Tuesday, October 19, 2010

PWI Siap Mendukung Birhasani

BANJARMASINÄ Ä © Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Kalimantan
Selatan (Kalsel) siap memberikan dukungan terhadap Birhasani yang
diduga mengalami tindak kekerasan oleh seorang pejabat anggota DPRD
Kota Banjarmasin.
Á ÁBahkan PWI Cabang Kalsel sudah mempersiapkan tim pembelaan,
kalau ternyata presenter freelance TVRI Banjarmasin tersebut mau
melaporkan kasus dugaan kekerasan yang dialaminya baik kepada PWI
maupun aparat hukum Polresta Banjarmasin.
Á ÁSebelumnya PWI Cabang Kalsel sudah meminta kronologis dari
TVRI Banjarmasin, Selasa (19/10) pagi, untuk menjelaskan persoalan
dugaan kekerasan yang dialami salah satu presenter freelance TVRI
Banjarmasin tersebut.
Á ÁSedangkan di hari yang sama pada sorenya, tiga perwakilan dari
Koalisi Demokrasi Anti Anarkis (KDAA), juga mendatangai gedung PWI
cabang Kalsel, untuk meminta dukungan dan sikap tegas dari PWI.
Á ÁKetua PWI Cabang Kalsel, Drs Faturrahman yang didampingi Wakil
Ketua PWI Nor Daliani dan Sekretaris Zainal Helmie, yang menerima
KDAA, secara seksama mendengarkan keinginan mereka.
Á ÁSalah satu anggota KDAA bernama Hasanuddin mengatakan,
kedatangannya ke PWI bersama teman©temannya dalam rangka untuk
meminta dukungan, karena telah terjadi tindak kekerasan terhadap
presenter freelance TVRI Banjarmasin yang dilakukan oleh salah satu
pejabat anggota dewan Banjarmasin.
Á ÁKetua PWI cabang Kalsel Drs Faturahman, PWI merasa prihatin
dengan kasus yang telah menimpa salah satu presenter freelance TVRI
Banjarmasin, bahkan pada saat perwakilan TVRI datang ke PWI dan
menjelaskan duduk permasalahannya, hingga menciderai korban yang
memang tidak ada saksi yang melihat adanya kekerasan tersebut.
Á Á"Apalagi produk pemerintah datang ke salah satu media
sehingga terjadinya tindak kekerasan, memang sangat disayangkan
sekali. Seharusnya kalau memang ada salah satu pemberitaan atau
penyiaran yang tidak menyenangkan, bisa menggunakan hak jawab di
media tersebut," cetusnya.
Á ÁDari PWI sendiri memberikan apresiasi kepada masyarakat yang
peduli dengan hal tersebut. Jika ada upaya pencideraan dan sudah
mengganggu kemerdekaan pers dalam menjalankan tugas, seharusnya
pemerintah, TNI, Polri dan unsur bisa memberikan perlindungan.
Á ÁHingga kini PWI masih mengumpulkan data©data yang lebih jelas
baik dari pihak TVRI maupun korban bernama Birhasani yang hingga
kini masih belum bisa dihubungi.
Á ÁSetelah jelas permasalahannya, maka PWI akan menyampaikannya
kepada pers untuk secepatnya bisa diketahui keputusan dari
Birhasani atas kasus kekerasan yang telah dialaminya.
Á ÁDitambahkan Sekretaris PWI Kalsel Zainal Helmie, semua
kejadian maupun pemberitaan akan terus dipantau PWI Cabang Kalsel.
Á ÁSementara itu, Kepala Seksi Berita TVRI Banjarmasin, Tubagus
Yusuf Albanteny SSos, ditemui di ruang kerjanya menerangkan, hingga
kini pihaknya belum mengambil sikap dikarenakan masih menunggu
laporan secara tertulis dari Bihasani.
Á ÁBahkan hingga kini mengenai kejadian persisnya bagaimana,Ô h) 0*0*0*° ° Ô pihak TVRI masih belum mengetahui dengan jelas. Sebab hingga
kejadian malam itu yang bersangkutan tidak menjelaskan dan tidak
melapor.
Á ÁKalau memang sudah ada laporan dari Bihasani, pihak TVRI akan
sepenuhnya memberikan bantuan baik secara hukum maupun yang
lainnya.
Á ÁTidak adanya proses pengusutan kasus dugaan kekerasan terhadap
salah seorang pekerja media menyisakan satu pertanyaan, apakah Sat
Reskrim Polresta Banjarmasin hanya menunggu laporan?
Á ÁPadahal, semestinya kasus yang menimpa presenter freelance
TVRI Kalsel Birhasani ini bisa diproses tanpa laporan dari korban,
sebab kasus kekerasan seperti pemukulan itu bukan delik aduan namun
pidana murni.
Á ÁKasus pemukulan Birhasani oleh Z, oknum anggota DPRD
Banjarmasin di halaman TVRI Banjarmasin di Jl A Yani Km 5,5
Banjarmasin, Jumat (15/10) malam, usai membawakan sebuah acara
dialog di stasiun televisi tersebut ironisnya tak jauh dari
Walikota Muhidin.
Á ÁDir Reskrim Polda Kalsel Kombes Pol Mas Guntur Laupe
mengatakan, kasus pemukulan bukan delik aduan. "Bukan delik aduan
tapi pidana," ujar Guntur.
Á ÁNamun, lanjut Guntur, sebaiknya yang menjadi korbannya melapor
guna proses lebih lanjut. Ã Ãrds/adi

No comments: