Sunday, December 12, 2010

Solar Subsidi Diduga Diselewengkan

BANJARMASIN © Disinyalir, sebagian solar bersubsidi untuk
masyarakat di Kalsel, diselewengkan alias salah sasaran.
Á ÁSabtu (11/12), Sekretaris Gerindo, Hermani Begman SH
mengatakan, berdasarkan hasil investigasi yang dilakukan pihaknya,
ada indikasi kuat kalau solar bersubsidi sebagian telah salah
sasaran.
Á Á"Berdasarkan hasil investigas kami, solar subsidi justru
sebagian dijual kepada yang tidak berhak," kata Hermani.
Á ÁDi dalam rilisnya juga dijelaskan, jika semua mobil bertenaga
diesel di Kalsel setiap hari beroperasi, maka kebutuhan riil solar
adalah 17.965 (jumlah mobil berdiesel) dikali 30 liter = 540.000
liter atau 540 Kl. Saat ini saja Pertamina mendistribusikan solar
untuk mobil sebanyak 700©800 Kl perharinya.
Á Á"Jika menengok dari kebutuhan riil, maka patut diduga terdapat
kelebihan solar bersubsidi yang salah sasaran, yakni sekitar 160ª260 Kl perhari," ungkapnya.
Á ÁGerindo menilai, dari nilai solar bersubsidi Rp4.500 dibanding
solar non subsidi alias industri Rp7.000/liter, maka terdapat
marjin Rp2.500.
Á ÁNilai selisih Rp2.500 jika dikalikan 260 Kl dikalikan lagi 30
hari, maka negara diduga dirugikan sekitar Rp19,5 miliar setiap
bulannya.
Á Á"Perhitungan kasar itu baru perbulan, bagaimana kalau itu
terjadi setahun, maka membengkak menjadi Rp234 miliar. Jika ini
berjalan lima tahun, maka negara dirugikan Rp1,7 triliun," ucapnya.
Á ÁDikatakannya lagi, perhitungan kasar itu belum termasuk jika
mengacu pada Perda Kalsel No 3 Tahun 2008 tentang larangan angkutan
batubara melintasi jalan negara, maka hampir 30 persen mobil
dumptruk tidak lagi beroperasi, sehingga ada dugaan kalau kerugian
negara semakin besar lagi.
Á Á"Jika mengacu perhitungan di atas, maka sulit dimengerti
kenapa SPBU semakin bertambah, dan pasokan solar bersubsidi juga
terus bertambah. Ada apa sesungguhnya," paparnya.
Á ÁMenurutnya, hasil investigasi itu sudah diserahkan Gerindo ke
Pertamina sebagai bahan evaluasi Pertamina dalam pendistribusian
solar bersubsidi tersebut.
Á ÁHermani pun mewanti©wanti Pertamina, sesuai UU No 22 Tahun
2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, jika terjadi kesalahan
distribusi, maka negaralah yang akan dirugikan.
Á Á"Dugaan kerugian negara Rp19,5 miliar perbulan itu, disinyalir
karena Pertamina kurang teliti dalam mendistribusikan solar
bersubsidi, karena tidak memperhitungkan kebutuhan riil pengguna
solar bersubsidi," cetusnya.
Á ÁKuat dugaan, solar bersubsidi juga mengalir ke proyek tambang
batubara yang notabene termasuk usaha industri yang semestinya
memakai solar non subsidi. Ã Ãadi

No comments: