Sunday, June 10, 2012

Tersangka Korupsi Pabrik Es Bukan Hanya NH


MARTAPURA - Seiring bergulirnya penyidikan kasus dugaan korupsi di Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Banjar yang sudah

menetapkan  seorang pejabatnya sebagai tersangka, yakni NH, Kejari Martapura melalui Seksi Pidana Khusus bakal membidik tersangka

lainnya. Hal ini sangat dimungkinkan, mengingat proyek pembangunan pabrik es di Pelabuhan Pendaratan Ikan Aluh-Aluh Kecamatan

Aluh-Aluh ini senilai Rp5 miliar ini diduga melibatkan beberapa orang.
    Minggu (10/6), Kasi Pidsus Kejari Martapura, Agung SH menerangkan, penyidikan masih berjalan, dan sampai saat ini,

pihaknya baru menetapkan NH sebagai tersangka. NH adalah Kabid Kelautan dan Sumber Daya Air pada Dinas Perikanan dan Kelautan

Kabupaten Banjar.
    "Pada proyek senilai Rp5 miliar ini, NH merupakan pejabat pembuat komitmen (PPK), sehingga kita duga sangat

bertanggung-jawab terhadap pelaksanaan proyek," tegas Agung.
    Menurutnya, penyimpangan proyek di 2011 ini, terutama pada pembuatan pabrik dan pengadaan peralatan pendukungnya

sejumlah 51 item, meski ada juga pembuatan jalan lingkungan seputar pabrik. Proyek dikalkulasi hanya selesai sekitar 40 hingga 50

persen saja, namun keuangan proyek yang dikucurkan ke kontraktor diduga mencapai 70  persen lebih.
    "Ini bagian strategi penyidikan, yakni kita tetapkan dahulu pejabat yang bertanggung-jawab pada proyek ini sebagai

tersangka. Nanti, tidak menutup kemungkinan akan ada pihak lain yang akan kita tetapkan sebagai tersangka," paparnya mantap.
    Sementara itu, NH yang berhasil diwawancarai ternyata mengaku tidak banyak tahu tentang perkembangan proyek yang

menjadi tanggung-jawabnya itu. Ia misalnya, tak mengetahui kalau proyek tersebut di-sub-kan lagi hingga tiga kali.     Menurut

informasi, perusahaan yang terlibat dalam proyek ini adalah Utreo, Arsya dan Lutfia Ana Mediatama.
    "Proyek yang dikerjakan sesuai kemampuan. Masalah yang sudah terjadi dan terlanjur ke kejaksaan, ya menunggu proses

selanjutnya. Saya menghormati proses hukum yang berjalan," ujar wanita yang mengaku baru kali pertama berurusan dengan proyek

ini.
    NH mengaku, pembayaran dana proyek kepada kontraktor berdasarkan kemajuan proyek yang dilaporkan oleh konsultan

pengawas. "Kami membayar sesuai dengan kemajuan pekerjaan sebagaimana dilaporkan oleh konsultan pengawas," katanya.
    Uniknya, NH mengaku tak melihat secara langsung atau detil, 51 item perlengkapan pabrik es yang dibawa kontraktor. "Saya

hanya melihat kontainer berisi perlengkapan ketika tiba di pelabuhan," ungkap NH polos.
    Begitu juga ketika kontainer perlengkapan yang semestinya didaratkan di Aluh-Aluh ternyata tiba di Pelabuhan Trisakti. "Saat

itu kontraktornya mengatakan kalau barang terpaksa didaratkan di Pelabuhan Trisakti karena cuaca buruk sedang melanda Aluh Aluh.

Ini jugalah yang menjadi alasan pekerjaan proyek tak tepat waktu sehingga mesti di-addendum sekali 19 Desember 2011, di mana

pekerjaan dimulai September 2011," jelasnya. Proyek ini sejatinya berjalan 90 hari dan akibat sesuatu hal maka ditambah 18 hari.
    NH mengakui kalau ia jarang melihat langsung pengerjaan proyek di lapangan. Ia hanya sering terlibat komunikasi via

telepon dengan seseorang berinisial RN yang mengaku staf dari kontraktor berinisial BR. RN pun dari informasi panik dan grasak-

grusuk sejak akhir Mei lalu, begitu pihak kejaksaan melakukan penyitaan terhadap 51 item perlengkapan pabrik es yang diduga

menjadi alat bukti penyimpangan proyek miliaran rupiah ini. adi
    

No comments: