Sunday, April 10, 2011

Saksi Beberkan Kejadian Naas Itu

BANJARMASINÄ Ä © Seorang wartawan berinisial S menjelaskan ke penyidik
Sat IV Dit Reskrim Polda Kalsel terkait peristiwa pembunuhan guru
SDN Sarigadung, Hadriansyah di rumah dinas guru SDN Sarigadung, Jl
Eks Kodeco Km 8, Kecamatan Mentewe, Tanah Bumbu (Tanbu), Jumat
(8/4).
Á ÁMenurut S, Minggu (10/4), apa yang beberkan ke penyidik
sebenarnya tidak jauh dengan apa yang sudah ia sampaikan dalam
testimoni tertulis 5 Mei 2010 lalu.
Á ÁDikatakannya dalam testimoni, pada Senin, 9 Februari 2004, ia
mendapat informasi dari para sopir truk batu bara dan wraga di
Batulicin bahwa ada demo warga di Jl Eks Kodeco Km 8 Desa
Sarigadung.
Á ÁS lalu menuju ke lokasi demo dan memang di sekitar pos portal,
sudah berkerumun warga. S juga melihat deretan truk tronton yang
mencapi puluhan, parkir di tepi jalan menuju ke Batulicin dari area
tambang.
Á ÁKemudian S bertemu dengan guru olahrag SDN Sarigadung,
Hadriansyah. Dikatakan, Hadriansyah mengaku sudah dua kali berdemo.
Hadriansyah mengaku tidak melarang truk batu bara lewat, namun
jalan tambang itu mesti disiram agar debunya tidak menyebar ke SDN.
Menurut Hadriansyah, kasihan anak©anak SDN yang bersekolah terisap
debu.
Á ÁApa yang disampaikan Hadriansyah, menurut S, juga diakui dan
dibenarkan oleh warga lain yang ikut berdemo.
Á ÁSekitar pukul 11.30 Wita, datanglah sebuah mobil berwarna
silver dan berhenti dekat pos portal. Menurut S, ada empat orang
yang keluar, yakni Sam alias HI dengan anah buahnya.
Á ÁHadriansyah pun menghampiri HI dan berbincang©bincang sambil
berdiri. Menurut S, HI sempat bertanya kenapa sampai truk batu bara
dilarang lewat. Oleh Hadriansyah dijawab bahwa pendemo tidak
melarang lewat, namun terlebih dahulu jalan tambang itu mesti
disiram sehingga tidak berdebu.
Á ÁTak berpaa lama, ujar S, empat orang itu masuk lagi ke mobil
dan meluncur menuju Batulicin.
Á ÁS mengaku berteduh di emperan rumah warga bersama dua anggota
Brimob, sementara Hadriansyah berteduh di bahwa pohon, semuanya tak
jauh dari pos portal.
Á ÁDitambahkan, tidak sampai sejam, mobil silver kembali datang
dan berjalan pelan di halaman SDN. Hadrianyah berdiri dari tempat
duduknya dan berjalan juga ke halaman SDN tersebut.
Á ÁTak berkisar lama, S mendengar teriakan orang minta tolong. S
mengaku tak berani mendekati halaman SDN. Tiba©tiba juga terdengar
suara tembakan pistol satu kali. Ketika S mendekati lokasi halaman,
mobil silver itu sudah berlalu menuju arah naik.
Á ÁS mendengar pula teriakan bahwa guru (Hadriansyah) dibunuh.
Setelah dicek, lanjutnya, memang benar kalau Hadriansyah mengalami
luka parah akibat terkena senjata tajam dan sedang sekarat di rumah
dinas guru.
Á ÁSejurus kemudian, S mengaku bersama seorang anggota Brimob
dengan mengendarai motor berangkat menuju Polres Tanbu untukÔ h) 0*0*0*° ° Ô melaporkan peristiwa tersebut.
Á ÁDir Reskrim Polda Kalsel Kombes Pol Mas Guntur Laope mengakui
pihaknya sedang menyelidiki kasus pembunuhan Hadriansyah.
Menurutnya, jika ada bukti baru, maka kasus tersebut akan diproses
kembali.
Á ÁMemang ada dua pelaku yang sudah dihukum atas kasus tersebut,
namun, M Aini alias Culin (29), warga Desa Sungai Paring, Kecamatan
Simpur, HSS serta HM Ardi alias Babar (46), warga Jl A Yani No 51
RT 1 Desa Karasikan Kecamatan Sungai Raya, HSS, cuma dihukum oleh
Pengadilan Negeri (PN) Kotabaru masing©masing empat bulan dan tiga
bulan tujuh hari.
Á ÁHukuman yang diterima para pembunuh itu hampir sama dengan
hukuman yang diterima seorang maling ayam. Ironisnya, hakim ketua,
Max Nandoko Rohi SH dan anggota masing©masing Budi Aryono SH dan
Nyoto Hindayanto SH berpatokan pada pasal 170 ayat (2) ke©3 KUHP
serta pasal 351 ayat (2) KUHP jo pasal 55 KUHP.
Á ÁKejadian pembunuhan yang menggemparkan masyarakat setempat dan
diduga diotaki oleh oknum pengusaha batu bara Sam alias HI ini,
disayangkan hanya menjerat dua orang pelaku. Ketidakadilan hukum
ini terjadi ketika Polres Tanbu dipimpin oleh AKBP Ike Edwin. Ã Ãadi

No comments: