Tuesday, April 19, 2011

Culin Diperiksa, HI Menyusul

BANJARMASINÄ Ä © Petugas Sat IV Tipiter Dit Reskrim Polda Kalsel masih
terus melakukan pemeriksaan terhadap para saksi kasus pembunuhan
guru olahraga SDN Sarigadung, Kecamatan Mentewe, Kabupaten Tanah
Bumbu (Tanbu), Hadriansyah. Beberapa hari lalu, petugas sudah
meminta keterangan M Aini alias Culin.
Á ÁHanya saja, belum dibeberkan bagaimana hasil keterangan yang
diberikan Culin kepada petugas. "Memang, baru©baru tadi, kita sudah
meminta keterangan Culin, salah satu orang yang menurut pelapor
adalah saksi sekaligus pelaku pembunuhan korban," terang AKBP Asep,
Selasa (19/4).
Á ÁMenurut Asep, pihaknya memeriksa sejumlah orang yang menurut
pelapor, Gusti Suriansyah BSc, sebagai saksi. Dengan demikian,
sudah ada beberapa yang diperiksa, mulai Suriansyah, Lilik Dwi
Purwaningsih (istri korban), dan S.
Á Á"Satu orang lagi yang masih belum dimintai keterangan, yakni
Kris Suswanto, seorang mantan polisi yang diduga mengetahui kasus
ini," terangnya.
Á ÁMenurutnya, Kris sudah tiga kali dipanggil dengan surat sejak
dua pekan lalu. Namun, panggilan itu belum dipenuhi oleh Kris tanpa
alasan yang jelas. Hanya saja, surat panggilan ketiga justru balik
lagi ke Polda Kalsel. Disinyalir, alamat Kris tidak begitu jelas.
Keberadaannya pun belum diketahui.
Á ÁAsep mengatakan, selain saksi©saksi yang diajukan pelapor
diperiksa, pihaknya juga akan memeriksa sejumlah orang yang namanya
disebut©sebut dalam laporan diduga mengetahui kasus bahkan diduga
terlibat dalam aksi pembunuhan, langsung dan tak langsung.
Á Á"Semua orang yang diduga mengetahui kasus bahkan diduga
terlibat, juga akan kita panggil, termasuk HI," tegas Asep.
Á ÁSebelumnya, Gusti Suriansyah BSc, seorang wartawan senior dan
petinggi tabloid X©Kasus memberanikan diri melapor ke Kapolri dan
juga Kapolda Kalsel terkait ketidakadilan dalam penanganan kasus
pembunuhan yang terjadi 9 Februari 2004 lalu di Desa Sarigadung Km
8, Kabupaten Tanah Bumbu (Tanbu) dengan korban, seorang guru
olahraga SDN, Hadriansyah.
Á ÁPelaku pembunuhan yang ada beberapa, oleh aparat penegak
hukum, Polres Tanbu dan Pengadilan Negeri (PN) Kotabaru, cuma dua
orang yang diadili, yakni M Aini alias Culin dijatuhi empat bulan
penjara serta HM Ardi alias Babar dipidana tiga bulan tujuh hari.
Á ÁIronisnya lagi, lanjutnya, otak pelaku atau yang memerintahkan
untuk menganiaya korban, Sam alias HI, seorang pengusaha batu bara
kenamaan di Tanbu, justru lepas sama sekali dari jeratan hukum.
Begitu juga tiga anak buahnya yang lain, yakni Asyid, Amat, dan
Ansyah, sampai saat ini belum tersentuh hukum.
Á ÁDua pelaku yang sudah dihukum atas kasus tersebut, M Aini
alias Culin (29), warga Desa Sungai Paring, Kecamatan Simpur, HSS
serta HM Ardi alias Babar (46), warga Jl A Yani No 51 RT 1 Desa
Karasikan Kecamatan Sungai Raya, HSS, cuma dihukum oleh Pengadilan
Negeri (PN) Kotabaru masing©masing empat bulan dan tiga bulan tujuh
hari.
Á ÁHukuman yang diterima para pembunuh itu hampir sama denganÔ h) 0*0*0*° ° Ô hukuman yang diterima seorang maling ayam. Ironisnya, hakim ketua,
Max Nandoko Rohi SH dan anggota masing©masing Budi Aryono SH dan
Nyoto Hindayanto SH berpatokan pada pasal 170 ayat (2) ke©3 KUHP
serta pasal 351 ayat (2) KUHP jo pasal 55 KUHP. Ketidakadilan hukum
ini terjadi ketika Polres Tanbu dipimpin oleh AKBP Ike Edwin.
Á ÁHadriansyah yang menjadi korban, mulanya memimpin unjuk rasa
masyarakat karena jalan tambang milik HI tidak juga disiram, meski
cuaca panas dan berdebu. Korban yang guru olahraga SD ini merasa
prihatin anak didiknya yang kebetulan berdekatan dengan lokasi
jalan tambang, menghirup debu jalan.
Á ÁPendemo kala itu, lanjut Gusti, hanya ingin jalan itu disiram
sehari dua kali atau setidaknya sekali sehari, sehingga bisa
mengurangi debu jalan.
Á ÁHanya saja, unjuk rasa itu dianggap HI dan anak buahnya
sebagai sebuah tantangan, sehingga korban dihabisi oleh para pelaku
yang diduga diotaki atau disuruh HI. Ã Ãadi

No comments: