Tuesday, July 26, 2011

Pengacara Lilik Lapor Ke Mabes Polri

BANJARMASINÄ Ä © Ketidakseriusan aparat Polda Kalsel dalam mengungkap
dalang pembunuh Hadriansyah, seorang guru di SDN Sarigadung,
Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Tanah Bumbu (Tanbu), membuat
pengacara Petrus Manampiring SH melaporkan hal tersebut ke Div
Propam Mabes Polri.
Á ÁKepada à ÃMata BanuaÄ Ä, beberapa waktu lalu, Petrus yang
mendampingi istri korban, Lilik Dwi Purwaningsih (52) mengatakan,
sudah ada gelagat mencurigakan dari aparat Polda Kalsel yang
menyelidiki kasus tersebut.
Á Á"Katanya tidak cukup data dan bukti permulaan yang cukup untuk
memproses kasus tersebut. Ini kan sudah mengada©ngada. Saksi ada,
hanya tinggal polisi saja yang mengembangkannya," kata pengacara
asal Surabaya ini.
Á ÁMenurut Petrus, data©data dan keterangan saksi sebenarnya
sudah disampaikan kepada aparat, hanya saja menurutnya memang ada
faktor lain, sehingga seolah©olah aparat kekurangan bukti.
Á Á"Untuk melengkapi data dan membongkar fakta yang sebenarnya
itu kan tugas aparat kepolisian. Apa gunanya ada polisi. Apa
gunanya masyarakat menggaji polisi kalau segala sesuatunya selalu
dibebankan kepada masyarakat penmcari keadilan," tandasnya.
Á ÁPengacara yang mengaku tidak meminta bayaran dari istri korban
demi tegaknya keadilan ini menyatakan, pihaknya telah mengadukan
persoalan mandegnya penanganan kasus ini ke Div Propam Mabes Polri.
Á ÁSebelumnya, Lilik Dwi Purwaningsih (52), istri almarhum
Hadriansyah, korban pembunuhan di SDN Sarigadung, Desa Sarigadung,
Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Tanbu, Senin, 9 Februari 2004,
menghadiri undangan Sat IV Dit Reskrim Polda Kalsel, Kamis (7/4)
lalu.
Á ÁLilik menjalani pemeriksaan selaku saksi kasus tersebut oleh
penyidik. Lilik sendiri mengaku melihat kejadian saat suaminya itu
dikejar©kejar oleh para pelaku pembunuhan.
Á ÁDikonfirmasi, Dir Reskrimsus Kombes Pol Mas Guntur Laope
mengakui kalau pihaknya kini sedang berupaya mengumpulkan
keterangan para saksi dalam kasus lama yang kini dilaporkan oleh
keluarga korban dengan disertai bukti©bukti baru.
Á ÁGuntur menerangkan, dalam versi penyidik Polres Tanbu, Sam
alias HI tidak terlibat karena tidak menyuruh anak buahnya
menghabisi Hadriansyah. Bahkan HI saat kejadian, sedang mencari
mobil tanki penyiram jalan tambang. Ketika kembali sehabis mencari
mobil tanki, peristiwa itu terjadi. Tembakan dari pistol HI juga
dijelaskan sebagai upaya melerai pengeroyokan.
Á ÁNamun, hal itu sebagaimana versi investigasi wartawan senior
X©Kasus, Gusti Suriansyah BSc sangat berbeda. HI diduga kuat
mengupah anak buahnya untuk menghabisi korban. Bahkan, tembakan
yang dilakukan HI diduga untuk menghalau warga dan memberi kode
agar anakbuahnya segera menuntaskan tugasnya.
Á ÁSelain itu, berdasar testimoni pelaku, M Aini alias Culin yang
direkam Suriansyah, Culin menyebutkan kalau dirinya memang disuruh
HI untuk menghabisi Hadriansyah. Bahkan, selepas menunaikan tugas
jahat itu, Culin mendapat upah puluhan juta dari HI.
Á Á"Nah, mengenai masalah upah ini, Culin dalam laporannya ke
Polres Tanbu baru©baru ini mengatakan, ia terpaksa mengatakan hal
yang sebenarnya tidak benar itu karena ada tekanan dari lawanÔ h) 0*0*0*° ° Ô bisnis HI," beber Guntur. Á À À ( Á
Á ÁMemang ada dua pelaku yang sudah dihukum atas kasus tersebut,
namun, M Aini alias Culin (29), warga Desa Sungai Paring, Kecamatan
Simpur, HSS serta HM Ardi alias Babar (46), warga Jl A Yani No 51
RT 1 Desa Karasikan Kecamatan Sungai Raya, HSS, cuma dihukum oleh
Pengadilan Negeri (PN) Kotabaru masing©masing empat bulan dan tiga
bulan tujuh hari.
Á ÁHukuman yang diterima para pembunuh itu hampir sama dengan
hukuman yang diterima seorang maling ayam. Ironisnya, hakim ketua,
Max Nandoko Rohi SH dan anggota masing©masing Budi Aryono SH dan
Nyoto Hindaryanto SH berpatokan pada pasal 170 ayat (2) ke©3 KUHP
serta pasal 351 ayat (2) KUHP jo pasal 55 KUHP.
Á ÁKejadian pembunuhan yang menggemparkan masyarakat setempat dan
diduga diotaki oleh oknum pengusaha batu bara Sam alias HI ini,
disayangkan hanya menjerat dua orang pelaku. Ketidakadilan hukum
ini terjadi ketika Polres Tanbu dipimpin oleh AKBP Ike Edwin dan
Polda Kalsel dipimpin Brigjen Dody Sumantyawan..
Á ÁHadriansyah yang yang menjadi korban, mulanya memimpin unjuk
rasa masyarakat karena jalan tambang milik HI tidak juga disiram,
meski cuaca panas dan berdebu. Korban yang guru olahraga SD ini
merasa prihatin anak didiknya yang kebetulan berdekatan dengan
lokasi jalan tambang, menghirup debu jalan.
Á ÁPendemo kala itu, lanjut Gusti, hanya ingin jalan itu disiram
sehari dua kali atau setidaknya sekali sehari, sehingga bisa
mengurangi debu jalan.
Á ÁHanya saja, unjuk rasa itu dianggap HI dan anak buahnya
sebagai sebuah tantangan, sehingga korban dihabisi oleh para pelaku
yang diduga diotaki atau disuruh HI.
Á ÁHI sendiri dalam wawancara dengan Tempo membantah habisªhabisan soal keterlibatannya dalam kasus tersebut. Ã Ãadi

No comments: