Friday, September 3, 2010

Kompol Yudi Chandra Cuma Ditegur Tertulis



BANJARMASIN © Ada kejanggalan sedikit ketika sidang disiplin
dilakukan terhadap terperiksa Kompol Yudi Chandra, oknum eks Kanit
I Sat I Dit Narkoba Polda Kalsel, Jumat (3/9). Yudi oleh pimpinan
sidang AKBP Sunyipto, pendamping I AKBP Santoso dan pendamping II
AKBP Edya K cuma diputus diberi teguran tertulis.
Á ÁPadahal, apa yang sudah dilakukan Kompol Yudi beserta keempat
anakbuahnya cukup serius, karena berkaitan dengan dugaan pemerasan
senilai Rp150 juta dari tujuh warga yang diduga terlibat pesta
sabu, terbilang pelanggaran serius dan bisa masuk ranah pidana.
Á ÁSinyalemen mengemuka, kalau sanksi yang diberikan sebenarnya
sudah diseting sedemikian rupa oleh oknum petinggi di Polda Kalsel.
Pasalnya, ketika masa jeda sebelum putusan, AKBP Sunyipto, sebagai
pimpinan sidang, sempat menyeletuk bahwa tugasnya sekadar
'mengukuhkan'. Apa yang dimaksud dengan kata 'mengukuhkan' itu
memang masih misteri.
Á ÁNamun, ada kesan seolah©olah, sanksi terhadap Kompol Yudi
seperti sudah diketahui sebelumnya atau sudah ditentukan, sebelum
sidang disiplin di gedung Biro Personil Polda Kalsel itu digelar.
Alhasil, sidang disiplin menjadi sekadar formalitas saja guna
memenuhi ketentuan peraturan di tubuh Polri.
Á ÁKeanehan lain, para penuntut, terdiri Kompol Toetoes dan Iptu
Syahrudin juga tidak jelas menentukan pilihan tuntutannya, karena
merekomendasikan semua jenis sanksi, sebagaimana isi pasal 3 huruf
f, g dan pasal 6 huruf q PP No 2 Tahun 2003 tentang Peraturan
Disiplin Polri.
Á ÁTuntutan yang diberikan bisa teguran secara tertulis,
penundaan mengikuti pendidikan, penundaan kenaikan pangkat,
penundaan gaji berkala, mutasi dan bisa juga kurungan badan
maksimal 21 hari.
Á ÁDalam uraiannya, majelis pimpinan sidang mengungkapkan, Kompol
Yudi terbukti bersalah dengan sengaja berbuat sesuatu yang
melanggar kedisplinannya sebagai seorang anggota Polri, sehingga
berpotensi merusak citra Polri di mata masyarakat. "Kepada
terperiksa diberi sanksi teguran tertulis," ucap pimpinan sidang
AKBP Sunyipto.
Á ÁUraian perkara, pada Minggu, 6 Maret 2010 sekitar pukul 04.00
Wita, Kompol Yudi Chandra mendapat informasi bahwa ada pesta sabu
di sebuah rumah di Jl A Yani Km 1 Gg Aneka No 29 Banjarmasin.
Á ÁKemudian bersama anakbuahnya, terperiksa melakukan
penggeledahan di kediaman Fauzi alias Jejen. Di sana ada empat
orang sedang tidur©tiduran dan tiga lainnya sedang ngobrol. Namun,
terperiksa bersama anakbuahnya tidak menemukan barang bukti.
Á ÁGuna pengembangan, ketujuh saksi lalu dibawa ke Dit Narkoba
Polda Kalsel untuk diperiksa air seninya. Namun, Fauzi kepada
terperiksa mengakui kalau ada Benny yang bisa menyediakan sabu.
Á ÁLalu dilakukan pemancingan untuk menangkap Benny dengan cara
menyiapkan transaksi di HBI. Makanya oleh terperiksa, tujuh warga
ditempatkan di kamar 203 HBI Jl A Yani Km 3,5.
Á ÁMeski usaha penangkapan Benny gagal, namun ketujuh saksi
ternyata belum dipulangkan, meski tak ada bukti yang kuat mereka
terlibat pesta sabu.Á h h # Á
Á ÁSebagaimana diungkapkan saksi Brigadir Toriq dan Brigadir AgusÔ h) 0*0*0*° ° Ô Lowo, ternyata Yuliansyah Firdaus meminta nomor rekening mereka
dengan alasan untuk kepentingan pribadi.
Á ÁAlhasil, terjadilah transfer haram ke rekening anggota Sat I
Dit Narkoba itu, seperti ke rekening Brigadir Toriq di BNI senilai
Rp26 juta, Khairunnisa di Bank Mandiri Rp90 juta, kemudian ke
rekening Brigadir Agus di BRI Rp30 juta, serta uang kontan Rp4 juta
ke Brigadir Toriq.
Á ÁDiduga, karena semua operasi ilegal itu tersiar ke luar,
bahkan diketahui anggota Sat I Krimum Dit Reskrim Polda Kalsel dan
para wartawan yang ngepos di Polda, semua uang kemudian
dikembalikan lagi kepada ketujuh warga. Ã Ãadi

No comments: