Monday, May 23, 2011

Hakim Pemvonis Pembunuh 4 Bulan Dibidik KY

BANJARMASINÄ Ä © Tiga hakim yang memberi vonis super ringan kepada dua
terdakwa kasus pembunuhan, yakni M Aini alias Culin dan H Babak,
masing©masing empat bulan dan tiga bulan tujuh hari, dibidik Komisi
Yudisial (KY).
Á ÁSebagaimana diketahui, memang ada dua pelaku yang sudah
dihukum atas kasus pembunuhan terhadap korban, Hadriansyah di TKP
SDN Sarigadung Jl Eks Kodeco Km 8, Batulicin, Kabupaten Tanah
Bumbu, 9 Februari 2004 lalu tersebut. Namun, terdakwa satu, M Aini
alias Culin (29), warga Desa Sungai Paring, Kecamatan Simpur, HSS
serta HM Ardi alias Babar (46) terdakwa II, warga Jl A Yani No 51
RT 1 Desa Karasikan Kecamatan Sungai Raya, HSS, cuma dihukum oleh
Pengadilan Negeri (PN) Kotabaru masing©masing empat bulan dan tiga
bulan tujuh hari.
Á ÁHukuman yang diterima para pembunuh itu hampir sama dengan
hukuman yang diterima seorang maling ayam. Ironisnya, hakim ketua,
Max Nandoko Rohi SH dan anggota masing©masing Budi Aryono SH dan
Nyoto Hindayanto SH berpatokan pada pasal 170 ayat (2) ke©3 KUHP
serta pasal 351 ayat (2) KUHP jo pasal 55 KUHP.
Á ÁKejadian pembunuhan yang menggemparkan masyarakat setempat dan
diduga diotaki oleh oknum pengusaha batu bara Sam alias HI ini,
disayangkan hanya menjerat dua orang pelaku. Ketidakadilan hukum
ini terjadi ketika Polres Tanbu dipimpin oleh AKBP Ike Edwin dan
Polda Kalsel dipimpin Brigjen Pol Dody Sumantyawan.
Á Á"Kabarnya, setelah istri korban, yakni Lilik Dwi Purwaningsih
mengadukan ketidakadilan hukum itu ke KY pada 16 Maret 2011, KY
sedang membidik ketiga hakim yang mengadili perkara tersebut," ujar
sumber.Á ` ` Á
Á ÁSebagaimana dikisahkan kembali oleh Gusti Suriansyah BSc,
korban, Hadriansyah, mulanya memimpin unjuk rasa masyarakat karena
jalan tambang milik HI tidak juga disiram, meski cuaca panas dan
berdebu. Korban yang guru olahraga SD ini merasa prihatin anak
didiknya yang kebetulan berdekatan dengan lokasi jalan tambang,
menghirup debu jalan.
Á ÁPendemo kala itu, lanjut Gusti, hanya ingin jalan itu disiram
sehari dua kali atau setidaknya sekali sehari, sehingga bisa
mengurangi debu jalan.
Á ÁHanya saja, unjuk rasa itu dianggap HI dan anak buahnya
sebagai sebuah tantangan, sehingga korban dihabisi oleh para pelaku
yang diduga diotaki atau disuruh HI. Á p p 2 Á
Á ÁDitambahkan Gusti, dirinya sudah mendengar kisah langsung dari
Lilik perihal pembunuhan tersebut.
Á ÁDisebutkan, Lilik ketika kejadian sedang berdiri di depan
rumah dinas guru. Ia melihat suaminya berlari©lari karena dikejar
tiga orang pelaku dengan golok terhunus.
Á ÁLarinya korban ke arah rumah Pak Lami, namun tetap saja
disusul ketiga pelaku. Di dalam rumah Pak Lami itulah, korban,
Hadriansyah dihabisi secara sadis.
Á ÁIstri korban melihat ketiga pelaku keluar dari rumah Pak Lami
dan lewat di depan ruang kelas III SDN. Salah seorang pelaku sempat
membetulkan sandalnya yang terlepas sambil menjilat darah di
goloknya.
Á ÁLilik juga mendengar suara tembakan yang ternyata keluar dari
pistol yang ditembakkan oleh seorang dengan ciri gemuk pendek, takÔ h) 0*0*0*° ° Ô jauh dari lokasi kejadian. Belakangan, Lilik mengenali pria
tersebut sebagai HI. Ketiga pelaku berlalu menuju mobil HI yang
sudah menunggu bersama dua pria lainnya.
Á ÁKetika mobil bersama pelaku berlalu, barulah Lilik berteriak
minta tolong sambil menuju rumah Pak Lami. Lilik pun harus menerima
kenyataan pedih menyaksikan tubuh sang suami penuh luka di kedua
kakinya, tangannya hampir putus, dadanya, belakang punggungnya dan
kepalanya belah. Hadriansyah pun meninggal puluhan menit kemudian,
sebelum ambulan dan petugas medis sempat datang.
Á ÁMenurut Gusti, dirinya semakin yakin kalau HI diduga kuat
terlibat dalam pembunuhan sadis dan bahkan diduga berencana itu
setelah mendengar pengakuan dari M Aini alias Culin, salah satu
pelaku pembunuhan.
Á ÁDitambahkan Gusti, berdasar wawancaranya dengan Culin, Selasa,
4 Mei 2010 lalu, Culin mengakui terus terang telah menghabisi nyawa
Hadriansyah karena disuruh dan diupah oleh HI.
Á ÁKini, pengungkapan otak pembunuh sedang ditangani oleh Dit
Reskrimsus Polda Kalsel. Sudah ada beberapa saksi diperiksa. Ã Ãadi

No comments: