Tuesday, February 22, 2011

Abuan Halim Hanya Dikenakan Denda

BANJARMASINÄ Ä © Sidang lanjutan perkara gula rafinasi dengan terdakwa
Abuan Halim selaku Direktur Utama PT Makasar Tene, mengagendakan
putusan yang digelar di ruang Kartika Pengadilan Negeri (PN)
Banjarmasin, Selasa (22/2) kemarin.
Á ÁSidang yang dijadwalkan pagi ternyata berubah siang, sekitar
pukul 12.30 Wita, dan persidangan pun berlangsung singkat, karena
majelis hakim yang diketuai M Amril SH MHum, bersama dua hakim
anggotanya Suprapti SH MH dan Ekova Rahayu Avianti SH MH, hanya
mengenakan denda kepada terdakwa sebesar Rp50 juta atau subsidair
selama tiga bulan kurungan.
Á ÁTerdakwa, yang duduk di kursi pesakitan didampingi penasihat
hukumnya, langsung menyatakan terima dengan putusan tersebut,
sedangkan jaksa penuntut umum (JPU) Asep Puron SH, mengatakan
pikir©pikir.
Á ÁTerdakwa yang hadir di PN Banjarmasin dari pagi, dengan santai
menunggu persidangan, ditemani Aftahuddin, ketua asosiasi gula
Banjarmasin.
Á ÁDengan mengenakan kemeja lengan panjang warna putih, dan
celana panjang, dengan tenangnya terdakwa meninggalkan ruang
sidang, untuk kembali ke kampungnya.
Á ÁKetika coba dikonfirmasi wartawan, terdakwa dengan tersenyum
mengatakan kalau dirinya tidak merasa keberatan dan ia langsung
menyatakan terima dengan putusan majelis hakim.
Á Á"Kalian lihat sendirikan d ipersidangan tadi, kalau saya
terima dengan putusan majelis hakim," katanya singkat.
Á ÁSementara itu ketua majelis hakim, yang juga ketua PN
Banjarmasin, M Amril SH MHum, ketika di konfirmasi mengatakan kalau
keputusan yang telah ia berikan merupakan hasil dari keputusan
majelis hakim yang sebelumnya telah dimusyawarahkan.
Á ÁDasar pertimbangannya sangat kuat, karena menurutnya apa yang
telah mereka putuskan sudah sesuai dengan pasal 6D KUHAP yang
isinya menyatakan kurungan dan atau denda atau satu di antaranya.
Á ÁMengenai denda yang dikenakan pada terdakwa, ia juga
menjelaskan, pasal yang menjerat terdakwa itu dikeluarkan pada
tahun 1955, dendanya maksimal Rp1 juta, dan tidak bisa dibandingkan
dengan saat ini.
Á Á"Dendanya memang Rp50 juta, karena kalau menurut tahun 1955
itu hanya denda Rp1 juta, jadi untuk sekarang mungkin nilainya
segitu," ungkapnya.
Á Á"SPPGRAP©nya juga ada dan telah ia tunjukkan, dan menurut
majelis terdakwa bukanlah melakukan tindak kejahatan, hanya
pelanggaran administratif saja, kemudian barang bukti kita
kembalikan pada pemiliknya" jelasnya.
Á ÁTerdakwa sendiri oleh JPU pada persidangan sebelumnya dengan
agenda tuntutan, dituntut selama pidana selama dua bulan dengan
masa percobaan empat bulan dan denda sebesar Rp1 juta atau
subsidair selama tiga bulan.
Á ÁJPU berkesimpulan terdakwa telah melakukan perbuatan
sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 6 ayat (1) huruf
d UU Drt Nomor 7 Tahun 1955 tentang Pengusutan, Penuntutan dan
Peradilan Tindak Pidana Ekonomi jo Perpu Nomor 8 Tahun 1961,
Tentang Perdagangan Barang Dalam Pengawasan jo Peraturan Pemerintah
No 19 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah NomorÔ h) 0*0*0*° ° Ô 11 Tahun 1961 tentang Perdagangan Barang Dalam Pengawasan jo
Keppres No 57 Tahun 2004 tentang Penetapan Gula sebagai Barang
Dalam Pengawasan jo Kepmenperindag no 334/MPP/Kep/S/2004 tentang
Perubahan Atas Kepmenperindag No 61/MPP/Kep/2/2004 tentang
Perdagangan Gula Antar Pulau jo pasal 65 ayat (1) KUHP.
Á ÁPerkara gula rafinasi ini mencuat ketika Unit Tipiter Sat
Reskrim Polresta Banjarmasin telah melakukan pemeriksaan terhadap
150 petikemas yang berisikan gula yang semula diduga sudah
kadaluarsa Sabtu tanggal 4 Desember 2010, hingga menetapkan Abuan
Halim Direktur PT Makasar Tene sebagai tersangka.Ã Ã ris/adi

No comments: