Friday, October 22, 2010

Tanah Diduga Dibeli Rp50.000/Meter

BANJARMASINÄ Ä © Meski laporan dari Puslabfor Polda Jatim, di Surabaya
bahwa tanda tangan di SHM No 21/1972 atas nama Miansyah bin Tambi
yang dikuasai H Muhidin (Walikota Banjarmasin) dinyatakan identik
alias asli, namun materi di dalam SHM masih diragukan keasliannya
oleh penyidik Sat I Krimum Dit Reskrim Polda Kalsel.
Á ÁJumat (22/10), Dir Reskrim Kombes Pol Mas Guntur Laupe melalui
perwira penyidik AKP Alex Suwardi membenarkan bahwa laporan dari
Puslabfor bahwa tanda tangan di SHM No 21/1972 itu identik.
Á Á"Namun, materi isinya itu diduga hasil saduran, makanya kita
masih memintakan saksi ahli dari BPN Banjar untuk dinilai apakah
isi di dalam SHM itu benar asli ataukah hasil saduran (nyontek),"
tukas Alex.
Á ÁKecurigaan kalau SHM itu bermasalah diperkuat dengan harga
jual beli tanah di Jl A Yani Km 17 Gambut tersebut terkesan kurang
wajar, ditambah lagi adanya temuan awal dari tim ad hoc, kalau SHM
itu hasil menyontek SHM No 21/1972 atas nama L Koenoem yang letak
tanahnya di Jl A Yani Km 13 Gambut.
Á ÁInformasi yang diperoleh dari sumber di Kejati Kalsel,
tersangka penyerobot lahan, Emmy di depan penyidik Polda Kalsel
mengaku kalau ia menjual tanah tersebut ke H Muhidin pada 20
Desember 2006 sesuai bukti kwitansi jual beli.
Á ÁMasih dari sumber, tanah itu dihargai Rp50 ribu permeter dan
Emmy mengaku bahwa ia menjual tanah yang cukup luas itu senilai
kurang lebih Rp200 juta. Belakangan, H Muhidin membantah tanah itu
dibeli. Menurut Muhidin, uang Rp200 juta itu hanya uang untuk balik
nama, karena sebenarnya ia menghargai tanah itu Rp600 juta sesuai
dengan nilai pinjaman Emmy dalam bisnis sebelumnya.
Á ÁNamun, lanjut sumber, terlepas apakah Rp200 juta atau Rp600
juta, namun diduga ada ketidakwajaran dalam pembelian lahan
tersebut, mengingat harga lahan di tepi jalan negara itu, diduga
miliaran rupiah nilainya.
Á ÁKetut Bagiada SH, kuasa hukum Nirwanati, selaku pelapor dalam
kasus penyerobotan lahan di Jl A Yani Km 17 Gambut menerangkan,
kasus dugaan penyerobotan lahan milik Nirwanati yang diduga
dilakukan Emmy sebagaimana pasal 385 KUHP sudah dipastikan
terpenuhi unsurnya.
Á ÁAdapun mengenai dugaan pemalsuan SHM sebagaimana diatur dalam
pasal 263 KUHP akan diperdalam dengan jalan melengkapi bukti buku
tanah. Polisi berencana juga menyita buku tanah, dan untuk itu akan
dimintakan ke BPN Banjar. Ada kemungkinan dalam kasus ini terjadi
penadahan sebagaimana diatur dalam pasal 480 KUHP, jika terbukti
Emmy menjual tanah milik orang lain kemudian dibeli di bawah harga
standar oleh pembeli.
Á ÁEmmy, warga Banjarbaru dilaporkan Nirwanati (68), warga Jl
Pulo Mas III A/9 RT 004 RW 012 Kelurahan Kayu Putih Kecamatan Pulau
Gadung Jakarta Timur karena diduga sudah merugikan pelapor, setelah
memalsukan SHM No 21/1972.
Á ÁKuasa hukum Nirwanati, Ketut Bagiada SH yang berkantor Jl Hang
Tuah No 34A Sanur, Denpasar, Bali menerangkan kepada pers, akibat
tindakan Emmy, kliennya mengalami kerugian hingga Rp2 miliar,Ô h) 0*0*0*° ° Ô akibat tanah miliknya di Jl A Yani Km 17,45 Gambut, Kabupaten
Banjar sesuai SHM Nomor 537, pengeluaran Sertifikat Sementara
tanggal 10 Nopember 1977, di Desa Gambut, Kecamatan Gambut,
Kabupaten Banjar, Gambar Situasi No 602/77 seluas 10.000 meter
persegi atas nama Nirwanati, diserobot Emmy.
Á ÁDari hasil penelitian tim ad hoc yang ditandatangani Kepala
Bidang Pengkajian dan Penanganan Sengketa, Konflik dan Perkara
Pertanahan Amir Machmud Tjiknawi SH MH, diduga kuat SHM No 21/1972
atas nama Miansyah palsu atau hasil menyontek SHM No 21/1972 atas
nama L Koenoem yang letak tanahnya di Jl A Yani Km 13,600.
à Ãadi

No comments: