Monday, April 11, 2011

Kepala BPN Banjar Cuma Dihukum 16 Bulan

BANJARMASIN Ä Ä© Kepala Badan Pertanahan Negara (BPN) Banjar, Edy
Sufian Nur yang menjadi terdakwa kasus gratifikasi dalam sidang
putusan di Pengadilan Negeri (PN) Martapura divonis bersalah dan
cuma dihukum 16 bulan penjara, Senin (11/4).
Á ÁSelain dihukum penjara, Edy juga dikenai denda oleh majelis
hakim sebesar Rp50 juta atau subsidair kurungan dua bulan. Hal itu
diakui pula oleh kuasa hukum Edy, Fakhriadi SH.
Á ÁEdy (52), beralamat di Jl Pramuka Gg Sarikaya
Banjarmasin pada 2 Nopember 2010 lalu, dibawah oleh penyidik
Kejaksaan Agung (Kejagung), yakni Yulianto SH, Asep Mulyana SH, dan
Harjo SH dari Jakarta ke Banjarmasin dengan menumpang pesawat
Garuda dan tiba di Bandara Syamsudin Noor, pukul 09.00 Wita.
Á ÁBegitu tiba di bandara, Edy dibawa ke Kejaksaan Tinggi
(Kejati) Kalsel, kemudian dibawa ke Kejaksaan Negeri (Kejari)
Martapura beserta barang bukti dengan menggunakan mobil Honda Jazz
warna silver.
Á ÁKajari Martapura, Zulhadi Savitri Noor SH MH, kala itu
mengatakan, pihaknya menerima tahap kedua dari
Kejagung, sehingga terdakwa segera dilimpahkan ke PN Martapura
untuk disidangkan.
Á ÁZulhadi menjelaskan, Edy didakwa melakukan gratifikasi dan
atau pemerasan dan pungutan liar tanpa
ada ketentuan yang mengatur.
Á ÁTerdawak diduga melanggar pasal 11 jo pasal 12 UU No 20 Tahun
2001 tentang Perubahan UU No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan
Tipikor. Untuk pasal 11, tersangka diancam hukuman penjara paling
singkat satu tahun dan paling lama lima tahun dengan denda paling
sedikit Rp50 juta dan paling banyak Rp250 juta.
Á ÁSedangkan untuk pasal 12, ancaman penjara paling singkat empat
tahun dan paling lama 20 tahun dengan denda paling sedikit Rp200
juta dan paling banyak Rp1 milyar. Hanya saja, dalam sidang, pasal
ini tak terbukti.
Á ÁSelain terdakwa, JPU juga menghadirkan barang bukti berupa
uang tunai sebanyak Rp32 juta dan Rp46 juta, juga kartu ATM, buku
tabungan dan tiga buah HP.
Á ÁKasi Penkum Kejati Kalsel, Rajendra mengatakan, Edy sebelumnya
ditangkap saat di Bandara Soekarno Hatta, namun karena Edy
statusnya sebagai kepala BPN Banjar maka kasusnya dilimpahkan ke
Kejari Martapura.
Á ÁEdy diduga mengenakan tarif ilegal terhadap para notaris yang
kebetulan mengurus transaksi dan surat tanah di BPN Banjar.
Kejadian gratifikasi diduga berlangsung sudah lama dan sangat
meresahkan para notaris. Akibatnya, biaya pengurusan surat tanah
membengkak dari ketentuan standar. Ã Ãadi

No comments: