Tuesday, November 9, 2010

Sampurno Curhat Kasus Bandara

MARTAPURAÄ Ä © Terpidana kasus pembangunan Bandara Syamsudin Noor
Banjarbaru, Ir Sampurno B Bachrum, yang sebelumnya dipercaya
sebagai pimpinan proyek pembangunan yang divonis hukuman enam tahun
penjara, akhirnya curhat saat dijenguh H Aliansyah dan HM Sjachriel
Darham.
Á ÁBahkan Sampurno yang masih menggunakan baju narapidana tampak
bersemangat saat menerima sejumlah pembesuknya yang tak disangka di
antaranya adalah Ketua BPD Gapensi Kalsel, H Aliansyah maupun
mantan Gubernur Kalsel HM Sjachriel Darham, ke LP Martapura, Selasa
(9/11).
Á ÁPria yang saat ini memasuki masa pensiun dari Dinas
Perhubungan Kalsel ini juga tak banyak komentar saat saling
bersalaman dan berpelukan dengan mantan orang kuat di Kalsel
tersebut.
Á Á"Menjelang hari©hari kebebasan ini rasanya lama dan lama
sekali," ungkap Sampurno yang sebelumnya pernah menjabat Kasubdin
Pelabuhan Udara Dinas Perhubungan Provinsi Kalsel.
Á ÁBahkan, menurut warga yang merindukan Kota Kembang Bandung
ini, pihaknya tak pernah menyangka kalau kariernya akan berakhir di
LP Matapura.
Á ÁBagaimana tidak, sudah lama masyarakat Kalsel menginginkan
memiliki bandara haji seperti yang dimiliki daerah lainya. Misalnya
Balikpapan ataupun Solo dan keinginan tersebut ditangkap oleh pucuk
pimpinan daerah yang kala itu dipimpin Gubernur HM Sjahhriel Darham
yang didukung penuh oleh DPRD Kalsel serta sejumlah tokoh
masyarakat.
Á ÁRupanya di tengah desakan pembangunan dengan waktu yang
singkat, akhirnya tim sepakat menunjuk pelaksana pembangunan
Bandara Syamsudin Noor ke salah satu perusahaan milik negara.
Á Á"Kemajuan ini tentu saja membuat peningkatan ekonomi yang tak
bisa dihitung termasuk penyerapan lapangan kerja, jadi yang
dirugikan itu sebenarnya siapa dengan dibangunnya runway, itu yang
menjadi pertanyaan kita sampai saat ini," papar Sampurno.
Á ÁNamun dengan apa yang terjadi selama ini, Sampurno berusaha
iklas dan bertanggung jawab dengan tugasnya.
Á ÁMenurutnya, masyarakat luas jangan hanya piawai dalam
menyudutkan tentang masalah yang dilaluinya, tetapi justru banyak
juga yang diuntungkan dengan dampak pembangunan tersebut.
Á ÁMalah yang paling menggembirakan, selama dalam persidangan 18
kali, majelis hakim dari Pengadilan Negeri Banjarbaru sampai
Kejaksaan Agung pun, menyatakan, pelaksanaan pembangunan Bandara
Syamsudin Noor Banjarmasin bukan korupsi, tetapi hanya pelanggaran
Keppres No 18 tentang pelaksanaan penunjukan langsung.
Á ÁDari catatan, sebelumnya Sampurno yang dipidana enam tahun
penjara ini didakwa melanggar pasal 2 jo pasal 18 UU No 31 Tahun
1999 sebagaimana diubah dengan UU No 20 Tahun 2001 tentang
Pemberantasan Korupsi jo pasal 64 dan pasal 55 ayat (1) KUHP dan
dakwaan subsidair pasal 3 UU No 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah
dengan UU No 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Korupsi jo pasal
64 ayat (1) dan pasal 55 ayat (1) ke©1 KUHP.
Á ÁKronologis kejadian, kasus yang menghantarkan Sampurno danÔ h) 0*0*0*° ° Ô melibatkan Helmi Indra Sangun adalah mereka dituduh secara bersamaªsama melakukan tindak pidana korupsi sehingga daerah dirugikan
sebesar Rp14.754.452.790 dari nilai proyek pengembangan Bandara
Syamsudin Noor untuk embarkasi haji yang mendekati Rp100 miliar.
à Ãmad/adi

No comments: