Monday, November 22, 2010

Bercak 'Darah' Di Motor Revo Pembawa Korban

BANJARMASINÄ Ä © Senin (22/11), sejumlah petugas Resmob Sat I Krimum
Dit Reskrim Polda Kalsel curiga bercak diduga darah di motor Honda
Revo warna abu©abu les biru KH 6331 TA yang diperkirakan motor yang
pernah ditumpangi korban mutilasi, Fatmawati (16).
Á ÁPengambilan sampel dilakukan di hadapan Dwi, pemuda yang
diduga pernah membawa korban beberapa hari lalu sebelum korban
ditemukan menjadi korban mutilasi.
Á ÁKetika pengambilan sampel dilakukan secara hati©hati oleh
petugas, raut wajah Dwi, pemuda asal Palangkaraya terlihat tegang.
Bahkan, seorang petugas sengaja meraba dada Dwi mendeteksi
bagaimana reaksi jantung Dwi saat itu.
Á ÁSampel yang diduga darah tersebut kemudian dibawa lagi ke
dalam ruang penyidik bersama Dwi yang kerap mangkal di kawasan
siring depan rumah Banjar Pemprov Kalsel.
Á ÁArdiansyah, tukang parkir di kawasan itu yang ikut pula
dimintai keterangan sempat menuturkan bahwa korban sempat terlihat
naik motor yang dibawa Dwi, beberapa hari lalu.
Á ÁTak hanya itu, petugas yang dalam kasus ini membantu penyidik
Polres Banjar juga memeriksa sejumah teman yang diduga dekat dengan
korban. Kebetulan, sejumlah remaja tersebut tergabung dalam
komunitas anak punk Banjarmasin.
à ÃPunya pacarÄ Ä
Á ÁMenariknya, meski masih berstatus istri sah Syahlan (21),
korban Fatmawati, warga Jl Guntung Harapan, Landasan Ulin
Banjarbaru ini dua bulan terakhir ternyata menjalin cinta alias
pacaran denganÁ ¸ ¸ ÁMuhammad Ridha (17), warga Jl Sulawesi dekat SD di
Banjarmasin.
Á ÁEdi (20), warga Muara Teweh yang berteman juga dengan Fatma
membenarkan kalau antara Fatma dan Ridha berpacaran. "Saya juga
mengenalkan Fatma dengan Ridha. Kalau tak salah mereka berkenelan
dua bulan empat hari yang lalu," aku Edi yang memang dekat dengan
Ridha ini.
Á ÁRidha pun mengakui kalau antara ia dengan Fatma memang
berpacaran. Disinggung apakah ia mengetahui kalau Fatma sudah
bersuami, Ridha mengakui sudah mengetahui ketika diberitahu Fatma
sendiri.
Á Á"Saya berkenalan dengan Fatma dua bulan lalu di siring rumah
Banjar. Orangnya memang mudah akrab dengan siapa saja. Dia pernah
bilang kalau ingin mencari kekasih lagi, karena kurang sreg dengan
suaminya," tuturnya polos.
Á ÁNamun Ridha mengaku sudah cukup lama tidak berjumpa dengan
Fatma, karena seingatnya, ia terakhir berjumpa kala empat hari
menjelang hari raya Idul Adha. "Kala berjumpa itu, saya sedang
sakit, kemudian ia mengasih saya pil obat batuk dalam jumlah
banyak, sehingga saya sampai mabuk tak sadarkan diri," bebernya.
Á ÁRemaja ini juga mengaku bahwa Fatma pernah menginap di
rumahnya sekitar tiga hari. "Orangtua saya sampai marah©marahÔ h) 0*0*0*° ° Ô karena itu," ujar Ridha tersipu.
Á ÁRidha mengaku baru tahu kabar kematian Fatma setelah
diberitahu teman©temannya serta membaca koran. Ia mengaku terkejut
dan prihatin, namun tak berani untuk melihat jasad Fatma secara
langsung.
Á ÁJumat (19/11) sore sekitar pukul 18.30 Wita, warga di seputar
Kompleks Lutfia Tunggal dan dekat Kompleks Permata, Bincau,
Martapura, Kabupaten Banjar dikejutkan ditemukannya secara tak
sengaja oleh seorang warga, empat potongan bagian tubuh manusia
berjenis kelamin perempuan yang diduga adalah korban mutilasi.
Á ÁPenemuan ini sontak mengundang perhatian ratusan warga sekitar
yang penasaran ingin tahu dari dekat bagaimana bentuk tangan dan
kaki manusia yang sudah terpisah dari raga utuhnya itu.
Á ÁDari informasi, potongan yang ditemukan tanpa sengaja itu
terdiri dari kepala, tangan kanan dan tangan kiri serta kaki kiri.
Sayangnya, potongan kaki kanan dan tubuh masih misterius.
Belakangan, diketahui kalau korban adalah Fatmawati. Ã Ãadi

No comments: