Monday, December 26, 2011

Oknum Polresta Ciderai Rasa Kemanusiaan

BANJARMASIN © Oknum Polresta Banjarmasin dinilai tak menghargai
rasa kemanusiaan, karena tak mengizinkan seorang tahanan yang hanya
ingin menjenguk ibundanya yang sudah meninggal untuk terakhir
kalinya.
Á ÁSyaifullah, warga Kampung Melayu Gg Gotong Royong RT 2
mengetahui dari kerabatnya kalau ibunda tercintanya, Jumantan binti
Jafri (96) meninggal dunia. Namun, tahanan Unit II Sat Narkoba
Polresta Banjarmasin, Minggu (25/12) kemarin itu tak diizinkan
oknum polisi untuk melayat.
Á ÁBahkan, sempat terjadi kericuhan antara keluarga tahanan
dengan oknum polisi, akibat oknum Polresta seperti melecehkan
jenazah. Penyebabnya, seorang oknum Unit II diduga mengucapkan,
"Mana mayatnya? Sudah dibawa ke sini kah?," kepada ahli waris yang
juga saudara Syaifullah saat mengajukan permohonan bon tahanan
untuk ke rumah duka sebelum jenazah dimakamkan.
Á ÁSejumlah keluarga tahanan tak terima ucapan yang dinilai sudah
tak berprikemanusiaan itu. Karena tidak pernah ada sejarahnya,
apabila ada keluarga dari tersangka yang meninggal dunia,
jenazahnya dihantarkan ke sel tahanan hanya sekedar untuk melihat
terakhir kalinya. "Selama ini, Syaiful lah yang merawat ibundanya
yang sudah berusia uzur sebelum berurusan dengan hukum seperti ini.
Belakangan setelah tertangkap, sudah selama empat bulan mereka
terpisah, apakah salah untuk terakhir kalinya sebelum almarhumah
dimakamkan, Syaiful memanfaatkan haknya sebagai warga negara
Indonesia yang meski dalam tahanan untuk melihat dan mencium orang
yang melahirkannya sebelum dimasukkan ke liang lahat," ucap Herman,
salah satu keluarga Syaiful kepada wartawan, Senin (26/12) kemarin
di Mapolda Kalsel.
Á ÁMenurut Herman, oknum Unit II Sat Narkoba Polresta Banjarmasin
yang di antaranya berinisial Aiptu MJ, Bripka NH, dan beberapa
anggota lainnya, dengan segala cara menolak permohonan keluarga
yang kabarnya sudah mendapat izin dari Kasat Narkoba Polresta
Banjarmasin Kompol Christian Rony.
Á Á"Semua prosedur kami ajukan, bahkan kami juga dibantu rekan
kami di Mapolda Kalsel untuk memohon ke Kasat Narkoba, tapi kenapa
penolakan penyidik Unit II seperti ini," ungkapnya menyesalkan.
Á ÁBahkan, lanjut Herman, ada lagi celetukan oknum yang tak enak
didengar, meski kerabat tahanan menjelaskan bahwa sudah ada restu
dari perwira menengah di Polda. "Jangankan AKBP, jenderal saja
tidak bisa," tiru Herman.
Á ÁMenurutnya, semestinya dengan alasan kemanusiaan, tahanan
boleh saja melayat jenazah orang dekatnya, apalagi itu ibunda
tahanan. "Meski dia diborgol atau dikawal banyak polisi kami tak
keberatan. Tapi sudahlah tak memberi izin, kata©kata oknum begitu
menyakitkan," cetusnya. "Seolah©olah Syaiful adalah tersangka
teroris paling berbahaya di dunia, benar©benar tidak manusiawi dan
sangat jauh dari Polmas," kecamnya.
Á ÁHanya tangisan duka mendalam yang hanya bisa dilakukan Syaiful
dari balik jeruji besi Rutan Polresta Banjarmasin. Selain tidak
berkesempatan melihat ibunda tercintanya untuk terakhir kalinya,
dirinya juga menderita bathin karena jenazah ibunya mendapat
perlakuan atau hinaan seperti itu oleh oknum Unit II Sat Narkoba
Polresta Banjarmasin. Ô h) 0*0*0*° ° ÔŒÁ ÁSementara itu Kapolda Kalsel Brigjen Pol Syafruddin melalui
Pjs Kabid Humas Polda Kalsel AKBP Aby Nursetyanto menyayangkan
sampai muncul ricuh seperti itu. "Memang penyidik memmiliki
wewenang, namun juga mesti mengedepankan rasa kemanusiaan, terlebih
saat tahanan sedang berduka ditinggalkan orang yang paling
disayanginya," ungkap Aby prihatin. adi

No comments: