Thursday, September 2, 2010

Memeras, Kepala BPN Banjar Ditangkap

BANJARMASINÄ Ä © Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten
Banjar, Edy Sofian Nur tertangkap di Bandara Soekarno Hatta
Jakarta, Kamis (2/9) sekitar pukul 15.30 Wita. Ia sebelumnya sudah
diketahui menerima uang 'perasan' dari seorang notaris yang
dirahasiakan idenitasnya. Edy sendiri telah dipantau gerak©geriknya
sejak sebulan lalu oleh tim gabungan dari Kejaksaan Agung
(Kejagung) dan Kejati Kalsel.
Á Á"Ini kan tertangkap tangan. Dia di Bandara Syamsudin Noor di
Kalsel telah terima uang dari notaris, lalu kita foto. Terus kita
ikuti, hingga ke bandara sini (Bandara Soekarno©Hatta), dia turun
kita tangkap," terang Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum)
Kejagung, Babul Khoir Harahap kepada wartawan di Gedung Bundar
Jampidsus Kejagung, Jl Sultan Hasanuddin, Jakarta Selatan, Kamis
(2/9).
Á ÁBabul menjelaskan, tim gabungan dari intelijen dan pidana
khusus Kejagung dan Kejati Kalsel sudah memantau gerak©gerik Edy
sejak sebulan yang lalu. Bahkan, telepon genggam Edy juga telah
disadap.
Á Á"Sudah kita pantau sejak jauh©jauh hari, sejak sebulan lalu.
Teleponnya sudah kita sadap juga," tuturnya.
Á ÁDari hasil pemantauan dan penyadapan tersebut, diketahui bahwa
Edy telah beberapa kali memeras para notaris yang hendak melakukan
praktik jual beli tanah maupun pemindahan hak.
Á Á"Kalau mau jual beli tanah kan ke notaris, nah diperas oleh
tersangka, dimainkan oleh dia," ujarnya.
Á ÁEdy yang sudah menjabat sebagai Kepala BPN Banjar selama
delapan tahun ini, bahkan tersadap meminta uang ke notaris sebesar
Rp400 juta. Transaksi serah terima uang tersebut kemudian dilakukan
di sebuah cafe di Bandara Syamsudin Noor.
Á Á"Dia (Edy) minta ke notaris Rp400 juta sekian, baru dikasih
DP©nya sekitar Rp38 juta. Karena terlalu besar uang yang dikasih
pecahannya Rp20 ribu, maka ditukarkan dulu sama dia, tapi terus
diikuti sama kita," jelas Babul.
Á ÁKemudian, tim gabungan terus mengikuti Edy yang saat itu akan
terbang ke Jakarta. Tim gabungan mengikuti Edy hingga tiba di
Bandara Soekarno©Hatta dan menangkapnya seusai turun dari pesawat
Lion Air.
à ÃDapat uang Rp50©150 juta perbulanÄ Ä
Á ÁSementara itu, Kajati Kalsel Abdul Taufiq di hadapan wartawan
lokal, mengakui bahwa tim gabungan dari Kejagung dan Kejati Kalsel
telah menangkap Edy di Bandara Soekarno©Hatta Jakarta, sore
kemarin.
Á ÁMenurutnya, Edy diduga melakukan aksi pemerasan terhadap
notaris©notaris di Banjar sejak tahun 2003 hingga sekarang dengan
omzet mulai Rp50 juta hingga Rp150 juta perbulan.
Á ÁPraktik terlarang itu jelas membuat biaya tinggi dalam
pengurusan peralihan hak, termasuk pengurusan hak tanah. Perbuatan
Edy jelas©jelas melangkahi wewenangnya sebagai Kepala BPN Banjar,
mengingat terif standar pembuatan peralihan hak semestinya tidak
setinggi sebagaimana yang sudah dibebankan Edy.
Á ÁKeluhan©keluhan para notaris kemudian dilaporkan ke Kejagung,
dan Kejagung lalu berkoordinasi dengan Kajati Kalsel untuk
melakukan penyadapan dan pemantauan terhadap Edy, hingga akhirnyaÔ h) 0*0*0*° ° Ô ditangkap. Menariknya, mantan Kepala BPN Banjar sebelum Edy,
Iskandar Djamaludin juga tersangkut masalah hukum. Iskandar kini
jadi buronan Kejati Kalsel karena mangkir dari eksekusi atas vonis
kasasi Mahkamah Agung selama lima tahun dalam perkara korupsi
pembebasan lahan eks Pabrik Kertas Martapura. Ã Ãdtk/adi

2 comments:

Anonymous said...

Saya sangat memohon kepada masyarakat indonesia yang mencintai atau sangat gemar mengkriminalisasi/merekayasa kasus untuk menghormati asas praduga tak bersalah. Ada tabir gelap yang berbau kriminalisasi atas perkara Kepala BPN Banjar tsb. Hukum dan keadilan yang tanpa tebang pilih harus ditegakkan

Adi Permana bin H Ali Basrah bin Barihun bin Taib bin Katar said...

Analisisnya gimana Pak, apa bisa diperjelas????