Sunday, September 5, 2010

Penerimaan Fotokopi SHM No 21/1972 Disayangkan

BANJARMASINÄ Ä © Ketut Bagiada SH, kuasa hukum Nirwanati, selaku
pelapor dalam kasus penyerobotan lahan di Jl A Yani Km 17 Gambut
menyayangkan, kenapa pihak Dit Reskrim Polda Kalsel mau menerima
salinan alias fotokopi SHM No 21/1972 yang diberikan H Muhidin
untuk diperiksa oleh Lab Forensik Polda Jatim.
Á ÁMenurut Bagiada lagi, SHM yang diduga palsu tersebut yang
awalnya milik terlapor, Emmy (tersangka) dan kini sedang berada di
tangan Muhidin, semestinya diserahkan ke polisi untuk diteliti
keasliannya.
Á Á"Untuk kepentingan itu, yang bersangkutan semestinya
menyerahkan dokumen asli, bukan salinan apalagi fotokopi. Sebab,
salinan dokumen itu tidak mewakili dokumen asli untuk kepentingan
penyidikan, walaupun dilegalisir oleh seribu notaris sekalipun,"
tandasnya.
Á ÁBagiada mengaku tidak mengerti sikap H Muhidin (kini Walikota
Banjarmasin) yang menyerahkan salinan SHM yang diduga palsu itu.
"Kami juga menyayangkan pihak Dit Reskrim yang mau menerima salinan
SHM yang diteliti keabsahannya itu. Sebab, kami yakin pihak Dit
Reskrim tahu bahwa guna kepentingan penyidikan ekabsahan sebuah
dokumen, yang diperlukan adalah dokumen asli," jelasnya.
Á ÁBahkan, lanjutnya, dokumen SHM No 21/1972 atas nama Miansyah
bin Tambi yang sebenarnya sudah ada izin disita dari pengadilan,
justru masih berada di tangan H Muhidin.
Á ÁMenurutnya, ia sudah menyurati Kapolda Kalsel Brigjen Pol
Untung S Rajab terkait masalah ini, sehingga Kapolda berkenan
memberikan perhatian lebih dini, sehingga tidak terlanjur salinan
SHM itu dijadikan objek penelitian di Lab Forensik. Sebab, jika hal
itu terjadi, maka apapun hasilnya, menurut Bagiada akan cacat
hukum.
Á Á"Kami mengimbau kepada Muhidin agar menyerahkan SHM asli,
bukan salinan atau fotokopi sebagai wujud niat baik membantu polisi
dalam penelitian keabsahan dokumen itu.
Á ÁSebagaimana diketahui, polisi dari Sat I Krimum Dit Reskrim
Polda Kalsel masih menunggu bagaimana hasil penelitian Lab Forensik
Polda Jatim apakah SHM No 21/1972 yang dikuasai H Muhidin itu palsu
ataukah memang asli sebagaimana pengakuan sepihak Muhidin.
Á ÁKamis (19/8), Dir Reskrim Polda Kalsel Kombes Pol Mas Guntur
Laupe mengatakan, Muhidin ada menyerahkan salinan SHM No 21/1972
yang sudah dilegalisir oleh notaris.
Á Á"Salinan SHM itu kini sedang diperiksa di Lab Forensik Polda
Jatim untuk diteliti keabsahannya. Kita tunggu saja bagaimana hasil
penelitian dari tim ahli," cetusnya kala itu.
Á ÁKasus dugaan penyerobotan lahan milik Nirwanati yang diduga
dilakukan Emmy sebagaimana pasal 385 KUHP sudah dipastikan
terpenuhi unsurnya.
Á ÁAdapun mengenai dugaan pemalsuan SHM sebagaimana diatur dalam
pasal 263 KUHP akan diperdalam dengan jalan melengkapi bukti buku
tanah. Polisi berencana juga menyita buku tanah, dan untuk itu akan
dimintakan ke BPN Banjar. Ada kemungkinan dalam kasus ini terjadi
penadahan sebagaimana diatur dalam pasal 480 KUHP, jika terbuktiÔ h) 0*0*0*° ° Ô Emmy menjual tanah milik orang lain.
Á ÁEmmy, warga Banjarbaru dilaporkan Nirwanati (68), warga Jl
Pulo Mas III A/9 RT 004 RW 012 Kelurahan Kayu Putih Kecamatan Pulau
Gadung Jakarta Timur karena diduga sudah merugikan pelapor, setelah
memalsukan SHM No 21/1972.
Á ÁKuasa hukum Nirwanati, Ketut Bagiada SH yang berkantor Jl Hang
Tuah No 34A Sanur, Denpasar, Bali menerangkan kepada pers, akibat
tindakan Emmy, kliennya mengalami kerugian hingga Rp2 miliar,
akibat tanah miliknya di Jl A Yani Km 17,45 Gambut, Kabupaten
Banjar sesuai SHM Nomor 537, pengeluaran Sertifikat Sementara
tanggal 10 Nopember 1977, di Desa Gambut, Kecamatan Gambut,
Kabupaten Banjar, Gambar Situasi No 602/77 seluas 10.000 meter
persegi atas nama Nirwanati, diserobot Emmy.
Á ÁDari hasil penelitian tim ad hoc yang ditandatangani Kepala
Bidang Pengkajian dan Penanganan Sengketa, Konflik dan Perkara
Pertanahan Amir Machmud Tjiknawi SH MH, diduga kuat SHM No 21/1972
atas nama Miansyah palsu atau hasil menyontek SHM No 21/1972 atas
nama L Koenoem yang letak tanahnya di Jl A Yani Km 13,600.
à Ãadi