Thursday, August 26, 2010

Mantan Dirut RS H Badarudin Dituntut 2 Tahun Penjara

TANJUNGÄ Ä © Jaksa penuntut umum (JPU) melayangkan tuntutan pidana
terhadap terdakwa kasus korupsi penyediaan alat cuci darah Rumah
Sakit Umum Daerah (RSUD) H Badaruddin Tanjung Drg Hj Rukiah alias
Ruki binti H Basran selama dua tahun penjara, dikurangi terdakwa
selama ditahanan.
Á ÁSelain itu, JPU juga mengenakan denda Rp50 juta subsider tiga
bulan kurungan. Menurut JPU Nurul Anwar SH MHum, tuntutan dua tahun
penjara lebih ringan dari yang seharusnya lima tahun sampai enam
tahun penjara,
Á Á"Hal yang meringankan terdakwa bersikap sopan, sehingga
memperlancar jalannya persidangan. Terdakwa mengakui kasus yang
terjadi karena kelalaian dirinya dalam menjalankan tugas selaku
pengguna anggaran. Kemudian, terdakwa tidak menikmati hasil dari
tindak pidana korupsi yang terjadi dan terdakwa belum pernah
dihukum," ujar Anwar di hadapan sidang, Kamis (26/8) di Pengadilan
Negeri (PN) Tanjung di Tanjung.
Á Á"Adapun hal yang memberatkan yaitu, perbuatan terdakwa tidak
mendukung program pemerintah yang sedang gencar©gencarnya berupaya
memberantas tindak pidana korupsi, dan perbuatan terdakwa telah
menimbulkan kerugian bagi keuangan negara cq Pemerintah Daerah
Tingkat II Kabupaten Tabalong," terang Anwar.
Á ÁDalam Surat tuntutan nomor registrasi perkara
PDS:05/TANJG/05/2010 itu, Anwar menegaskan terdakwa, mantan
Direktur RSUD H Badaruddin Tanjung Hj Rukiah telah terbukti
bersalah secara sah dan meyakinkan turut serta melakukan tindak
pidana korupsi dengan menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau
sarana yang ada padanya, karena jabatan atau kedudukan sebagaimana
diatur dan diancam dalam pasal 3 jo pasal 18 UU No 31 Tahun 1999
yang telah dirubah dan ditambah dengan UU No 20 Tahun 2001 jo pasal
55 ayat ke©1 KUHP tersebut dalam dakwaan subsider.
Á Á"Berdasarkan data perhitungan sesuai laporan hasil perhitungan
kerugian negara (LHP), jumlah kerugian keuangan negara atau daerah
sebesar Rp118.554.545 akibat ketidaksesuaian antara satu unit
anaesthesia machine yang ditentukan dalam kontrak adalah buatan
negara Korea akan tetapi yang diserahkan oleh pihak rekanan (CV
Andiyamita) adalah buatan China," ungkap Anwar di muka sidang.
Á ÁSidang dengan agenda pembacaan tuntutan yang berjumlah 67
halaman, dibacakan JPU secara bergantian selama lebih kurang dua
jam, dipimpin oleh Didiek Jatmiko SH didampingi oleh Budi Hermanto
SH dan Deka Rachman B SH, Nurul Anwar SH Mhum dan D Hastaryo SH,
kemudian dari terdakwa hadir Drg Hj Rukiah didampingi kuasa
hukumnya Syarifani.
Á ÁSidang akan dilanjutkan Kamis (2/9) mendatang dengan agenda
pembelaan dari terdakwa. Ã Ãale/adi

No comments: