Wednesday, July 14, 2010

Kapolres Balangan Segera Disidang

BANJARMASINÄ Ä © Nasib dan karir AKBP Raden Rudy M (44) yang diduga
beristri lebih dari satu ini benar©benar akan ditentukan. Sebab,
Kamis (15/7) ini, sidang Komisi Kode Etik (KKE) terhadap perwira
menengah ini segera digelar di Polda Kalsel.
Á ÁRabu (14/7), Kapolda Kalsel Brgjen Pol Untung S Rajab melalui
Kabid Propam Polda Kalsel AKBP Zuhdi Arrasuli membenarkan kalau
AKBP Rudy segera disidang atas perintah atasan yang berhak
menghukum, yakni Kapolda Kalsel.
Á Á"Memang benar yang bersangkutan akan disidang KKE besok. Hal
ini sudah sesuai dengan perintah Ankum yang bersangkutan. Lebih
jelas bisa konfirmasikan ke Bid Humas," sarannya. Zuhdi sendiri
akan bertindak selaku penuntut dalam sidang nanti.
Á ÁKabid Humas Polda Kalsel AKBP Edi Ciptianto ketika
dikonfirmasi juga mengakui hal serupa. "Informasi sudah jelas,
sidang digelar besok," ucapnya.
Á ÁSebagaimana diketahui, Kapolres Balangan AKBP Rudy dilaporkan
Ema (42) yang mengaku sebagai istri muda Rudy, karena sudah
menelantarkan anak kandung mereka, Aulia (5).
Á ÁPemeriksaan kemudian dilakukan baik terhadap pelapor maupun
terlapor, termasuk sejumlah saksi yang berasal dari luar
Kalimantan, tersebar di Jakarta, dan kawasan Jabar.
Á ÁDikatakan Zuhdi, sidang KKE sebagai ajang pembuktian apakah
yang bersangkutan telah melakukan pelanggaran Peraturan Kapolri
(Perkap) No 7 tentang Kode Etik Profesi Polri dan Peraturan Kapolri
dan No 8 Tahun 2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Komisi Kode
Etik Polri.
Á ÁMenurutnya, dalam etika polisi, setiap anggota wajib menjaga
citra dan kehormatannya.
Á ÁDi sidang itu juga akan dipertanyakan alasan terlapor kenapa
sampai beristri dua, apakah istri pertama tak bisa memberikan
keturunan atau bagaimana, dan apakah sudah ada izin dari istri
pertama.
Á ÁKalaupun mungkin diberikan izin beristri lagi, dalam Polri,
tak semudah itu untuk beristri dua, karena harus melalui proses
yang panjang.
Á ÁJika terbukti melanggar etika, Kapolres Balangan bisa
memperolah sanksi antara lain, mungkin dinyatakan melakukan
perbuatan tercela, harus melakukan permintaan maaf, mengulang
profesi dan yang paling parah bakal diberhentikan secara tidak
hormat (PTDH).
Á ÁHanya saja, untuk di©PTDH, setidaknya harus terpenuhi dua dari
tiga unsur, yakni pelanggaran pidana, KKE, dan profesi.
Á ÁKasus anggota Polri beristri dua, sebenarnya bukan barang
baru. Kasus serupa pernah terjadi awal Juni 2010 lalu, ketika
Kapoltabes Denpasar Polda Bali Kombes Pol Pudi Rahardi yang baru
menjabat selama tiga hari, mesti menyerahkan jabatannya kepada AKBP
Suryanbodo Asmoro karena kasus ini.
Á ÁKemudian akibat berselingkuh, AKP Adi dan AKP Wulan, anggota
Polres Sleman, di©PTDH. Keduanya terbukti melanggar pasal 5 Perkap
No 7 Tahun 2006.
Á ÁSementara itu, dari catatan, selain kasus oknum beristri dua,
ada sejumlah kasus yang menunggu sidang disiplin atau bahkan KKE,
di antaranya, kasus pemerasan yang diduga dilakukan Kompol YudiÔ h) 0*0*0*° ° Ô Chandra, Briptu Agus Lowo, Briptu Thoriq, Briptu Heriyadi, dan
Briptu Darliansyah (semua mantan anggota Sat I Dit Narkoba Polda
Kalsel), terhadap enam warga sipil di salah satu kamar hotel HBI
dengan nilai ratusan juta rupiah.
Á ÁSelanjutnya, kasus penganiayaan ladies HBI, Mika oleh Briptu
Agus Lowo. Kemudian empat oknum polisi anggota Polsek Alabio Resort
HSU masing©masing bernama, Aiptu M Tampubulon, Bripka K Lumban
Toruan, Briptu Nur Ananda, dan Briptu Muhammad K, yang diduga
menembaki warga sipil di Desa Sungai Buluh, Balanti, Mantaas,
Rantau Bujur, Kecamatan Labuan Amas Utara (LAU), Kabupaten HST.Ã Ã adi

No comments: