Sunday, August 1, 2010

Dua Sopir Taksi Nekat Jual Sabu

BANJARMASINÄ Ä © Dengan alasan penumpang saat ini sepi, dua orang
sopir taksi jurusan Banjarmasin©Tanjung nekat menjalani bisnis
haram jualan sabu. AKibatnya, Ulis (37), warga Jl Pematang Kompleks
Ilham Yusuf, Gambut dan Iwan (33) warga Jl Sungai Lulut Km 7,6
Kompleks Citra Abadi RT 09, Sei Tabuk harus berurusan dengan
polisi.
Á ÁMereka tertangkap Jumat (30/7) sore sekitar pukul 15.30 Wita
di lokasi berbeda. Ulis ditangkap aparat Sat I Dit Narkoba di Jl
Pematang Kecamatan Gambut bersama dengan barang bukti satu paket
sabu berat kotor 5,02 gram atau berat bersih 4,82 gram.
Á ÁAdapun Iwan ditangkap setengah jam kemudian di rumahnya
sendiri bersama barang bukti tiga paket sabu dengan berat kotor
6,36 gram atau berat bersih 5,75 gram.
Á ÁInformasi dieproleh, tertangkapnya kedua sopir taksi ini hasil
penyamaran yang dilakukan salah seorang petugas Sat I Dit Narkoba
Polda Kalsel.
Á ÁPetugas penyamar menghubungi Ulis. Ulis yang tak curiga setuju
melakukan transaksi di tempat yang sudah disepakati. Di Jl Pematang
Gambut itu, begitu Ulis mau menyerahkan sabu, penyamar langsung
membekuknya tanpa perlawanan.
Á ÁBegitu diinterogasi, Ulis mengaku kalau dirinya hanya
menjualkan sabu milik Iwan. Tanpa membuang waktu, petugas bergerak
menuju ke rumah Iwan.
Á ÁIwan ketika ditatangi tengah tidur dan lagi menunggu
kedatangan Ulis untuk mengambil uang hasil penjualan sabu©sabu itu.
Á ÁIwan yang terkejut karena kedatangan petugas tak bisa
berkutik, apalagi petugas kembali menemukan barang bukti, yakni
sebanyak tiga paket sabu di dalam kamar Iwan.
Á Á"Barang sabu itu adalah milik Iwan. Saya cuma menjualkan dan
mengambil upah. Memang saya biasa juga memakai sabu," ucap Ulis
menyesal.
Á ÁSelama mengedarkan sabu itu, Ulis mendapatkan upah Rp100 ribu
untuk sekali transaksi. "Kebetulan selama ini, uang dari menarik
taksi jurusan Banjarmasin©Tanjung tidak seberapa hasilnya, maka mau
ketika ditawari upah kalau sukses menjual sabu," tuturnya lagi.
Á ÁDalam seminggu, Ulis mengaku cuma mendapat mendapatkan upah
dari pemilik taksi sebesar Rp100 ribu sampai Rp150 ribu. "Uang itu
tentu saja tidak cukup untuk menghidupi keluarga," tambah Ulis.
Á ÁKasat I Dit Narkoba AKBP I Made Wijana mengakui bahwa pihaknya
berhasil menangjap dua orang sopir taksi yang mengedarkan sabu.
Á Á"Keduanya tertangkap begitu ada informasi bahwa sering terjadi
transksi narkotika di kawasan Pematang," cetusnya. Ã ÃadiÄ Ä


Sempat Buang Sabu Ke Kloset
Á ÁIWAN sebelum kedatangan petugas memang tengah menunggu
kedatangan Ulis yang memang disuruhnya bertransaksi sabu.
Á ÁNamun, gerak langkah petugas Sat I Dit Narkoba Polda Kalsel
yang melakukan penggerebekan di rumah Iwan ternyata sempat diketahui sanga tuan rumah. Ketika petugas mengetok rumahnya, Iwan
sempat©sempatnya membuang sabu ke dalam kloset.
Á ÁBegitu selesai membenamkan tiga paket sabu ke dalam kloset,
Iwan lalu bergegas membukakan pintu.
Á ÁPetugas yang belum mengetahui tiga paket sabu milik Iwan sudah
dibuang Iwan agak kebingungan juga menggeledah rumah, karena barang
bukti tak ditemukan.
Á ÁNamun, ketika petugas pergi ke toilet, mata petugas curiga ada
sesuatu yang tak beres di kloset tersebut. Petugas kemudian nekat
membongkar kloset tempat orang membuang hajat itu.
Á ÁBerhasil, meski berbau, barang bukti ditemukan juga. Iwan
lantas tak bisa lagi mengelak karena polisi sudah mengantongi
barang bukti.
Á ÁIwan menuturkan, ia terpaksa menjual sabu karena hasil menjasi
sopir taksi jurusan Banjarmasin©Tanjung tak mencukupi kebutuhan
hidup.
Á Á"Dulu saya juga pernah masuk penjara karena kasus yang sama
dan di tahun 2006 kemarin saya bebas. Tapi mau apa lagi Pak, jadi
sopir taksi saja, penghasilannya tak bisa mencukupi kebutuhan
keluarga," aku ayah tiga anak ini.
Á ÁIwan mengakui ia baru empat bulan menjalani bisnis haram itu.
Dalam satu minggu diakuinya ia bisa menjual sabu dua kantong. Untuk
satu kantong, ia membeli seharga Rp1,6 juta dan bisa terjual lagi
senilai Rp1,9 juta. Keuntungan perminggunya bisa Rp2 juta. Ã Ãadi

No comments: