Monday, July 5, 2010

Pelindo III Tambah Saksi

BANJARMASINÄ Ä © Penyidik Pidsus Kejati Kalsel masih memerlukan
penambahan saksi guna memperkuat pembuktian dalam kasus dugaan
korupsi Pelindo III Kotabaru dengan tersangka SS dan JH, mantan
kepala cabang di institusi tersebut.
Á ÁSenin (5/7), As Pidsus Kejati Kalsel Erwindu SH MH melalui
Kasi Penkum dan Humas Kejati Kalsel Rajendra SH MH didampingi Agus
Suprapto SH MH menerangkan, sejauh ini, pihaknya sudah menetapkan
dua orang tersangka yang semuanya mantan kepala cabang di
perusahaan milik negara itu.
Á Á"Sementara ini masih dua tersangka, yakni SS dan JH. Kasusnya
masih dalam pendalaman. Kita akan memanggil lagi saksi dari Pelindo
Surabaya yang kita perkirakan mengetahui masalah tersebut," cetus
Rajendra.
Á ÁMenurutnya, hari ini, saksi itu akan menjalani pemeriksaan.
Diharapkan, kesaksian tersebut dapat memperkuat pembuktian mengenai
keterlibatan dua tersangka yang mengakibatkan negara merugi sebesar
Rp13 miliar, sejak 2000 hingga 2008.
Á ÁDitambahkan Agus, modus penyimpangan adalah tersangka selama
menjabat petinggi Pelindo III Kotabaru melakukan pungutan 100
persen dan pemberian reduksi 50 persen yang sebenarnya tidak sesuai
dengan ketentuan pungutan yang sudah ditetapkan Dirjen Perhubungan
Laut Kementerian Perhubungan.
à ÃListrik Tapin
Á ÁÄ ÄSementara itu, mengenai kasus lain seperti korupsi di
pengadaan distribusi listrik pada Distamben Tapin, Hel, salah satu
dari tujuh tersangka, batal menghadiri pemeriksaan lanjutan.
Á Á"Hel batal hadir dengan alasan sedang mencari pengganti
pengacaranya. Sebelumnya ia memakai jasa Dewi Setyaningsih SH.
Kemudian Hel berencana memakai jasa pengacara lainnya," bebernya.
Á ÁMenurut Rajendra, sebenarnya masih ada keterangan yang masih
diperlukan, meski tidak dijelaskannya apa yang masih diperlukan
dalam pemeriksaan tambahan ini.
Á ÁSelain itu, mengenai Roy Nur Hidayat yang disebut©sebut diduga
terlibat, penyidik mengungkapkan bahwa sejauh ini, Roy hanya
dijadikan saksi, mengingat belum ditemukan indikasi
keterlibatannya.
Á Á"Roy memang pemasok peralatan dalam proyek karena ia adalah
distributor. Namun, tidak ditemukan kalau Roy yang menjadi dalang
mark©up proyek," bebernya lagi.
Á ÁSementara itu, Hel mengakui ia sedang mencari pengacara baru.
"Kemungkinan saya akan memakai jasa pengacara Masdari Tasmin SH
MHum," paparnya.
Á ÁKetujuh tersangka yang kini masih dalam proses Pidsus Kejati
Kalsel tersebut terdiri atas berkas pertama yakni Mas (ketua
panitia), Sug, Has, Neta, dan Rah (anggota panitia). Kemudian dari
rekanan atau konsultan, juga menyeret nama Hel, serta Suk, staf
Distamben Tapin.
Á ÁPara tersangka diduga berkomplot dalam membuat harga perkiraan
sendiri, tanpa melalui prosedur Keppres No 80 Tahun 2003 tentang
Pelaksanaan Barang dan Jasa Pemerintahan. Otomatis, pasal yang
menjerat para tersangka adalah pasal 2 ayat (1) UU No 31 Tahun 1999
tentang Tipikor sebagaimana telah diubah dalam UU No 20 Tahun 1999Ô h) 0*0*0*° ° Ô tentang Pemberantasan Tipikor jo pasal 55 KUHP.
Á ÁProyek di Distamben Tapin ini bernilai total Rp 5,5 miliar,
diduga terjadi penyimpangan senilai Rp1,1 miliar, terjadi di tahun
2009. Tercatat ada sembilan perusahaan yang memenangkan lelang yang
disinyalir masih orang dekat dengan pejabat di dinas tersebut.
Á ÁProyek pemasangan jaringan listrik dilakukan di Desa
Lokpaikat, Salam Babaris, Hatungun, Binrang, dan Tandui. Ã Ãadi

No comments: