Sunday, November 21, 2010

Sempat Bilang Tak Sayang Lagi

MARTAPURAÄ Ä © Korban mutilasi, Fatmawati (16), warga Jl Guntung
Harapan RT 34 Kelurahan Guntung Manggis, Kecamatan Lansana Ulin,
Banjarbaru, sampai saat ini sebagian potongan jasadnya masih
tersimpan di kamar jenazah Rumah Sakit Uumu Daerah (RSUD) Ulin
Banjarmasin. Menurut pengakuan suaminya, Syahlan (21), korban
sempat berucap sudah tak sayang lagi kepadanya.
Á Á"Terakhir bertemu dengan dia (korban) adalah 14 Oktober 2010
lalu, lebih sebulan. Saya sempat tanya kenapa sering menghindari
saya bila datang ke rumahnya. Dia bilang sudah tak sayang lagi
dengan saya," aku Syahlan, ditemui di sela©sela pemeriksaan dirinya
oleh Sat Reskrim Polres Banjar di Martapura, Minggu (21/11) sore.
Á ÁMenurut pria kelahiran Desa Tabu Darat, Pantai Hambawang, HST
ini, ia baru mengetahui kalau istrinya itu ditemukan sudah menjadi
mayat adalah pada Sabtu (20/11) sekitar pukul 17.00 Wita ketika
selesai bekerja menjadi buruh di Jl Sidomulyo samping Rindam
Banjarbaru.
Á Á"Bos Yadi yang memberitahu saya. Ketika mendengar itu, saya
terkejut dan sangat sedih. Koq ada yang tega sampai membunuh dan
memutilasi dia," ungkapnya.
Á ÁSelanjutnya, Sabtu malam itu sekitar pukul 21.30 Wita, petugas
dari Sat Reskrim Polres Banjar mendatanginya memberitahukan agar
datang ke Polres Banjar pada Minggu (21/11) sekitar pukul 9.30 Wita
menghadiri pemeriksaan.
Á ÁSyahlan yang menikahi Fatma pada 7 Agustus 2010 lalu itu
mengaku memang sejak pertemuan terakhir 14 Oktober 2010 itu tidak
mengetahui kabar lagi tentang istrinya.
Á ÁIa mengaku tidak memiliki firasat apa©apa. Bahkan memiliki
prasangka kalau istrinya ada kekasih lain selain dirinya juga tidak
ada. "Saya juga kurang mengerti kenapa dia berubah sejak malam
Tanglong 27 Ramadhan di Banjarbaru. Namun, sungguh, saya tidak
berprasangka kalau dia punya kekasih lain," paparnya.
Á ÁPria yang mengaku buta huruf ini mengatakan, setelah dikabari
bosnya, ia disarankan membeli koran yang memuat berita mutilasi.
"Saya cuma melihat gambar, karena tidak bisa membaca," katanya
lugu.
Á ÁPria bertubuh kecil ini membantah kalau dirinya yang tega
melakukan itu. "Tidak mungkinlah saya tega begitu sama istri
sendiri. Memukulnya pun saya tidak pernah. Saya berharap, polisi
bisa cepat menangkap pelakunya," ucapnya pelan seraya mengakui
hubungannya memang kurang harmonis akhir©akhir ini. Namun, begitu
disinggung apakah pelaku harus dihukum seberat©beratnya, Syahlan
seperti tersendat berbicara. "Biar lembaga (pengadilan) saja yang
menentukan," katanya.
Á ÁMenurutnya, pertemuannya dengan Fatma terjadi atas jasa
makcomblang, Ifit. "Ifit, teman asal Amuntai, HSU menawarkan kepada
saya, apakah serius akan menikah, sehingga bisa dikenalkan dengan
seorang gadis. Saya bilang serius, sehingga pada 1 Agustus 2010,
kami dipertemukan di Taman Idaman Banjarbaru. Tak lama, 7 AgustusÔ h) 0*0*0*° ° Ô 2010, kami menikah. Sampai sekarang pun saya masih sayang sama
dia," paparnya sedih.
Á ÁAwal©awal menikah, Syahlan yang tinggal di Jl Sidomulyo
Banjarbaru ini mengaku tak ada masalah. Ia juga membantah tidak
memberi nafkah yang cukup, meski ia hanya seorang buruh bangunan.
"Setiap akhir pekan, saya kasih dia Rp180 ribu," akunya.
Á ÁSyahlan menambahkan, ia terakhir melihat Fatma pada 14 Oktober
2010 ketika saling mengungkapkan isi hati. "Kemudian ia pergi jalan
bersama temannya, Winda yang rambutnya juga dicat ala punk,"
tukasnya.
Á ÁSepanjang Kamis (18/11), Jumat (19/11) dan Sabtu (20/11),
Syahlan mengaku ada di tempat kerjanya di sebuah kompleks perumahan
di Jl Sidomulyo. "Malam Jumat pun saya tidak di proyek ditemani
Hadi," jelasnya.
Á ÁJumat (19/11) sore sekitar pukul 18.30 Wita, warga di seputar
Kompleks Lutfia Tunggal dan dekat Kompleks Permata, Bincau,
Martapura, Kabupaten Banjar dikejutkan ditemukannya secara tak
sengaja oleh seorang warga, empat potongan bagian tubuh manusia
berjenis kelamin perempuan yang diduga adalah korban mutilasi.
Á ÁPenemuan ini sontak mengundang perhatian ratusan warga sekitar
yang penasaran ingin tahu dari dekat bagaimana bentuk tangan dan
kaki manusia yang sudah terpisah dari raga utuhnya itu.
Á ÁDari informasi, potongan yang ditemukan tanpa sengaja itu
terdiri dari kepala, tangan kanan dan tangan kiri serta kaki kiri.
Sayangnya, potongan kaki kanan dan tubuh masih misterius.
Belakangan, diketahui kalau korban adalah Fatmawati. Ã ÃadiÄ Ä




à ÃKurang Harmonis
SEBAGAIÄ Ä tokoh warga di Jl Guntung Harapan, Kelurahan Guntung
Manggis, Landasan Ulin, Banjarbaru, Ahmad Fauzi (37) merasa perlu
memberikan nasihat kepada Fatmawati (16).
Á Á"Korban memang sempat berbincang lama dengan saya dan ibunya
(Sa'diah) pada Kamis (18/11) sore. Terakhir saya melihat
almarhumah," ucap Fauzi.
Á ÁPerbincangan memang tidak jauh dari masalah rumah tangga
korban. "Memang sepertinya hubungan korban dengan suaminya, kurang
harmonis. Saya sempat tanya kenapa dia sudah tidak peduli lagi
dengan suaminya. Kerap kalau suaminya datang ke rumah, dia seperti
menghindar dan pergi. Saya kasih pandangan agar jangan begitu,
karena boleh jadi akan membuat suaminya nanti cemburu. Saya juga
nasihati, agar kalau memang sudah tidak suka, berpisah baik©baik,"
jelasnya.
Á ÁMenurut Fauzi, suami korban dari pengamatannya memang masih
menyayangi korban. "Namun, almarhumah pernah mengeluhkan kalau
suaminya memang agak pelit dalam keuangan. Korban pernah mengaku
kesal karena ketika minta duit cuma dikasih Rp2.000," ucapnya.
Á ÁFauzi mengaku mengenali jasad korban dari asesoris yang
dikenakan, yakni baju hem putih, celana jins dot warna hitam serta
rambut dipotong pendek warna oranye khas anak punk.
à ÃJarang bergabungÄ ÄÁ Á
Á ÁMeski disinyalir korban adalah anak punk karena penampilannya,Ô h) 0*0*0*° ° Ô namun sejumlah pemuda yang tergabung dalam komunitas anak punk
Banjarbaru mengaku kalau Fatma bukan anggota komunitas mereka.
Á ÁAyi (24), pemuda yang dipanggil ke Polres Banjar untuk
dimintai keterangan mengatakan, Fatma tidak biasa bergabung dengan
komunitas mereka yang memang kerap mangkal di Taman Idaman, Komet
dan Minggu Raya Banjarbaru.
Á ÁDikatakan, komunitas anak punk Banjarbaru, sesekali pergi ke
luar kota beramai©ramai dengan cara naik mobil bak terbuka atau
truk. "Perjalanan bisa ke Palangkaraya, Kalteng hingga ke Kaltim,"
akunya.
Á ÁSenada, Citra (18), warga Jl Irigasi Kompleks Cacat Veteran,
Martapura mengatakan, meski sering berjumpa dengan Fatma, namun
Fatma bukanlah anggota komunitas mereka. "Terakhir saya ketemu
Fatma, sekitar sebulan yang lalu di Taman Idaman. Dia sepertinya
baik, dan asyik bila diajak ngobrol. Dia kalau datang biasanya juga
sendiri. Tak pernah kami lihat dia dijemput laki©laki misalnya,"
katanya seraya dibenarkan oleh rekannya, Tia (15), warga Genteng
Biru, Bincau, Martapura. Ã ÃadiÄ Ä
Á Á




à ÃIndikasi Sudah Ada
APARATÄ Ä Reskrim Polres Banjar bekerja keras mengungkap kasus
mutilasi Fatmawati (16). Polisi menjelaskan sudah mulai menemukan
indikasi tentang motif kenapa korban dihabisi hingga dimutilasi.
Á Á"Indikasi sudah ada, tinggal pendalaman©pendalaman dengan
jalan mengumpulan bukti sebanyak©banyaknya," ujar Waka Polres
Banjar Kompol Teddy Mukmin Artono SIK didampingi Plt Kasat Reskrim
Iptu Abdul Mufid, Minggu (21/11).
Á ÁMenurut Teddy, korban meski bukan anggota komunitas anak punk
Banjarbaru, namun memang kerap mengunjungi komunitas itu. Hanya
saja, lanjutnya, ada pihak tertentu yang mencegah korban untuk
ikut©ikutan dengan anak punk.
Á Á"Sebulan terakhir, dia mencari Fatma," katanya. Teddy tak
bersedia menyebutkan identitas, karena masih dalam penyelidikan.
Á ÁSaat ini, lanjutnya, pihaknya bekerja sama dengan Dit Reskrim
Polda Kalsel berupaya keras mengungkap kasus yang sudah menhebohkan
masyarakat Martapura tersebut. "Saat ini kita berupaya mencari sisa
potongan tubuh korban dan melacak di mana sebenarnya kejadian
pembunuhan tersebut," ungkapnya. Meski mayat korban dibuang ke
saluran irigasi Bincau Martapura, namun tidak menutup kemungkinan
kalau korban dibunuh di wilayah hukum Polresta Banjarbaru atau yang
lainnya.
Á Á"Kita berharap doa dan dukungan masyarakat supaya kasus ini
bisa terungkap, dan siapa yang tega membunuh korban bisa kita
tangkap secepat mungkin," harapnya.
Á ÁSejauh ini, tambahnya, penyidik sudah memeriksa tidak kurang
dari 10 saksi, baik keluarga dekat korban, tetangga korban hingga
anak©anak punk yang pernah bertemu dengan korban.Ô h) 0*0*0*° ° ÔŒÁ Á"Kita tentu masih memerlukan saksi tambahan, sehingga bisa
diketahui siapa yang terakhir bersama korban," cetusnya.
Á ÁIa meminta kepada masyarakat yang tanpa sengaja menemukan
sesuatu yang mencurigakan terkait kasus ini, supaya segera
menghubungi petugas kepolisian terdekat. "Bantuan masyarakat tentu
kita harapkan bisa mempercepat pengungkapan kasus ini," tegas Waka
Polres Banjar ini. Ã ÃadiÄ Ä


à ÃKeluarga Korban Histeris
BANJARMASINÄ Ä © Mulanya Sa'diah (50) dan Norhasanah (22), ibu dan
saudara Fatmawati (16) korban mutilasi, mengatakan sanggup untuk
melihat potongan jasad korban, meskipun beberapa pegawai RSUD Ulin
Banjarmasin, berupaya menyakinkannya.
Á ÁKedua wanita ini tetap ngotot dan mengatakan sanggup untuk
melihat beberapa potongan tubuh korban yang tersimpan dalam ruang
pendingin kamar mayat RSUD Ulin, Minggu (21/11) kemarin.
Á ÁBahkan kedua perempuan tersebut seakan penasaran dan ingin
cepat©cepat melihat potongan tubuh korban, yang menurut mereka
berdasarkan ciri©ciri dan tanda©tanda dilihatkan melalui foto,
kalau potongan tubuh itu memang keluarga mereka.
Á ÁSaking tak sabarnya, ketika pintu ruangan dibuka Norhasanah
langsung menggandeng ibunya memasuki ruang pendingin jenazah
bersama beberapa keluarga lainya.
Á ÁSementara itu pegawai rumah sakit terlebih dulu berada di
depan, dan begitu lemari pendingin dibuka, teriakan histeris
langsung keluar dari mulut kedua perempuan tersebut.
Á ÁTerlebih Norhasanah, ia menjerit histeris seraya menangis
setelah melihat beberapa potongan tubuh korban, bahkan ia menjerit
keras seakan tak percaya apa yang telah ia lihat.
Á ÁJeritan dan tangisan Norhasanah berhenti setelah tubuhnya
lunglai dan pingsan, sedangkan Sa'diah, ibu korban, terus saja
terdiam dengan tubuh gemetaran dirangkul keluarganya.
Á ÁIa tak kuasa berkata©kata selain diam dengan tatapan mata yang
kosong, dan ketika ditanya pegawai serta anggota Polda Kalsel,
apakah benar kalau korban anaknya, perempuan tersebut hanya
mengangguk saja.
Á ÁSejenak situasi ruang kamar mayat menjadi bising dan gaduh
dengan teriakan keluarga korban, namun hanya sejenak setelah itu
kembali normal, dan sang ibu mulai bisa diajak ngobrol oleh
anggota Polda Kalsel.
Á ÁSebelumnya, Sa'diah mengatakan kalau korban berdasarkan
keterangan kepolisian dan ciri dari anggota tubuh, serta celana
yang digunakan, hingga aksesoris yang ditemukan adalah memang
anaknya.
Á ÁNamun untuk menyakinkan, ia bersama keluarganya mencoba untuk
melihatnya, karena menurutnya anaknya ada tahi lalat di hidungnya.
Á Á"Kami ke sini hanya untuk melihat potongan tubuh korban,
karena berdasarkan keterangan Polres Banjar, kalau korban belumÔ h) 0*0*0*° ° Ô bisa dibawa pulang sebelum organ tubuhnya ditemukan semuanya,"
katanya. Á ¸ ¸ Á
Á ÁDikatakannya, korban merupakan anaknya yang terakhir dari lima
bersaudara, dan baru sekitar tiga bulan menikah dan kawin dengan
Syahlan, warga Pantai Hambawang, HST.
Á ÁSetelah kawin mereka tinggal bersama Sa'diah, namun belakangan
suami korban jarang pulang ke rumah Sa'diah, dan sebaliknya korban
juga jarang pulang.
Á Á"Ia jarang pulang, dan hampir satu minggu tidak pulang,"
katanya.
Á ÁSemenjak pergi dari rumah, Kamis (18/11) hingga ditemukan
potongan tubuhnya, pakaian yang dikenakan korban tidak berubah,
yakni celana hitam dan baju putih.
Á Á"Saya tahu kalau korban mutilasi adalah anak saya, dikasih
tahu tukang parkir, yang sering berteman dengan korban, yang
mengatakan kalau tubuh anak saya sedang di kantor polisi,"
jelasnya. Ã Ãris/adi

No comments: