Monday, June 18, 2012

Konsultan Pengawas Proyek Pabrik Es Diperiksa


MARTAPURA - Kejari Martapura khususnya aparat Seksi Pidsus masih berupaya meminta keterangan dari konsultan pengawas proyek

pabrik es di Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Aluh-Aluh. Kasus dugaan korupsi pada proyek yang dilaksanakan 2011 lalu itu yang

sudah menetapkan NH, pejabat di Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Banjar ini masih berkutat pada pemeriksaan sejumlah

saksi.
    "Kami masih akan meminta keterangan dari Masudah ST, Direktur PT Rekons Cipta Bina Air yang menjadi konsultan pengawas

proyek ini. Adapun yang akan kita ketahui, apa saja dasar sehingga konsultan pengawas berani merekomendasikan pembayaran termin

proyek sebesar 70 persen, sementara kemajuan fisik yang diperiksa tim independen Unlam cuma 40 sampai 50 persen," tukas Kasi

Pidsus Kejari Martapura, Agung Pamungkas SH MH, baru-baru ini.
    Diakui Agung, sebenarnya dari pihak konsultan pengawas sudah ada yang dimintai keterangan, namun hanya perwakilan PT

Rekons Cipta Bina Air, yakni Asniansyah. Namun, keterangan yang diperlukan justru dari direktur perusahaan tersebut. Mengenai

materi keterangan, Agung mengatakan bahwa pihaknya ingin mengetahui apakah benar konsultan pengawas memberikan rekomendasi

atau telah memeriksa fisik proyek sudah berjalan 70 persen ataukah bagaimana. "Sebab dari sinilah dasar untuk membayar termin

proyek," cetusnya.
    Di samping itu, pada pemeriksaan Kamis (14/6) lalu, Kejari juga telah meminta keterangan dari pejabat di Pelindo III Cabang

Banjarmasin, Syahrial Marzuki. "Dari beliau kita ingin mengetahui apakah benar pada 15 Desember 2011 lalu, kontiner barang

kelengkapan pabrik es dan bengkel datang di Pelabuhan Trisakti," bebernya.
    Meski faktanya, sebagaimana berita acara serah terima kontiner, pada 15 Desember 2011 itu, kontiner telah tiba di Aluh-Aluh,

Kecamatan Aluh-Aluh. "Bahkan, selain kontiner yang tiba tanggal itu di Trisakti, sebagian barang ada lagi datang ke Trisakti setelah

tanggal tersebut," ujarnya.
    Seiring bergulirnya penyidikan kasus dugaan korupsi di Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Banjar yang sudah

menetapkan  seorang pejabatnya sebagai tersangka, yakni NH, Kejari Martapura melalui Seksi Pidana Khusus bakal membidik tersangka

lainnya. Hal ini sangat dimungkinkan, mengingat proyek pembangunan pabrik es di Pelabuhan Pendaratan Ikan Aluh-Aluh Kecamatan

Aluh-Aluh ini senilai Rp5 miliar ini diduga melibatkan beberapa orang.
    Minggu (10/6), Kasi Pidsus Kejari Martapura, Agung SH menerangkan, penyidikan masih berjalan, dan sampai saat ini,

pihaknya baru menetapkan NH sebagai tersangka. NH adalah Kabid Kelautan dan Sumber Daya Air pada Dinas Perikanan dan Kelautan

Kabupaten Banjar.    "Pada proyek senilai Rp5 miliar ini, NH merupakan pejabat pembuat komitmen (PPK), sehingga kita duga sangat

bertanggung-jawab terhadap pelaksanaan proyek," tegas Agung.
    Menurutnya, penyimpangan proyek di 2011 ini, terutama pada pembuatan pabrik dan pengadaan peralatan pendukungnya

sejumlah 51 item, meski ada juga pembuatan jalan lingkungan seputar pabrik. Proyek dikalkulasi hanya selesai sekitar 40 hingga 50

persen saja, namun keuangan proyek yang dikucurkan ke kontraktor diduga mencapai 70  persen lebih.
    NH mengakui kalau ia jarang melihat langsung pengerjaan proyek di lapangan. Ia hanya sering terlibat komunikasi via

telepon dengan seseorang berinisial RN yang mengaku staf dari kontraktor berinisial BR. RN pun dari informasi panik dan grasak-

grusuk sejak akhir Mei lalu, begitu pihak kejaksaan melakukan penyitaan terhadap 51 item perlengkapan pabrik es yang diduga

menjadi alat bukti penyimpangan proyek miliaran rupiah ini. adi
    

No comments: