Monday, April 18, 2011

Tak Terima Lahannya Dikeruk Arutmin

BANJARMASINÄ Ä © Yermia S Palendokan mengakui bahwa lahan seluas 10,6
hektar dari total 12 hektar lahan miliknya di Desa Manggis, Sei
Seluang Kelumpang Utara, Kotabaru, selama setahun dikeruk PT
Arutmin Indonesia melalui subkontraktornya PT Thiess tanpa ijin
dirinya selaku pemilik.
Á ÁMenurutnya, Minggu (17/4), sejak awal tahun 2011 hingga April
ini, ia sempat menutup aktivitas penambangan di lahan tersebut
sekalian memasang tanda pembatas.
Á ÁYermia juga mengadukan soal tersebut ke Polda Kalsel. Selain
dirugikan lahannya dikeruk, Yermia juga mengadu bahwa tanda
tangannya dipalsukan oleh pihak tertentu, seolah©olah dirinya sudah
melepaskan lahan itu ke PT Arutmin.
Á Á "Kasus ini sebenarnya tak perlu sampai ke ranah hukum, karena
saya ingin semuanya baik. Saya menunggu tanggung jawab pihak
Arutmin yang mengeruk batu bara di lahan saya selama setahun lebih
itu. Tapi sampai saat ini, PT Arutmin seperti tidak mau menunjukkan
itikat baik. Padahal kalau dihitung©hitung, saya sebagai pemilik
sah lahan hanya minta fee yang jadi hak saya sekitar 20 persen,"
bebernya.
Á ÁMenurutnya, tanda pembatas yang sudah ia buat di lahan
tersebut, sempat dibuka kembali oleh aparat Polres Kotabaru pada
tanggal 14 April 2011.
Á ÁMenurut Yermia, berdasar UU No 4 Tahun 2009 pasal 135 dan
pasal 136, sebagai pemilik lahan, dirinya berhak menutup lahan
tersebut karena sebagai pemilik lahan yang sah.
Á ÁPasal 135 berbunyi, pemegang IUP dan IUPK hanya dapat
melaksanakan kegiatannya setelah dapat persetujuan pemegang hak
atas tanah. Sementara pasal 136 berbunyi, pemegang IUP dan IUPK
sebelum melaksanakan operasi produksi, wajib menyelesaikan hak atas
tanah dengan pemegang hak.
Á ÁMenurut Yermia, dirinya menjadi pemegang hak setelah secara
sah membeli lahan seluas 12 hektar lebih itu dari beberapa warga
atau pemilik asal dengan harga sebesar Rp609.000.000.
Á Á"Mana mau saya memberi lahan dengan cuma©cuma kepada PT
Arutmin, apalagi ketebalan batu bara 8 meter. Kalaupun dalam surat
pernyataan saya yang asli, tertanggal 2 Februari 2006, lahan saya
seluas 10,6 hektar itu diserahkan kepada PT Arutmin Indonesia,
hanyalah sebatas direklamasi di bagian lapisan atasnya, bukan
dijual atau batu bara di bawahnya dieksploitasi secara diam©diam
seperti yang terjadi selama setahun lebih ini," cetusnya.
Á ÁYermia menuturkan, PT Arutmin melalui PT Thiess menambang di
lahan tersebut, justru bermodalkan surat pernyataan yang diduga
fiktif alias palsu.
Á Á"Saya tak pernah membuat surat pernyataan itu. Tanda tangannya
juga bukan milik saya," tegasnya. Ã Ãadi

1 comment:

kurnia said...

berita/ infonya sangat baik dan bermanfaat bagi pemilik lahan maupun kp, sebab :
1. Pemilik lahan minim info dan cenderung dipojokan terlebih bila dikenai pasal "menghambat kp"
2. KP, mestinya mematuhi uu 4 thn 2009, terlebih menganggap pemilih lahan hanya "orang desa/ tdk berpendidikan"

bisa ngerti wilayah mana mas Adi lokasinya ?
kami tunggu info2 menarik dari seberang kalimantan & sukses selalu !