Thursday, June 16, 2011

Pengacara Istri Korban Datangi Polda

BANJARMASINÄ Ä © Tim pengacara Lilik Dwi Purwaningsih, yakni Petrus
Manampiring SH, Salim SH dan Athanasius Tangkut SH dari Surabaya
dikabarkan akan ke Polda Kalsel, dalam waktu dekat ini.
Á ÁKedatangan tim pengacara istri almarhum Hadriansyah, korban
pembunuhan yang diduga dilakukan oleh M Aini alias Culin dan kawanªkawan dan diduga diotaki Sam alias HI ini guna mengecek sejauh mana
penanganan kasus tersebut di Polda Kalsel.
Á ÁAdy, adik kandung Gusti Suriansyah BSc, pelapor kasus,
membenarkan kalau tim pengacara Lilik akan bertandang ke Polda
Kalsel dalam waktu dekat ini. "Sebagai kuasa hukum istri korban
mereka tentunya ingin mengetahui sejauh mana penanganan kasus yang
dilaporkan kakak saya itu," ujarnya.
Á ÁTim pengacara tersebut sudah memiliki kuasa penuh dari Lilik
untuk memberikan bantuan hukum terhadap Lilik yang merasa tak
memperoleh keadilan atas tewasnya sang suami, Hadriansyah di tangan
Culin dan kawan©kawan.
Á ÁHadriansyah dibunuh di rumah dinas guru SDN Sarigadung di Jl
Eks Kodeco Km 8, Desa Sarigadung, Kecamatan Simpang Empat,
Kabupaten Tanah Bumbu (Tanbu), Senin, 9 Februari 2004 pukul 12.00
Wita lalu.
Á ÁMemang ada dua pelaku yang sudah dihukum atas kasus tersebut,
namun, M Aini alias Culin (29), warga Desa Sungai Paring, Kecamatan
Simpur, HSS serta HM Ardi alias Babar (46), warga Jl A Yani No 51
RT 1 Desa Karasikan Kecamatan Sungai Raya, HSS, cuma dihukum oleh
Pengadilan Negeri (PN) Kotabaru masing©masing empat bulan dan tiga
bulan tujuh hari.
Á ÁHukuman yang diterima para pembunuh itu hampir sama dengan
hukuman yang diterima seorang maling ayam. Ironisnya, hakim ketua,
Leba Max Nandoko Rohi SH dan anggota masing©masing Budi Aryono SH
dan Nyoto Hindaryanto SH berpatokan pada pasal 170 ayat (2) ke©3
KUHP serta pasal 351 ayat (2) KUHP jo pasal 55 KUHP.
Á ÁMenurut Suriansyah, kejadian pembunuhan yang menggemparkan
masyarakat setempat dan diduga diotaki oleh oknum pengusaha batu
bara Sam alias HI ini, disayangkan hanya menjerat dua orang pelaku.
Ketidakadilan hukum ini terjadi ketika Polres Tanbu dipimpin oleh
AKBP Ike Edwin.
Á ÁHadriansyah yang yang menjadi korban, mulanya memimpin unjuk
rasa masyarakat karena jalan tambang milik HI tidak juga disiram,
meski cuaca panas dan berdebu. Korban yang guru olahraga SD ini
merasa prihatin anak didiknya yang kebetulan berdekatan dengan
lokasi jalan tambang, menghirup debu jalan.
Á ÁPendemo kala itu, lanjut Gusti, hanya ingin jalan itu disiram
sehari dua kali atau setidaknya sekali sehari, sehingga bisa
mengurangi debu jalan.
Á ÁHanya saja, unjuk rasa itu dianggap HI dan anak buahnya
sebagai sebuah tantangan, sehingga korban dihabisi oleh para pelaku
yang diduga diotaki atau disuruh HI. Á p p 2 Á
Á ÁDitambahkan Gusti, dirinya sudah mendengar kisah langsung dari
Lilik perihal pembunuhan tersebut.
Á ÁDisebutkan, Lilik ketika kejadian sedang berdiri di depan
rumah dinas guru. Ia melihat suaminya berlari©lari karena dikejar
tiga orang pelaku dengan golok terhunus.Ô h) 0*0*0*° ° ÔŒÁ ÁLarinya korban ke arah rumah Pak Lami, namun tetap saja
disusul ketiga pelaku. Di dalam rumah Pak Lami itulah, korban,
Hadriansyah dihabisi secara sadis.
Á ÁIstri korban melihat ketiga pelaku keluar dari rumah Pak Lami
dan lewat di depan ruang kelas III SDN. Salah seorang pelaku sempat
membetulkan sandalnya yang terlepas sambil menjilat darah di
goloknya.
Á ÁLilik juga mendengar suara tembakan yang ternyata keluar dari
pistol yang ditembakkan oleh seorang dengan ciri gemuk pendek, tak
jauh dari lokasi kejadian. Belakangan, Lilik mengenali pria
tersebut sebagai HI.Ã Ãadi/elo

No comments: