Monday, April 25, 2011

Saksi Saling Tuding

BANJARMASINÄ Ä © Tiga dari empat orang saksi yang hadir memberikan
keterangan pada sidang kasus dugaan korupsi gratifikasi di KPU Kota
Banjarmasin yang menyeret pemberi uang sebagai terdakwa, saling
menyalahkan.
Á ÁPadahal ketiga orang tersebut, kalau dicermati sangat
mengetahui tentang pemberian hadiah dalam bentuk uang tersebut,
bahkan di antara mereka ada yang telah menerima hadiah dalam bentuk
uang yang telah diberikan terdakwa.
Á ÁKetiga saksi dari KPU Kota Banjarmasin, yakni Mahfud Sejali,
selaku Ketua KPU Banjarmasin, Mastuti Rabitan sekretaris dan
Rodian, selaku staf di sekretariat KPU Kota Banjarmasin.
Á ÁDalam keterangan mereka di bawah sumpah, ketiganya mengatakan
tidak tahu tentang pemberian hadiah berupa uang yang telah
dikasihkan terdakwa.
Á ÁBahkan ketiganya membantah keras menerima uang tersebut,
apalagi meminta kepada terdakwa yang merupakan pengusaha percetakan
pemenang tender pengadaan barang berupa kertas suara.
Á ÁFakta yang terjadi di persidangan di antara saksi tersebut
saling menyalahkan yang sempat membuat majelis hakim yang diketuai
Yohanes Priyana SH MH, meminta ketegasan.
Á ÁSaksi pertama yang memberikan adalah Mahfus Sejali, dan dalam
keterangannya ia mengatakan tidak mengetahui kalau di lembaganya
tersebut sedang ada masalah.
Á ÁIa mengatakan saat terjadinya masalah itu, ia sedang tidak
berada di Banjarmasin, dan semua itu menurutnya merupakan tanggung
jawab sekretariat KPU Kota Banjarmasin, karena semua masalah
penyelenggaraan pemilu telah ia serahkan kepada sekretariat.
Á ÁSedangkan terkuak kasus gratifikasi ini bermula dari
penyelenggaraan pemilihan Walikota dan Wakil Walikota pada tahun
2010, KPU menyerahkan tugas kepada pihak Sekretariat KPU Kota
Banjarmasin, selaku penanggung jawab pengguna anggaran untuk
melakukan pelelangan tender mengenai pengadaan barang dan jasa.
Á Á"Semuanya telah kita serahkan kepada pihak sekretariat KPU
yang dipimpin sekretaris KPU itu untuk melakukan pelelangan tender,
yang intinya dimenangkan oleh PT Jasindo Sidoarjo milik terdakwa,"
kata Mahfudz.
Á ÁSetelah hasil lelang dinyatakan telah dimenangkan oleh PT
Yosindo Sidoarjo, kemudian beberapa pihak KPU Kota Banjarmasin
melakukan survei atau pemeriksaan ke PT Yosindo dengan datang ke
Sidoarjo.
Á Á"Namun saat itu yang berangkat ke sana hanya empat orang saja,
dan saya tidak ikut karena ada acara lain," katanya lagi.
Á ÁKetika disinggung majelis hakim mengenai kunjungan ke
Sidoarjoa itu selaku relasi apakah ada kaitannya dengan pemberian
hadiah, atau perundingan sebelumnya, ia mengatakan tidak ada dan
murni melakukan pemeriksaan.
Á ÁPada poinnya majelis hakim menanyakan kepada saksi, mengenaiÔ h) 0*0*0*° ° Ô pemberian hadiah tersebut apakah ia mengetahui atau tidak tidak,
dan dijawabnya mengetahui setelah diberitahu sekretaris KPU Kota
Banjarmasin, yakni Mastuti Rabitan.
Á Á"Saya tidak pernah berencana maupun merencanakan minta bagian
atau jatah kepada terdakwa, karena semua itu adalah wewenangnya
sekretaris, sebab saya ini memang ketua KPU yang terpilih dan
jabatannya hanya lima tahun, sedangkan sekretariat KPU itu adalah
pegawai yang telah ditentukan pihak Pemerintah Kota (Pemko)
Banjarmasin," ungkapnya.
Á ÁKeterangan ketua KPU itu sangat bertentangan dengan apa yang
telah diterangkan sekretaris KPU Kota Banjarmasin, Mastuti Rabitan,
karena menurutnya semua yang telah ia kerjakan atas persetujuan
ketua KPU termasuk pelelangan tender yang dimenangkan terdakwa.
Á ÁBahkan saksi mengatakan kalau ketua KPU itu juga telah
merencanakan pembagian uang hadiah itu apabila telah diberikan oleh
terdakwa.
Á ÁMenurut Mastuti Rabitan, sebelumnya mereka telah beberapa kali
mengadakan pertemuan dengan terdakwa, yang mana dalam pertemuan
tersebut Mahfudz Sejali menyinggung terdakwa dengan kata©kata, "Ada
nggak pak bagian kami."
Á ÁDalam pemberiaan hadiah itu ada sekretaris dan ketua KPU sudah
berencana untuk membagi hasil pemberian tersebut yakni 70 persen
untuk KPU dan 30 persen untuk sekretariat KPU.
Á Á"Saya menolak dengan rencana ketua KPU itu, karena menurut
saya, saya juga memiliki empat orang anggota yang bekerja juga
berat, hingga saya meminta kalau pembagian itu merata 50 persen
untuk kami dan 50 persen untuk pihaknya," aku Mastuti.
Á ÁMastuti juga mengatakan sempat terjadi perubahan nilai
kontrak, yang menurut majelis itu tidak benar, karena kalau
perubahan speak itu bisa tapi tidak boleh merubah angka atau nilai
kontrak karena sudah dimenangkan melalui lelang.
Á ÁBegitu ditanya majelis mengapa harus terjadi perubahan speak
dan nilai kontrak dan dasarnya apa, saksi tidak bisa memberikan
keterangan.
Á ÁDari perubahan speak dan nilai kontrak itulah semua terjadi,
hingga adanya kasus gratifikasi atau pemberian hadiah, apalagi
sebelumnya antara pihak KPU Kota Banjarmasin dan pemenang tender
sepertinya telah sering mengadakan pertemuan.
Á ÁBegitu pula dengan Rodian, dalam keterangannya ia mengatakan
tidak mengetahui masalah pemberian hadiah tersebut, padahal jelasªjelas dalam berkas dakwaan, sebelum hadiah diberikan ia telah
menelpon terdakwa yang kalimatnya seperti menagih janji.
Á ÁPun begitu dengan keterangan salah seorang perempuan yang
merupakan anggota KPU Kota Banjarmasin, ia juga tidak mengatakan
tidak mengetahui masalah pemberian hadiah terebut.
Á ÁDalam pengadaan barang dan jasa terpilihlah PT Yusindo
Sidoarjo, selaku pengadaan kertas suara dan logistiknya PT Erlisda.
Sekitar. Enam bulan berlalu muncul berita telah terjadi korupsi
pengadaan kertas suara, namun setelah diselidiki ternyata kasus
gratifikasi atau pemberian suap dan tersangkanya adalah GF selaku
pemberi uang.
Á ÁAdapun kedua yang terindikasi itu adalah MR dan RD selaku
panitia pengadaan barang dan jasa atau penerima hadiah berupa uang
sebesar Rp25 juta yang selama ini belum ditetapkan sebagaiÔ h) 0*0*0*° ° Ô tersangka.Ã Ã ris/adi

No comments: