Tuesday, November 1, 2011

Banyak Faktor Sebabkan Rusaknya Bunati

BANJARMASINÄ Ä © Tim peneliti Unlam Banjarmasin yang diketuai Dr Ir M
Ahsim Rifai MSi telah mengadakan penelitian kawasan Pantai Bunati,
Kecamatan Angsana, Kabupaten Tanah Bumbu (Tanbu). Penelitian yang
dilakukan 14 ahli sejak Juni 2011 hingga Oktober 2011 ini
menyimpulkan bahwa kerusakan terumbu karang dan tercemarnya air di
kawasan itu tidak serta merta akibat adanya pelabuhan khusus
(Pelsus).
Á ÁMenurut salah seorang anggota tim, Hasim yang ahli dalam soal
pergerakan laut, terumbu karang dan kualitas air, kawasan Bunati
memang tercemar.
Á ÁPencemaran bisa terdeteksi dengan adanya sejumlah logam berat
seperti Cd, Cr, Pb, Cu dan Zn di kawasan itu yang melewati ambang
baku mutu, terutama di dekat Pelsus.
Á ÁTanda lainnya terlihat pada macro bentos atau makhluk hidup di
dalam air yang semakin berkurang. Selain itu, perkembangan terumbu
karang yang terhambat akibat kekeruhan air yang menghalangi sinar
matahari.
Á Á"Namun, hal ini bukan berarti dengan keberadaan Pelsus itulah,
pencemaran terjadi, sebab ada banyak faktor seperti akibat
penambangan di kawasan hulu Sungai Danau yang kebetulan bermuara di
Bunati yang menyebabkan sedimentasi di kawasan Bunati. Begitu juga
aktivitas perkebunan kelapa sawit yang marak di kawasan daratnya,"
cetusnya.
Á ÁDitambahkan anggota lainnya, Bakar, kegiatan Pelsus seperti
Borneo Indo Bara (BIB), Berkat Borneo Coal (BBC) dan Tunas Inti
Abadi (TIA) yang baru berjalan beberapa tahun, tentunya juga
berdampak pada lingkungan Bunati. Apalagi jika proses loading
batubara tidak menggunakan kondom yang melokalisir debu batubara.
Á Á "Namun, jangan lupa, aktivitas penambangan di kawasan hulu
Sungai Danau, perkebunan kelapa sawit di darat, termasuk aktivitas
kapal pengangkut batubara dan kelapa sawit yang tidak mengindahkan
jalur aman Pantai Bunati, tentu turut berpengaruh. Sementara,
aktivitas penambangan di kawasan hulu, sudah berlangsung sejak
1995, tentu ini sudah menyumbang sedimentasi dan pencemaran di
Pantai Bunati," bebernya.
Á ÁFaktor sedimentasi ini diperparah kerap terjadinya banjir
besar di kawasan hulu Sungai Danau, seperti di Sekapuk, Satui dan
Sebamban. Air banjir membawa logam berat termasuk bahan dasar pupuk
seperti fosfat larut ke Pantai Bunati.
Á ÁFaktor lain, tambahnya, memang di landaian pantai hingga dasar
air, kawasan Pantai Bunati memang terdapat potensi batubara
dangkal, sehingga hal ini juga turut menyumbang pengurangan
kualitas air Bunati.
Á ÁDitambahkan Bakar lagi, kawasan Pantai Bunati sendiri berdasar
RTRW Tanbu adalah kawasan budidaya. Sementara, sejumlah kalangan
menginginkan Pantai Bunati yang banyak menyimpan terumbu karang
yang berguna bagi makhluk hidup dan kelangsungan nelayan menjadi
kawasan konservasi, apalagi di Pantai Bunati dijadikan sarang
bertelur bagi penyu yang termasuk hewan laut dilindungi.
Á Á"Tinggal bagaimana kebijakan pemerintah kabupaten, provinsi
hingga pusat, mau dijadikan kawasan apa Pantai Bunati itu. Apakah
tetap untuk Palsus atau menjadi konservasi," ungkapnya.
Á ÁMeski demikian, lanjut Ahsim Rifai, tim tidak melihat secaraÔ h) 0*0*0*° ° Ô gamblang kalau pencemaran diakibatkan adanya Pelsus. "Banyak
faktor, dan masih perlu penelitian yang panjang. Apalagi sebelumnya
tidak ada penelitian yang bisa kami jadikan bahan pembanding,"
ucapnya.
Á ÁSedangkan pakar hukum, Arif SH yang juga anggota tim peneliti
menerangkan, secara internasional, memang terumbu karang termasuk
makhluk laut yang dilindungi. "Cuma, Indonesia belum meratifikasi
perjanjian internasional tersebut. Sehingga menurut hemat kami,
dari segi hukum tercemarnya terumbu karang tidak bermasalah,"
imbuhnya. Ã Ãadi

No comments: