Thursday, April 5, 2012

Mahasiswa STIKIP Banjarbaru Bunuh Rekan Sendiri




Mahasiswa STIKIP Banjarbaru Bunuh Rekan Sendiri
MARTAPURA - Keterlaluan dan tega pantas disematkan buat Safwani alias Isap (26). Mahasiswa STIKIP Banjarbaru ini

tega menghabisi rekan almamaternya, Noor Fadilah (22) hanya karena tergiur ingin menguasai motor korban, Honda

Spacy. Ia pun dibekuk aparat Sat Reskrim Polres Banjar, Kamis (5/4) sekitar pukul 10.00 Wita. Dua timah panas

menembus paha dan betis kirinya karena tersangka coba melawan petugas.
Usai menjalani operasi mengeluarkan proyektil di RSUD Ratu Zalekha, tersangka, warga Astambul Kota RT 2,

Kecamatan Astambul ini dengan gamblang mengakui, ia lebih dari sepuluh kali memukuli kepala korban, hanya karena

ingin menguasai motor milik korban. Tersangka memukuli korban dengan kayu ulin.
"Saya sebenarnya hanya ingin menguasai dan memiliki motor dia. Saya bunuh dengan cara memukuli kepalanya,

lebih dari sepuluh kali," kata Isap dengan nada lemah, karena menahan sakit di kakinya. Isap adalah honorer di

perspusatakan sebuah madrasah Al Irsyad di Sungai Tuan, Astambul, lokasi ditemukannya jasad korban pada Rabu

(4/4) malam sekitar pukul 20.00 Wita.
Ayah korban, Noor Hasim (44), warga Jalan Sekumpul Ujung RT 1 RW 8, Kelurahan Sekumpul, Martapura mengaku

sama sekali tak menyangka kalau nasib anak sulungnya itu menjadi begitu. "Saya sempat mencari-cari dia ke mana-

mana, namun tidak ketemu juga. Pas pagi ini saya mendapat kabar dari polisi, kalau anak saya sudah ditemukan

namun sudah tak bernyawa," katanya sedih di depan kamar jenazah RSUD Ratu Zalekha Martapura. Hasim sendiri

dikabarkan via telpon, ketika sedang berada di lokasi tambang di Sungai Danau.
Menurut Hasim, anak sulungnya itu sebenarnya seperti putri lainnya, tidak ada yang luar biasa dalam

kesehariannya. "Cuma memang ada firasat karena beberapa hari terakhir sering marah-marah tanpa sebab, baik kepada

adik-adiknya maupun kepada ibunya," terangnya.
Pada Senin (2/4) sore, Faridah pamit hendak ke tempat temannya untuk mengerjakan skripsi. "Tak ada ia

menyebutkan siapa teman yang hendak ia kunjungi. Namun, sebelum berangkat ia kami titipi uang Rp100 ribu,

sekalian untuk membelikan adiknya es krim. Namun, sampai malam, ia tak juga kembali. Padahal, tak biasanya ia

pergi dari rumah dan menginap. Ia selalu pulang," ungkap sang ayah.
Sejak tak pulang, sang ayah bersama anggota keluarga lainnya mencari keberadaan Faridah, baik ke tempat

temannya maupun ke kampusnya, namun tak juga ditemukan.
Namun, Rabu (4/4) sore, ada SMS dari nomor milik Faridah 089692128945 ke Hp ibunya, selain itu mellaui

nomor tak dikenal 05116361373 yang isinya menjelaskan kalau Faridah sudah pergi ke Palangkaraya, Kalteng, ingin

bekerja, karena sudah tak ingin pulang ke rumah.
"Namun, kami curiga, nomor itu bukan Faridah yang menggunakannya, karena memang tidak ada masalah dia di

rumah. dari situ, kami curiga, kalau Faridah hilang, sehingga kami meminta bantuan polisi mencari dia," jelasnya.
Hasim mengaku pasrah setelah tahu anaknya meninggal, dan meninggalnya kemungkinan sudah tiga hari,

karena sudah mengeluarkan bau yang kurang sedap. Di kepala korban terdapat luka akibat pukulan. Dari informasi,

ada 17 pukulan di kepala korban.
Sementara, Kapolres Banjar AKBP Dwi Ariwibowo didampingi Kasat Reskrim AKP Wildan Alberd membenarkan

bahwa telah ditemukan korban beserta tersangkanya. Menurutnya, korban ditemukan oleh warga setempat yang

kebetulan mencium bau kurang sedap dekat perpustakan Madrasah Al Irsyad Sungai Tuan, Astambul, Rabu (4/4) sore.
Setelah penemuan, korban dibawa ke RSUD ratu Zalekha untuk divisum. Berkat penelusuran tim Buser, maka

diketahui bahwa korban sebelumnya terlihat dengan Isap, petugas perpustakan setempat. Kamis (5/4) pagi, dilakukan

penangkapan. Namun, tersangka melakukan perlawanan kepada petugas, sehingga petugas terpaksa melumpuhkan

tersangka dengan timah panas.
Tersangka saat ini ditahan di Polres banjar dan dikenakan pasal 339 atau 365 KUHP dan 285 KUHP dengan

ancaman hukuman 20 tahun penjara.
Adapun bunyi SMS yang seolah-olah dari korban berbunyi 'Ver, ne aq dila...tlonk lah aq mhon, sampaikan

wdh ortu ku ikam stumat k'rumah. mngkin qm tau ja mslahx nanti..ne aq d'palangkaraya 4 wan kwan. aq hdk mnetap

d'sna wan kwan q. sljur bgwi..mun kuliah bisa terminal dlu nah...aq smlm bpdah mnggwi skripsi tulakx wan org

d'rmah q. tlongi lah kena sms aq. ne no kwan q. HP q pribadi aq jual buat ongkos. mksih ne sdh 3 hr d'sna. pdhi

aq baik" ja tu..thx dila. pdhi jua wan kwnan brelaan N mhon doax tu, via sms jin klo d'forward..insya Allah bulan

agustus pulng. ne no qm ja nah ad sautingx sayai d'buku btulisan jd tlongai lahh..save ja no ne. kendaraan SPACY

juga aman tu. aq mauk d'rumah aq d'no 2 kan oleh ortuQ sorang bik aq merantau k'negeri org. I LOVE U all pintakan

no mama q lah? mlm nie hdk telpon sdin tu.' adi


foto-foto...

1. ayah korban, Noor Hasim di depan kamar jenazah...
2. foto2 tersangka yang lagi dirawat di IGD
3. Kapolres Banjar AKBP Dwi Ariwibowo

3 comments:

supiansyah Darham said...

ini keterlaluan harusnya d hukum mati nantinya

shuni said...

ana bos ae kasian bnr jw wan bbiniannya, mudahn ix dtrima olh Allah SWT. Amin. Ralat bos lh. MtsN x kd al irsyad lg, tp sdh b ubh jd mtsn astambul.

Anonymous said...

bukannya hasil visum menunjukkan korban diperkosa?