Tuesday, February 15, 2011

Kesepakatan Agar Jangan Dipermainkan

BANJARMASINÄ Ä © Demi mengetahui kalau dana pembangunan TK Al Quran RT
02 Alalak Tengah justru diambil dari Yayasan Alalak Besar, membuat
kubu H Maulana berang. Pasalnya, sesuai kesepakatan 13 Oktober
2010, tanggung jawab pembangunan sepenuhnya ada pada pihak H
Mukhlis.
Á Á"Pada Minggu (13/2) sebagaimana batas deadline, ternyata tak
ada penjelasan juga, maka pada Senin (14/2) saya datang. Begitu
juga masyarakat mempertanyakan bagaimana kegiatan yayasan. Dari
situ, diketahui kalau H Mukhlis licik. Kesepakatan tidak dijalankan
sebagaimana mestinya. Bahkan, pembangunan TK Al Quran RT 2 Alalak
Tengah, sebesar Rp68 juta, justru memakai dana yayasan. Padahal,
sesuai kesepakatan dengan saya, TK itu tanggung jawab penuh H
Mukhlis," jelas H Maulana, Selasa (15/2).
Á ÁBegitu masyarakat mempertanyakan soal kesepakatan antara H
Maulana dan H Mukhlis di Polda Kalsel, 13 Oktober 2010 lalu,
akhirnya, H Muhklis kabarnya mau mempertanggungjawabkannya.
Á ÁDari info kubu H Maulana, pihak H Muhklis mengakui kalau
pembangunan TK Al Quran RT 2 Alalak Tengah adalah tanggung
jawabnya, bukan tanggung jawab Yayasan Alalak Besar.
Á ÁPada 14 Februari 2011, H Muhklis kabarnya membuat surat
pernyataan mengakui bahwa uang Rp68 juta yang digunakan untuk
membangun TK Al Quran RT 2 adalah pinjaman dari yayasan.
Á ÁH Muhklis pun berjanji dalam waktu sebulan, terhitung sejak
membuat surat pernyataan itu, akan mengembalikan uang yayasan
sebesar Rp68 juta. Surat pernyataan itu ditandatangani oleh H
Mukhlis dan disaksikan oleh H Alariansyah (pengurus yayasan) serta
Akuzaman.
à ÃPeringatanÄ ÄÁ ¸ ¸ Á
Á ÁH Maulana yang akrab disapa H Imau pun memberikan peringatan
keras kepada pihak yang bersepakat agar jangan sembarangan untuk
mempermainkan isi kesepakatan.
Á Á"Kami warga Alalak begitu gigih memperjuangkan nasib usaha
perkayuan di Alalak ketika akan ditutup pada 2005 lalu. Kami
berusaha membela kepentingan masyarakat Alalak baik, ke gubernur,
dewan dan instansi lainnya, dengan tujuan, usaha kayu di Alalak
tetap jalan, dan masyarakatnya bisa sejahtera," tukasnya.
Á ÁSentra industri kayu di Alalak, mesti dipertahankan, karena
sudah lama sejak kakeknya menjadi pembakal, usaha itu yang bisa
menghidupi warga. Perjuangan itu berjalan beberapa tahun. Sampai
akhirnya, usaha kayu sedikit demi sedikit memperoleh izin resmi dan
berjalan dengan tertib.
Á Á"Kemudian, pengusaha luar sedikit demi sedikit mulai datang
dan berusaha di Alalak. Kami sebagai warga asli Alalak, pada
dasarnya tak keberatan, asalkan ada tata krama, pengusaha luar
turut andil lah membantu pembangunan di Alalak. Siapa sih yang tak
ingin kampung halamannya maju juga seperti kawasan lain," tukasnya.
Á ÁMenurutnya, ada beberapa pengusaha luar Alalak yang datang
meminta restu. "Kami tak keberatan, karena Alalak juga Bumi AllahÔ h) 0*0*0*° ° Ô juga. Namun, beberapa bulan belakangan, ada beberapa pengusaha luar
Alalak yang lupa dan justru mulai tak peduli dengan upaya
pembangunan bersama di Alalak, baik untuk pembangunan tempat
ibadah, madrasah, TK dan lain©lain demi kemaslahatan warga,"
jelasnya.
Á ÁH Imau pun mengatakan, dalam waktu dekat, warga Alalak akan
mengadakan pertemuan besar membahas hal itu dan bagaimana sikap ke
depannya. "Boleh jadi, akan ada unjuk rasa besar©besaran dan
pengusiran terhadap pengusaha luar Alalak yang tak memiliki tata
krama di Alalak," tegasnya. Ã Ãadi

No comments: