Wednesday, May 4, 2011

PT Golden Angkat Bicara

MARTAPURAÄ Ä © Banyaknya pihak yang menyudutkan aparat Polres Banjar
dalam hal penanganan kasus sengketa antara anggota veteran dan PT
Golden, membuat kuasa hukum PT Golden H Djunaidi SH angkat bicara.
Á ÁIa menilai banyak pihak yang tidak mengetahui persis kasusnya,
namun ikut©ikutan angkat bicara sehingga tercipta opini yang kurang
baik di masyarakat, di mana seolah©olah polisi tidak menghormati
para pejuang kemerdekaan itu.
Á Á"Polisi sudah bertindak secara profesional. Mereka sangat baik
menjalankan tugas, yakni cepat bertindak setelah menerima laporan
dari masayarakat," ujar Djunaidi dalam konferensi pers dengan
wartawan di Martapura, Rabu (4/5) kemarin.
Á ÁDiceritakannya, asal©usul tanah eks Pabrik Kertas Martapura
(PKM) sebenarnya adalah milik negara, namun dikelola oleh
Departemen Veteran RI selaku institusi yang mengurusi masalah
veteran dan aset©asetnya.
Á ÁNah, setelah departemen ini bubar, maka aset dikelola oleh
Departemen Perindustrian, dan di lahan tersebut dibangun pabrik
kertas yang diberi nama PKM.
Á ÁDalam perjalanannya, pabrik ini dilikuidasi alias bangkrut
pada tahun 1979 karena selalu merugi. Pada tahun itu juga,
Departemen Perindustrian mengeluarkan sebuah iklan kalau tanah itu
dijual dengan sistem lelang.
Á Á"Banyak yang mendaftar saat itu termasuk LVRI. Namun PT Golden
akhirnya memenangi lelang sehingga punya hak atas tanah dan
bangunan karena sudah membeli dari pemerintah. Karenanya sertifikat
Hak Guna Bangunan (HGB) keluar," katanya.
Á ÁKemudian pemilik PT Golden Gunawan Sutanto mencoba usaha itu
lagi dengan mengganti sistem manajemen, dengan harapan bisa meraup
untung dari pabrik kertas.
Á ÁNamun kenyataan berkata lain, meski manajemen sudah dibenahi
ternyata masih merugi, sehingga mengganti usahanya yakni dengan
menjadikan lahan sebagai tempat menampung bahan©bahan kimia dan
bahan pembuat bubur kertas.
Á Á"Saat itu sudah ada sarang burung walet disana. Nah, setelah
tidak beroperasi lagi walet makin banyak dan dikelola oleh PT
Golden," ucapnya.
Á ÁNamun pada saat Gunawan Sutanto bermasalah hukum dan
dinyatakan buronan, lahan diambil alih oleh oknum yang berlindung
dengan LVRI, dan memanfaatkan sarang burung walet yang sebelumnya
dikelola oleh pemilik aslinya yakni PT Golden.
Á ÁDengan dasar itulah pihaknya melaporkan tindak pidana
pencurian dan penyerobotan.
Á Á"Dulunya secara resmi Brimob yang jaga. Karena merasa tidak
enak hati lantaran Pak Gunawan dinyatakan DPO petugas tidak lagi
jaga. Ini kesempatan mereka mengambil alih," ungkapnya.
Á ÁKalau ini dinilai semua pihak sebagai kasus perdata, maka
menurutnya LVRI semestinya melakukan gugatan pada pihak PT Golden
sebagai satu©satunya yang memiliki sertifikat, sehingga ada
keputusan hukum tetap siapa pemilik sah lahan tersebut.
Á Á"Kalau pengadilan menyatakan itu tanah LVRI, maka PT Golden
bulat©bula tanpa kurang apapun akan menyerahkannya," tegasnya.
Á ÁSoal laporan balik dari Madun Arpan, pengacara asal Jakarta
ini mengaku siap menghadapi laporan itu, karena pihaknyaÔ h) 0*0*0*° ° Ô menghormati hukum yang berlaku, kendati menyayangkan diterimanya
laporan oleh polisi karena dinilainya prematur.
Á Á"Kami menghormati hukum. Silakan polisi menjalankan tugasnya
dengan baik dan profesional," pungkasnya. Ã Ãsup/adi

No comments: