Friday, February 18, 2011

Dua Tersangka Mutilasi 'Bebas'

BANJARMASINÄ Ä © Dua tersangka pelaku mutilasi terhadap korban Fatma
(16), yakni M Aldiansyah alias Tole (16) dan M Syafi'i alias Erfan
(13) 'bebas' dari sel tahanan Polda Kalsel, sejak Minggu (13/2)
lalu. Keduanya kini bisa menghirup udara bebas di luar sana.
Á ÁSementara lima rekannya yang lain, yakni Fendi Ardiyanto (22),
Ardiansyah alias Sawa (24), Akramudin alias Icun (18), Alamsyah
alias Ancah (20), kemudian Alex Pratama (19), masih berstatus
tahanan di Polda Kalsel.
Á ÁJumat (18/2), Dir Reskrim Kombes Pol Mas Guntur Laope melalui
Kasat I Krimum AKBP Namora mengakui bahwa dua tersangka, yakni Tole
dan Erfan sudah dibebaskan dari tahanan, karena masa penahanan
maksimal terhadap mereka berdua sudah habis.
Á Á"Keduanya kebetulan di bawah umur. Berdasarkan ketentuan
perundangan, jika masih di bawah umur, maka masa penahanannya pun
berbeda dengan tahanan dewasa," jelas Namora.
Á ÁBerdasarkan perhitungan, dua tersangka di bawah umur ini,
hanya bisa ditahan maksimal 45 hari, masing©masing penahanan dari
polisi 20 hari, izin kejaksaaan 10 hari serta perpanjangan dari
pengadilan 15 hari.
Á Á"Meski demikian, berkas kasusnya masih kita tangani, dalam
artian, kasusnya masih tetap berlanjut dan kini berstatus P©19 dari
Kejati Kalsel," bebernya.
Á ÁSelain itu, penyidik masih terus memantau keberadaan dua
tersangka, karena dikhawatirkan akan melarikan diri. "Mereka juga
kita kenakan wajib lapor dua kali seminggu, yakni Senin dan Kamis,"
tegasnya.
Á ÁDiakui Namora, ada kendala, sehingga penanganan kasus terkesan
lama. "Ketika kita konfrontir antar tersangka, justru banyak sekali
perbedaan©perbedaan keterangan, sehingga mesti berulang©ulang
dilakukan pemberkasan," akunya.
Á ÁSebagaimana diketahui, hanya karena persoalan cemburu, Fendi
Ardiyanto alias Anak Sialan (16), tega memperkosa dan memutilasi
Fatmawati, dibantu rekan©rekannya.
Á ÁPara tersangka ditangkap secara maraton oleh jajaran Polres
Banjar, Polresta Banjarbaru, dibantu Sat I Krimum Dit Reskrim Polda
Kalsel, akhir tahun 2010 lalu. Mulanya, penyidik memeriksa
komunitas anak punk Banjarbaru, sehingga diketahui kalau korban
berpcaran dengan Fendi. Selasa, 14 Desember 2010, Fendi ditangkap
di depan Hotel Rodhita Banjarmasin.
Á ÁMeski sempat berkilah, namun Fendi akhirnya mengaku terus
terang sebagai pelaku. Dari mulutnya meluncur pengakuan para
tersangka lainnya.
Á ÁKemudian, polisi menangkap Ancah di Sungai Sipai Martapura,
lalu Icun diamankan di depan STM Banjarbaru, Menyusul Sawa di
dibekuk di Balitan, Banjarbaru. Erfan ditangkap di Pasar Lama,
Banjarmasin. Lantas Tole dan Alex diciduk di Desa Guntung Paikat,Ô h) 0*0*0*° ° Ô Banjarbaru.
Á ÁBarang bukti yang berhasil diamankan adalah, satu buah tas
ransel warna hitam merk Revo Style milik Sawa yang digunakan untuk
membawa golok serta membuang potongan tubuh korban. Sebotol minyak
angin milik korban.
Á ÁKemudian satu buah kaos warna coklat merk Adidas milik Sawa
yang digunakan membungkus kepala korban, satu buah celana jins merk
Levis model pensil lengkap dengan ikat pinggang dengan kepala sabuk
bergambar logo Batman milik korban. Kemudian satu buah gelang warna
putih milik korban. Dua bauh batu besar sebagai pemberat yang
diikat pada karung berisi potongan tubuh korban.
Á ÁKetika ditanya Kapolda kenapa sampai tega berbuat demikian,
Fendi yang mengaku sudah tiga tahun (sejak 2007) berpacaran dengan
korban mengaku sangat cemburu, karena korban bersama lelaki lain.
Á ÁSebab lain, otak pelaku ini melihat Fatma berciuman dengan
pria yang tak ia kenal pada Kamis, 4 November 2010 sekitar pukul
20.00 Wita.
Á ÁMerasa sakit hati, timbullah niat jahat Fendi untuk memperkosa
korban dengan beramai©ramai sekaligus menghabisi nyawa korban.Ã Ã adi
Á ÁSebagaimana diketahui, Jumat, 19 November 2010, pukul 18.30
Wita, ditemukan potongan kepala, tangan kanan dan kiri serta kaki
kiri korban di dalam tas Revo di aliran irigasi Desa Bincau,
Martapura. Kemudian pada Senin, 22 November 2010, pukul 17.00 Wita,
ditemukan lagi kaki kanan dan alat vital korban di aliran sungai di
Desa Bincau.
Á ÁMenurut Kapolda Brigjen Syafruddin, para tersangka dikenai
pasal pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman seumur hidup atau
maksimal hukuman mati. adi