Monday, July 2, 2012

Komisi IV Bahas Isu-isu Agama


MARTAPURA - Senin (2/7) kemarin, Komisi IV DPRD Banjar membahas isu-isu keagamaan yang kini berkembang di Kabupaten Banjar

bersama instansi terkait di gedung DPRD Banjar.
    Pangeran Wardiansyah mengatakan, pelaksanaan Perda Jumat Khusyuk masih belum optimal, sehingga pihaknya meminta

Kementrian Agama Kabupaten Banjar proaktif mengimbau pengurus masjid agar mensosialisasikan keberadaan Perda tersebut ketika

hari Jumat, tepatnya ketika pengumuman neraca keuangan masjid.
    "Banyak warga yang belum mengetahui Perda ini. Makanya ke depan kita berharap, eksekutif bisa mengeluarkan pelaksanaan

teknis Perda Jumat Khusyuk, misalnya peraturan bupati agar menunjuk masjid-masjid tertentu di kawasan padat lalu lintas, seperti

sepanjang Jalan A Yani. Nanti aparat teknis, satpol PP kah, remaja masjid atau aparat lain bisa membantu pengamanan jalan guna

kenyamanan jamaah melaksanakan ibadah," beber kyai ini.
    Selain itu, ada hal menarik yang menurut Pangeran Wardiansyah harus diperhatikan dengan serius, masalah isu jual beli

jimat di makam Arifbillah Abdullah, ayah ulama besar Kalimantan, Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari di Desa Lokgabang, Kecamatan

Astambul.
    "Kita dengar kalau ada jual beli jimat di kompleks makam itu yang dilakukan oleh oknum tertentu. Jimat tersebut

diperlihatkan di rapat komisi yang diduga berisi kembang atau batu atau tanah yang diduga lagi berasal dari makam tersebut,"

cetusnya.
    Menurutnya, pihaknya akan ke lokasi guna memberikan penerangan agar masalah seperti ini tidak sampai meresahkan

masyarakat.
    Sementara anggota Komisi IV, H Jamhari HS dengan tegas menyesalkan terjadinya praktik jual beli batu, tanah dan kembang

dari makam ayah Datu Kalampayan di Lokgabang tersebut. "Ini bisa meresahkan masyarakat, karena sudah ada yang membeli 25 ribu

rupiah bahkan ada yang saya dengar sampai Rp500 ribu," paparnya.
    Menurut guru agama ini, keluarganya ada menemukan sendiri praktik tersebut, di mana ketika ziarah bersama 24

rombongan, lima di antaranya dipanggil oleh oknum tertentu sambil menawarkan jimat yang katanya bisa untuk pasugihan, murah

jodoh atau murah rezeki. "Ketika saya buka isi jimat tersebut yang dibawa oleh salah seorang keluarga saya, ternyata isinya itu. Memang

seperti ada praktik penjualan bagian makam tersebut yang ditawarkan secara diam-diam kepada peziarah," ungkapnya prihatin.
    Menurutnya, jika masyarakat tak berhati-hati dengan praktik tersebut, bisa mengarah kepada syirik dan hal ini mesti segera

ditanggulangi. adi

No comments: