Tuesday, January 25, 2011

Pengiriman Gula Rafinasi Tanpa SPPGRAP

BANJARMASINÄ Ä © Sidang perdana perkara gula rafinasi dengan terdakwa
Direktur PT Makasar Tene, digelar di ruang Kartika Pengadilan
Negeri (PN) Banjarmasin, Selasa (25/1).
Á ÁSidang mengagendakan pembacaan dakwaan yang kemudian
dilanjutkan dengan mendengarkan keterangan saksi©saksi hingga
pemeriksaan terdakwa dipimpin majelis hakim yang diketuai Amril SH
MHum, bersama dua hakim anggota Suprapti SH MH dan Ekova Rahayu
Avianti SH MH.
Á ÁTerdakwa yang tidak ditahan duduk di kursi persidangan
didampingi penasihat hukumnya Basyufarudin SH dan Erik SH, advokat
dari Makasar.
Á ÁDalam berkas dakwaan yang dibacakan jaksa penuntut umum (JPU)
Bara Mantio SH dan Anwar Reza Z SH, terdakwa Abuan Halim (40) warga
Jl Prof Dr Sutami No 38 RT 02/4 Kelurahan Parang Loe, Kecamatan
Tamalanrea Kota Makasar Sulawesi Selatan, dinyatakan telah
melakukan perbuatan sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam
pasal 6 ayat (1) huruf d UU Drt Nomor 7 Tahun 1955 tentang
Pengusutan, Penuntutan dan Peradilan Tindak Pidana Ekonomi jo Perpu
Nomor 8 Tahun 1961 tentang Perdagangan Barang Dalam Pengawasan jo
PP No 19 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah
Nomor 11 Tahun 1961 tentang Perdagangan Barang Dalam Pengawasan jo
Keppres No 57 Tahun 2004 tentang Penetapan Gula Sebagai Barang
Dalam Pengawasan jo Kepmenperindag no 334/MPP/Kep/S/2004 tentang
Perubahan Atas Kepmenperindag No 61/MPP/Kep/2/2004 tentang
Perdagangan Gula Antar Pulau jo pasal 65 ayat (1) KUHP.
Á ÁMenurut JPU, terdakwa dengan sengaja melakukan beberapa
perbuatan yang harus dipandang sebagai perbuatan yang berdiri
sendiri melaksanakan perdagangan gula kristal rafinasi produksi
dalam negeri yang berasal dari gula kristal mentah/gula kasar antar
pulau, tidak dilampirkan Surat Persetujuan Perdagangan Gula
Rafinasi Antar Pulau (SPPGRAP) dari Direktur Jenderal Perdagangan
Dalam Negeri.
Á ÁSetelah JPU membacakan dakwaannya sidangpun dilanjutkan dengan
mendengarkan keterangan saksi©saksi. Ada sekitar sepuluh saksi yang
hadir dalam persidangan, dua di antaranya adalah anggota Polresta
Banjarmasin yang telah melakukan penahanan terhadap gula rafinasi
sebanyak 3.750 ton.
Á ÁSelain itu, ada juga Ketua Asosiasi Pedagang Gula Banjarmasin
H Aftahuddin dan Disperindag Propinsi Kalsel Samsir, serta beberapa
orang yang tahu dan mengerti dalam perkara tersebut.
Á ÁH Aftahuddin salah satu yang menangani gula di Kota
Banjarmasin dalam keterangan mengatakan kalau dalam pengiriman gula
rafinasi itu bahwa dokumennya telah lengkap namun tidak dilengkapi
dengan SSPGRAP.
Á ÁKarena saat dilakukan pengiriman gula rafinasi SSPGRAP masih
dalam proses dan relesnya sudah keluar, ditambah permintaan dariÔ h) 0*0*0*° ° Ô UKM©UKM yang ada di Kalsel yang pada saat itu sedang kekosongan
gula.
Á ÁMenurutnya bahwa SPPGRAP sudah dibuat sebelum gula rafinasi
tersebut ditahan pihak Polresta Banjarmasin, namun karena
keterlambatan saja sehingga seolah©olah pengiriman gula rafinasi
tersebut tidak dilengkapi SPPGRAP.
Á Á"Pada saat dilakukan pengiriman melalui kapal dan beberapa
kontainer, dan tiba di pelabuhan Trisakti, hingga ditahan pada
tanggal 20 Nopember 2010, kemudian tanggal 23 Nopember 2010 SPPGRAP
telah selesai," katanya.
Á ÁJadi menurutnya bahwa terdakwa hanyalah melakukan kesalahan
administrasi karena keterlambatan dibuatnya SPPRAP tersebut. Hal
serupa juga sama diterangkan beberapa saksi lain.
Á ÁNamun, berbeda dengan dua saksi yang hadir dari kepolisian
yang menyatakan saat itu mereka menerima informasi kalau ada
pengiriman gula rafinasi tidak dilengkapi SPPGRAP dan ini tidak
hanya sekali.
Á ÁAtas dasar itulah mereka melakukan penahanan terhadap
pengiriman gula rafinasi yang sebelumnya tidak dilengakapi dengan
SPPGRAP.
Á ÁSidang terus berlanjut hingga pemeriksaan terdakwa. Dalam
pengakuannya terdakwa mengatakan hal yang sama. Saat itu ia
melakukan pengiriman gula rafinasi atas permintaan pihak pedagang
gula Kalsel.
Á ÁNamun setelah gula dikirim, ternyata gula tersebut ditahan
pihak Polresta Banjarmasin, karena menurut mereka bahwa gula
tersebut tanpa dilengkapi SSPGRAP.
Á ÁTerdakwa mengakui atas keterlambatan pembuatan SPPGRAP
tersebut, karena menurutnya permintaan itu sangat mendesak dan dia
pikir bahwa SPPGRAP yang telah ia buat bisa menyusul.
Á Á"Sebelumnya kita tidak pernah mengalami kendala dalam
pengiriman gula rafinasi tersebut, dan keterlambatan SPPGRAP itu
mungkin dikarenakan adanya kendala, namun yang pasti bahwa reles
dari SPPGRAP itu sudah kita terima," katanya.
Á ÁSementara itu penasihat hukum terdakwa dalam kesempatannya
mengatakan, kliennya hanya melakukan pelanggaran ringan, bukanlah
seorang pelaku tindak kriminal, seperti yang telah dikabarkan.
Á Á"Klien kita hanya melakukan pelanggaran ringan, kalau
diibaratkan sebagai seorang pengemudi yang telah memiliki SIM dan
surat menyurat lainnya, namun ketika dalam perjalanan salah satu
surat ketinggalan misal STNK, maka ia hanya wajib bayar denda.
Kalau surat©suratnya ada masa sepeda motor atau mobil milik dia
disita," katanya menguraikan.
Á ÁDiketahui perkara gula rafinasi ini mencuat ketiga Unit
Tipiter Sat Reskrim Polresta Banjarmasin telah melakukan
pemeriksaan terhadap 150 petikemas yang berisikan gula yang semula
diduga sudah kadaluarsa Sabtu tanggal 4 Desember 2010, hingga
menetapkan Abuan Halim Direktur PT Makasar Tene sebagai tersangka.
à Ãris/adi

No comments: