Wednesday, December 15, 2010

Debitur Diteror

BANJARMASIN © Abdul Salam SH MH dari kantor advokat Abdul Salam SH
MH dan Associates, Surabaya yang mewakili kliennya, Hendri,
Direktur CV Busa Indah Utama (BIU) menyayangkan adanya teror dari
oknum karyawan Bank D, sehingga kliennya tidak tenang berusaha,
serta ditanyai para relasi.
Á ÁMenurut Abdul Salam, kliennya, Hendri, telah dirugikan oleh
tergugat, Abdul Hakim SP, warga Jl Gatot Subroto Banjarmasin dan
Saibana SH, warga Jl Sultan Adam Banjarmasin yang mewakili Bank D
dalam perjanjian kredit No 87 antara Bank D dengan CV BIU.
Á Á"Makanya, kami melakukan gugatan ke Pengadilan Negeri (PN)
Martapura menuntut agar dilakukannya perubahan isi perjanjian,
sehingga tidak merugikan klien kami," ujar Abdul Salam, Rabu
(15/12).
Á ÁSelain menggugat kedua wakil Bank D itu, Abdul Salam juga
menggugat Hj Tri Titi Titis Wati SH selaku turut tergugat. Hj Tri
adalah notaris perjanjian kredit No 87.
Á ÁDikisahkan, sebelum mengajukan kredit ke Bank D, kliennya
sudah memiliki kredit di Bank M senilai Rp10 miliar dengan jaminan
10 item SHM, yakni pabrik CV BIU.
Á ÁKliennya selaku penggugat kemudian mengajukan kepada tergugat
take over kredit Bank M dan disetujui sebesar Rp15 miliar sesuai
persetujuan fasilitas kredit No 162/csa/2010 tertanggal 18 Juni
2010 dengan jaminan, yakni jaminan yang sudah ada di Bank M, SHM No
808, No 1226, No 3220 dengan total APHT Bank D Rp6.988.000.000.
Á ÁKemudian SHM No 01288, No 01289, No 01290, No 01292, No 01293,
No 01294 dengan total APHT Rp4.983.300.000.
Á ÁDitambah lagi dengan 12 item dengan APHT ke Bank D total
senilai Rp9.829.700.000.
Á ÁDikatakan, pada 29 Juni 2010 telah dibuat pengikatan akad
kredit sebagaimana tertuang dalam perjanjian kredit No 87, antara
penggugat dengan para tergugat di hadapan turut tergugat. Isinya,
Bank D memberikan kredit rekening koran (KRK) sebesar Rp10 miliar
jangka 12 bulan, selanjutnya kredit berjangka (KB) senilai Rp5
miliar juga tempo 12 bulan untuk modal kerja penggugat.
Á ÁBank D kemudian mentransfer Rp10 miliar ke rekening penggugat
di Bank M. Hanya saja, penggugat tidak mengetahui sistem cross
collateralized yang dipakai dalam akad kredit itu.
Á ÁPenggugat baru tahu setelah tergugat disuruh tergugat
mengambil jaminan ke Bank M. Meski penggugat mengirim surat
mengenai pelunasan fasilitas kredit CV BIU ke Bank M, namun belum
dipenuhi Bank M dengan alasan adanya klausul cross©collateral dan
cross default.
Á Á"Anehnya, penggugat selalu diteror oleh oknum mengaku karyawan
Bank D. Bahkan, di salah satu iklan media, penggugat dipanggil guna
melaksanakan kewajiban. Ada lagi teror utang nyawa dibalas dengan
nyawa," bebernya.
Á ÁMenurutnya, kliennya sudah dirugikan, karena turut tergugat
sebenarnya memahami bagaimana sistem jaminan yang berlaku di Bank
M, karena turut tergugat juga menjadi notaris dalam perjanjian
antara penggugat dengan Bank M.
Á Á"Semestinya, tergugat tidak mencairkan kredit karena turut
tergugat bisa memberitahukan mengenai sistem perjanjian di Bank M
tersebut," tukas Salam.Ô h) 0*0*0*° ° ÔŒÁ ÁKliennya, lanjutnya, mempercayai para tergugat dan turut
tergugat mengurus jaminan yang masih berada di Bank M. "Kami
memandang, perjanjian kredit No 87 cacat hukum. Makanya kami
menggugat ke pengadilan agar perjanjian No 87 dibatalkan. Kemudian
meminta hakim menyatakan, 10 item jaminan penggugat di Bank M tidak
dapat ditarik kembali untuk diserahkan kepada tergugat," paparnya.
à Ãadi

No comments: