Thursday, October 7, 2010

Berkas Tongkang Semestinya Wajib Diserahkan

BANJARMASIN Ä Ä© Diketahui, belum adanya penyerahan berkas penyidikan
kasus tongkang RMN 362 yang menabrak belasan rumah di Alalak
Berangas RT 02 Batola, dari Dit Polair Polda Kalsel ke Kejati
Kalsel, ternyata dipertanyakan juga oleh pengamat hukum.
Á ÁPengamat hukum asal Unlam Banjarmasin, Helmi SH mengatakan,
penyidik semestinya wajib melimpahkan berkas ke kejaksaan, meskipun
ada pemberhentian penyidikan karena ada ganti rugi dari perusahaan
terhadap 12 kepala keluarga (KK) yang menjadi korban rumahnya
tertabrak tongkang RMN 362 tersebut.
Á ÁMenurut Helmi, dasar dari penyidikan bisa karena suatu
tindakan atau kelalaian mengakibatkan kematian dalam hal ini diatur
pasal 359 KUHP, pasal 360 KUHP menyebabkan luka atau pasal 210 KUHP
yang mengatur kerusakan. Jika memang itu sesuai dengan salah satu
pasal maka penyidik wajib melimpahkan berkasnya.
Á Á"Kalau itu memang sesuai pasl 210 KUHP tentang pengrusakan,
berkas memang wajib di limpahkan ke kejaksaan," kata Helmi yang
melihat kasus tongkang ini dari sudut pandang pasal 210 KUHP
tentang pengrusakan harta benda milik orang lain.
Á Á"Lantas, apakah pidananya bisa diberhentikan begitu saja oleh
penyidik jika sudah dilakukan ganti rugi terhadap semua warga yang
menjadi korban? Maka hal itu tergantung pihak kejaksaan. "Jika
sudah dilimpahkan tinggal pertimbangan kejaksaan apakah dilanjutkan
ke persidangan," tandasnya.
Á ÁIa menegaskan, kalaupun proses penyidikan diberhentikan oleh
penyidik, pihak penyidik tetap harus mengkoordinasikan dengan pihak
kejaksaan untuk dikeluarkan Surat Pemberitahuan Penghentian
Penyidikan (SP3).
Á ÁPenyidikan kasus ini diberhentikan pihak penyidik Gakkum Dit
Polair Polda Kalsel setelah pihak perusahaan PT KSA melakukan ganti
rugi terhadap warga yang menjadi korban meskipun sebelumnya nahkoda
TB KSA 01 sudah diperiksa.
Á ÁSementara itu, Dir Polair Polda Kalsel AKBP Yulius Bambang
melalui KasiGakkum AKP Yudi Ridarto SIK menerangkan, memang
pihaknya belum mengirimkan berkas kasus tersebut ke Kajati Kalsel.
Á Á"Berkasnya memang masih belum kami kirim. Namun, tidak selalu
perkara kecelakaan harus dibawa ke pengadilan, selama korban tidak
keberatan karena sudah mendapat ganti rugi dari perusahaan pemilik
tugboat dan tongkang," cetus Yudi.
Á ÁDi lain pihak, salah seorang pengamat hukum lainnya bernama
Abi mengatakan, pemahaman hukum pidana jangan kaku. Menurutnya,
jika ada jalan mediasi untuk menyelesaikannya tidak perlu lagi
dilanjutkan. "Jika memang sudah diganti rugi tidak mesti
dilanjutkan lagi kasusnya," ujar Abi.
Á ÁPeristiwa tabrakan ini bermula ketika tongkang RMN 362 yang
sedang ditarik tugboat KSA 01 menuju arah Pulau Kembang tanpa
muatan. Mungkin dikarenakan kabut dan menghindari tabrakan dengan
kapal kecil, tongkang terbawa arus hingga melaju ke arah perumahan
warga.
Á ÁDalam jarak dekat, nakhoda tidak bisa membanting kemudi untuk
melepaskan dari rumah warga. Dalam sekejap semua yang berada di
pinggir perairan Sungai Kuin tersebut dihantam tongkang. Beberapa
rumah dan perahu kelotok serta jukung yang parkir di lokasi
kejadian hancur berantakan.Ô h) 0*0*0*° ° ÔŒÁ ÁBegitu juga dengan perumahan warga. Sebagian rumah warga
mengalami kerusakan bagian dapur. Namun, rumah Anang Saini yang
mengalami kerusakan paling parah. Setengah rumahnya dari bagian
dapur tak bersisa. Beberapa perabotan harta benda juga rusak karena
kerasnya hantaman tongkang. Laju tongkang baru berhenti setelah
menabrak pangkalan tongkang SPBU apung PT BAS milik H Adan.Ã Ã adi

No comments: