Monday, August 9, 2010

Aturan Hukum Untuk DAS Batubara

BANJARMASINÄ Ä © Maraknya musibah banjir di Kalsel, seperti di Tanah
Bumbu (Tanbu), Banjar, Tanah Laut (Tala) dan kawasan lain yang
kebetulan banyak terdapat tambang batubara, ternyata menjadi
keprihatinan bagi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kalsel.
Á ÁEfek tambang, baik itu melibatkan angkutan batubara lewat
sungai maupun material tambang yang terbawa arus kemudian mengendap
di muara, diyakini sebagai faktor penyebab musibah banjir tersebut.
Á ÁBaru©baru ini, Waketum Bidang Pertambangan Kadin Kalsel, H
Parlin Riduansyah menyampaikan kepada wartawan soal keprihatinan
dan usulan solusi untuk mengatasi dampak banjir tersebut.
Á ÁKasus banjir besar yang melanda kawasan Satui, Tanbu termasuk
di Tala, menurut Parlin sangat merisaukan pihaknya.
Á ÁSebagai contoh, lanjutnya, keberadan daerah aliran sungai
(DAS) Satui yang menjadi urat nadi transportasi batubara lewat air,
keberadaannya sudah cukup mengkhawatirkan.
Á ÁPengiriman batubara menggunakan tongkang, diketahui
memanfaatkan DAS Satui. Sayangnya, lanjutnya, semakin hari endapan
dasar sungai semakin meninggi. Diakuinya, mulanya pada posisi
hilir, endapan material tambang pernah dikeruk oleh PT Arutmin
Indonesia Site Satui. Namun akibat tingginya aktifitas pertambangan
di kawasna hulu, kemudian limbahnya terseret air hujan, maka
pengendapan material ke bagian hilir terus saja terjadi dan
cenderung semakin mendangkalkan bagian hilir.
Á ÁKondisi bagian hilir yang semakin dangkal, justru makin
diperparah dengan adanya pelsus dan stockpile (loading port).
Á ÁTak hanya itu, perusahaan tambang juga banyak membangun jettyªjetty, atau pelabuhan tongkang yang menjorok ke tengah sungai
sehingga mengganggu kelancaran lalu lintas air sungai.
Á ÁAkibat sejumlah fasilitas tersebut membuat endapan dasar
sungai meninggi mulai batas perusahaan tersebut hingga ke hulu, dan
kondisi ini semakin parah dari tahun ke tahun.
Á ÁParlin kemudian menyampaikan solusi agar ada perangkat hukum
seperti peraturan daerah yang mengatur tata cara pembangunan jettyªjetty agar tidak menjorok ke tengah sungai.
Á ÁCaranya, jetty©jetty itu dibangun ke dalam atau dibuat mirip
kanal, seukuran tongkang. "Wadah parkir tongkang itu dibuat khusus
sehingga tidak memakan badan sungai, mungkin dengan cara dibuatkan
kanal. Dengan demikian, lebar sungai yang 100 meter akan tetap 100
meter, meski ada jetty©jetty itu," tukasnya.
Á ÁDi samping itu, harus ada kerja sama dari pengusaha dan
pemerintah untuk secara rutin melakukan pengerukan di bagian hilir
sungai atau muara sungai, sehingga kedalaman sungai tetap terjaga
dengan baik.
Á ÁSelain akan tetap melancarkan lalu lintas angkutan tongkang
batubara, kedalaman sungai yang normal akan membantu mengurangi
dampak banjir jika terjadi musim hujan.
Á ÁPengerukan bagian hilir, menurut Parlin harus dikelola secara
bersama dalam satu wadah seperti Kadin, kemudian diterapkan
pembayaran fee dari setiap perusahaan yang menggunakan DAS ini
untuk pembiayan perawatan sungai.
Á Á"Jika ada aturan hukum untuk mengatur pembangunan jetty©jetty
dan juga payung hukum untuk pemeliharaan alur dengan penerapan fee,
tentunya dampak banjir bisa dikurangi atau malah dihindari,"Ô h) 0*0*0*° ° Ô paparnya. Ã Ãadi

No comments: