Tuesday, July 19, 2011

Korupsi PLN Tanjung Tahap II

BANJARMASIN Ä Ä© Berkas kasus dan tersangka dugaan korupsi di PLN
Tanjung kini memasuki tahap II, yakni penyerahan berkas dan
tersangka dari penyidik ke penuntut umum. Proses tahap II
dilaksanakan di Kejati Kalsel, Rabu (19/7) hari ini.
Á ÁSelasa (18/7), Kasi Penkum dan Humas Kejati Kalsel Rajendra SH
didampingi Kasi Penyidikan Pidsus Agus Suroto SH MH membenarkan
bahwa dua tersangka, yakni Pasido, Manajer ranting PLN Tanjung dan
Abdul Halim, supervisor, akan diserahkan penyidik ke jaksa penuntut
umum (JPU).
Á ÁKedua tersangka yang diduga terlibat gratifikasi sebagaimana
diatur dalam UU No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor
belum dipastikan apakah akan ditahan atau tidak.
Á Á"Mengenai apakah akan ditahan atau tidak, dilihat
perkembangannya dulu. Jadi belum dipastikan," beber Agus.
Á ÁSebelumnya, Kamis (30/6), berkas kasus dugaan korupsi PLN
Tanjung sudah penyerahan tahap I, yakni berkas disampaikan kepada
tim jaksa peneliti, guna diteliti sejauh mana kelengkapan berkas.
Mungkin saja masih ada yang kurang dan mesti dipenuhi lagi oleh
penyidik.
Á ÁKasus ini menyeret manajer ranting PLN Tanjung, Pasido dan
supervisor Abdul Halim sebagai tersangka. Modus penyimpangan yakni,
kedua orang ini menerima gratifikasi dari warga calon pelanggan
PLN.
Á ÁKeduanya diduga memungut biaya pemasangan listrik baru di luar
ketentuan yang ada. "Semestinya, tiap pemasangan listrik baru,
warga cuma dikenakan biaya sekitar Rp200 ribuan. Cuma dalam
praktiknya, mereka memungut lebih besar sekitar Rp250 ribu hingga
Rp300 ribuan. Korbannya cukup banyak sekitar 200 orang," cetusnya.
Sementara, diduga kerugian pelanggan akibat perbuatan tersangka
mencapai Rp800 juta.
Á ÁMenurut Agus, dalam penyidikan, pihaknya tidak menemui kendala
yang berarti, mengingat bukti©bukti cukup kuat, ditambah kesaksian
dari 24 instalatir, plus warga yang dirugikan.
Á ÁSementara itu, untuk kasus korupsi di Pelindo III Kotabaru,
penyidik memilih wait and see, karena perkara pertama, para
terdakwa dibebaskan oleh Pengadilan Negeri (PN) Kotabaru. "Sambil
menunggu putusan kasasi dari Mahkamah Agung (MA), terhadap para
terdakwa kasus pertama, maka kasus kedua yang melibatkan
Fatizanolo, mantan petinggi Pelindo III Kotabaru kita pending
dulu," paparnya.
Á ÁNamun, karena Fatizanolo tidak pernah hadir dalam pemeriksaan
dan diduga menghilang, maka kejaksaan sudah menetapkannya sebagai
buronan. Penyimpangan diduga terjadi pada pungutan kepada kapalªkapal yang sandar di pelabuhan tak sesuai ketentuan.
Á ÁSementara itu, Kejati Kalsel juga hampir merampungkan berkas
kasus dugaan korupsi pada proyek lanjutan Pusat Pelelangan Ikan
(PPI) di Desa Aluh Aluh, Kecamatan Aluh Aluh, Kabupaten Banjar yang
diduga merugikan keuangan negara sekitar Rp200 juta.
Á ÁDari kasus proyek yang bernilai sekitar Rp800©an juta itu,
Kejati Kalsel menetapkan empat orang sebagai tersangka, masingªmasing MI alias Isra, Kadis Perikanan Kalsel, FT alias Fitri, kuasa
direktur CV Panorama Permai, kemudian Alfi alias AR, Direktur CV
Panorama Permai serta Hair alias HR sebagai konsultan pengawas.Ô h) 0*0*0*° ° ÔŒÁ ÁProyek di 2010 ini sebenarnya lanjutan dari beberapa proyek
sebelumnya. Hanya saja, pekerjaan yang dilaporkan ke pihak
berkompeten tidak sesuai dengan kemajuan fisik di lapangan. Ã Ãadi

No comments: