Friday, May 20, 2011

Istri Korban Minta Otak Pelaku Diperiksa

BANJARMASINÄ Ä © Lilik Dwi Purwaningsih, istri korban pembunuhan,
meminta kepada aparat Polda Kalsel agar segera memeriksa otak
pelaku pembunuhan terhadap suaminya. Hadriansyah, sang korban,
tewas dianiaya pelaku diduga setelah disuruh oleh Sam alias HI.
Á Á"Secara logika, antara suami saya (Hadriansyah) tidak memiliki
permasalahan dengan M Aini alias Culin dengan H Babak, para pelaku.
Para pelaku ini adalah anak buah HI. Tidak mungkin anak buah berani
bertindak jika tanpa disuruh oleh bosnya," ungkap Lilik, Kamis
(19/5).
Á ÁLilik sudah mengadukan soal adanya otak pelaku dan pelaku
lainnya pembunuhan terhadap suaminya, yang belum tersentuh hukum.
"Kami sudah mengadukan ke berbagai lembaga, ke Komnas HAM, Komisi
Yudisial, PB PGRI, Komisi III DPR, Irwasum Mabes Polri dan lainªlain," ungkapnya.
Á ÁIa mengatakan, dirinya dan anak©anaknya hanya ingin keadilan
ditegakkan, karena suaminya telah dibunuh secara berencana oleh
para pelaku atas suruhan HI.
Á ÁDiceritakan Lilik, Culin tidak berani bertemunya karena memang
merasa bersalah. "Dia seakan tak kuasa menemui saya, karena merasa
bersalah sudah membunuh suamiku yang tidak memiliki masalah
dengannya. Jadi, kepada penyidik saya katakan, yang memiliki
masalah dengan suami saya adalah HI. Makanya saya meminta kepada
penyidik, supaya otak pelakunya ini diperiksa," paparnya.
Á ÁDikisahkan Lilik, pada Senin, 9 Februari 2004, sekitar pukul
09.00 Wita, suaminya memimpin demo menuntut agar jalan tambang
disiram, karena debunya mengganggu kesehatan anak©anak SD
Sarigadung, Km 8 Jl Eks Kodeco, Batulicin.
Á Á"Menjelang tengah hari saya sudah berhenti jualan jajanan.
Sekitar pukul 12.30 Wita, ketika anak©anak masuk ke dalam ruang
kelas, dan demo masih berjalan menyetop truk batu bara, tiba©tiba
sebuah mobil berwarna silver singgah di tepi jalan depan sekolah,"
terangnya.
Á ÁMenurutnya, dari dalam mobil, turun tiga orang yang semuanya
membawa parang, di antaranya, Culin, H Babak, dan seorang lagi yang
tak dikenal Lilik.
Á Á"Selain itu, ada juga orang berbadan gemuk yang belakangan
saya tahu itu HI juga keluar. Suami saya yang ketika itu dekat pos
langsung lari mengetahui ada yang mencarinya dengan membawa parang.
Saya melihat dari depan rumah dinas. Mulanya suami saya hendak lari
ke rumah, namun karena tak ingin saya terluka juga, dia lari
melewati depan kelas I, II dan III menuju rumah dinas Guru Lami,
dikejar oleh Culin. Sementara H Babak, seorang pelaku lain dan HI
mengejar tapi lewat belakang kelas I, II dan III," jelasnya.
Á ÁTiga orang pembawa parang masuk ke dalam rumah sementara HI
berdiri di depan rumah sambil mengacungkan pistol ke udara. "Lalu
terdengar suara tembakan. Tak berapa lama, para pelaku keluar.Á (#(#K Á
Á ÁLilik memberanikan diri menuju depan kelas III, dekat rumah
Guru Lami. Saat itu ia berpapasan dengan Culin yang keluar dari
rumah Guru Lami masih menentang parang yang berlumuran darah. "Dia
menjilat darah di parang dan membetulkan sandalnya," cetusnya.
Á ÁH Babak, seorang pelaku dan HI juga menjauh melalui jalanÔ h) 0*0*0*° ° Ô belakang kelas. "Mereka kembali masuk mobil yang sama dan pergi ke
arah tambang. Saat itu, tak ada seorang pun yang berani mendekat.
Warga seolah©olah kagum. Kemudian saya masuk rumah dan melihat
suami saya sudah terluka parah," ucapnya getir.
Á ÁLilik melihat kepala suaminya hampir terbelah dan bergegas
mengambil handuk untuk membalutnya. "Ada setengah jam, beliau
mengerang kesakitan dan akhirnya meninggal di pangkuan saya. Sejam
kemudian, barulah ambulan dan aparat datang," katanya.
Á ÁKejanggalan kasus ini, menurut Gusti Suriansyah BSc adalah,
pelaku pembunuhan yang ada beberapa, oleh aparat penegak hukum,
Polres Tanbu dan Pengadilan Negeri (PN) Kotabaru, cuma dua orang
yang diadili, yakni M Aini alias Culin dijatuhi empat bulan penjara
serta HM Ardi alias Babar dipidana tiga bulan tujuh hari.
Á ÁIronisnya lagi, lanjutnya, otak pelaku atau yang memerintahkan
untuk menganiaya korban, Sam alias HI, seorang pengusaha batu bara
kenamaan di Tanbu, justru lepas sama sekali dari jeratan hukum.
Begitu juga tiga anak buahnya yang lain, yakni Asyid, Amat, dan
Ansyah, sampai saat ini belum tersentuh hukum.
Á ÁMenurut Gusti, dirinya semakin yakin kalau HI diduga kuat
terlibat dalam pembunuhan sadis dan bahkan diduga berencana itu
setelah mendengar pengakuan dari M Aini alias Culin, salah satu
pelaku pembunuhan.
Á ÁDitambahkan Gusti, berdasar wawancaranya dengan Culin, Selasa,
4 Mei 2010 lalu, Culin mengakui terus terang telah menghabisi nyawa
Hadriansyah karena disuruh dan diupah oleh HI.Ã Ã adi

No comments: