Thursday, July 22, 2010

Penanganan Korupsi Naik 30 Persen

BANJARMASINÄ Ä © Dalam paparan kinerja kejaksaan di Kalsel, Kajati
Kalsel Abdul Taufiq SH MH membeberkan bahwa pihaknya sudah cukup
berhasil menangani kasus korupsi. Hingga pertengahan tahun ini
saja, sudah 78 kasus yang ditangani, naik 30 persen ketimbang 2009
yang menangani 60 kasus.
Á ÁKajati dalam jumpa pers menyambut Hari Bhakti Adhyaksa ke©50,
Rabu (21/7), menambahkan, hal itu tidak lantas membuat pihaknya
berpuas diri, namun akan semakin terpacu untuk meminimalisir
korupsi di daerah ini.
Á ÁBerdasarkan paparan As Pidsus Kejati Kalsel Erwindu SH MH,
tiap daerah kabupaten menangani lima kasus korupsi, meski ada juga
sekitar lima daerah yang kejaksaannya masih minim menangani kasus
korupsi. Menariknya, di Kejari Pelaihari, menyelidiki sembilan
kasus dan tiga lainnya sudah naik ke penyidikan.
Á ÁSepanjang Januari hingga Juni 2010 ini, setidaknya kejaksaan
sudah mampu menyelamatkan keuangan negara sebesar Rp2,4 miliar,
masing©masing bersumber dari penyitaan dari tersangka korupsi Irwan
Baramuli Rp1,6 miliar, Talhah Rp472,3 juta, Sirajul Munir Rp33
juta, Johan Lakuleky Rp10 juta dan Remondsyah Rp338,4 juta.
Á ÁMeski aparat kejaksaan cukup terbatas jumlahnya, kejaksaan
terus berusaha profesional dan maksimal menangani kasus©kasus.
Menurut As Bin Kejati Fudhoil Yamin SH, ada 165 jaksa pria dan 48
jaksa wanita ditambah tenaga TU 221 pria dan 117 wanita. Masih ada
kekurangan 150 tenaga baik jaksa maupun TU jika didasari kebutuhan
ideal.
Á ÁSementara As Intel Kejati Sumardi SH MH menerangkan, khusus
untuk penyelidikan kasus korupsi, tak termasuk pidana khusus
seperti kasus bea dan cukai serta perairan, pihaknya sedang
menyelidiki setidaknya 36 kasus dan 23 di antaranya sudah dinaikkan
ke tingkat penyidikan.
Á ÁSayangnya, Sumardi tidak membeberkan berapa kasus yang
sebenarnya dihentikan dari penyelidikan yang dengan alasan
kekurangan data atau bukti, terpaksa dihentikan penyelidikannya.
Á ÁIntel juga terus mengawasi aliran kepercayaa di Kalsel,
seper\ti Ahmadiyah di Banjarmasin, Mandi Tajeli di Banjarbaru, LDII
di Banjarmasin serta Nur Muhammad di Kandangan.
Á ÁSedangkan As Pidum Kejati Pratikto SH MH menambahkan, kasus
pidana umum yang masih menonjol adalah makin maraknya KDRT,
khususnya Banjarmasin yang mencapai 20 kasus.
Á ÁKemudian, secara keseluruhan, pihaknya menerima SPDP dari
kepolisian sebanyak 1.153 kasus, tahap pertama 1.696 kasus dan
tahap dua 1.637 dan ke tahap penuntutan di pengadilan mencapai
1.708 kasus.
Á Á"Jika ditotal, kejaksaan di Kalsel menangani setidaknya rataªrata sebulan menangani 367 kasus," cetus Pratikto.
Á ÁSementara uang yang dijadikan rampasan negara ada Rp23,1
miliar dari kasus tambang BCMP serta Rp666,7 juta dari kasus©kasus
pidana umum.
Á ÁTak cukup menangani kasus umum dan khusus, Kejati Kalsel
melalui As Was Kejati Kalsel setidaknya telah menindak tiga jaksa
nakal yang merugikan institusi maupun masyarakat pencari keadilan.
Á ÁAda 45 pengaduan terkait jaksa nakal, dan 27 pengaduan sudah
selesai, sedangkan 19 lainnya masih menunggu putusan petinggiÔ h) 0*0*0*° ° Ô Kejaksaan Agung. Tiga jaksa nakal diberi sanksi seperti satu
diberhentikan dengan hormat, satu orang dipecat dan satu orang lagi
diturunkan fungsinya dari jaksa menjadi TU. Ã Ãadi

No comments: