisa dibilang cukup sejahtera. Apalagi program-program pembangunan di Purwakarat diupayakan menyentuh langsung ke masyarakatnya, sampai tak ada jalan di kabupaten tersebut yang tak beraspal, meski ke pelosok-pelosok desa sekalipun.
    "Ada program Gempungan di Buruan Urang Lembur yang berarti semua instansi pelayanan terjun langsung ke pelosok-pelosok di tiap hari Sabtu. Pelayanan dibuka kepada masyarakat secara gratis, baik kesehatan, KB, internet masuk desa, Pusling, hingga program listrik gratis masuk desa. adi
  
    

No comments: