Tuesday, July 13, 2010

Dua Terpidana PKM Jadi Buronan

BANJARMASIN © Mantan Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Banjar,
Iskandar Djamaluddin (59) dan mantan Kabag Perlengkapan Setda
Banjar, Hairul Saleh (53) sudah masuk dalam daftar pencarian orang
(DPO) alias buron oleh Kejari Martapura yang berhak mengeksekusi
keduanya karena terbukti bersalah dalam kasus korupsi pembebasan
lahan eks Pabrik Kertas Martapura (PKM) senilai Rp6,3 miliar.
Á Á"Tulis besar©besar bahwa kedua terpidana, yakni Hairul Saleh
dan Iskandar Djamaluddin buron. Kami berharap kepada seluruh
masyarakat yang mengetahui keberadaan mereka berdua, agar bisa
menghubungi kami agar bisa segera kita tahan," ujar Zulhadi Savitri
SH MH, beberapa saat usai gagal mengeksekusi Iskandar di kediaman
Iskandar Jl Gatot Subroto VII Gg Arthaloka No 62 RT 26 Banjarmasin,
Selasa (13/7).
Á ÁDisinggung bagaimana dengan terpidana satunya, Gunawan
Santosa, Dirut PT Golden Conimex, Kajari mengatakan bahwa untuk
Gunawan juga sedang diupayakan eksekusi dengan jalan berkoordinasi
dengan aparat kejaksaan di Jakarta Pusat.
Á ÁMenurutnya, pihak keluarga yang sengaja menyembunyikan kedua
terpidana akan berhadapan dengan hukum dan dapat dikenakan
perbuatan pidana.
Á Á"Kami akan memanggil para istri terpidana, yakni Murdiaty,
istri Iskandar, serta Mariatul Normadiah, istri Hairul yang sudah
menjamin akan menyerahkan para suaminya jika salinan putusan
Mahkamah Agung (MA) sudah tiba. Nyatanya, ketika salinan putusan
MA sudah datang, para terpidana justru menghilang," bebernya.
Á ÁTim dari Kejari Martapura yang dipimpin Zulhadi dan Kasi
Pidsus©nya Agung SH memang mendatangi kediaman Hairul di Jl Tanjung
Rema Darat No 20 RT 4, Martapura, sekitar pukul 10.00 Wita. Hanya
saja, tim eksekutor cuma mendapati istri, anak dan adik Hairul,
sementara Hairul tidak ada.
Á ÁTim diterima salah satu anggota keluarga Hairul di depan pintu
masuk rumah berwarna abu©abu dan berpagar besi yang terlihat kokoh
itu. Setelah pihak kejaksaan masuk, anggota keluarga Hairul Saleh
tadi menutup pintu sehingga para wartawan hanya dapat menunggu dari
luar. Setelah pintu dibuka, Zulhadi dan jajarannya keluar, namun
tidak tampak terdakwa Hairul Saleh.
Á ÁKepada keluarga dekat Hairul itu, Zulhadi menyampaikan maksud
pihaknya untuk mengeksekusi Hairul yang mesti menjalani masa
hukuman penjara selama lima tahun sesuai vonis MA. Kajari Martapura
itu juga berharap agar keluarga Hairul bisa kooperatif menyerahkan
Hairul dengan suka rela sehingga tidak perlu sampai ada upaya
paksa.
Á ÁSelepas dari Martapura, tim meluncur ke kediaman Iskandar di
Gg Arthaloka Gatsu Banjarmasin. Lagi©lagi, tim eksekutor kecele,
karena tidak mendapai Iskandar. Di rumah itu cuma ada penjaga
rumah, Eko dan seorang pembantu wanita.
Á ÁEko yang berlagak seperti petugas keamanan ini sempat
menghalang©halangi jaksa dan wartawan yang berupaya merepro fotoÔ h) 0*0*0*° ° Ô Iskandar. "Anda tidak bisa mengambil gambar karena saya nanti bisa
dimarahi yang punya rumah," ujar Eko. Bahkan, lengan wartawan BPost
yang sedang asyik mengambil foto juga sempat ditepisnya.
Á ÁNamun, Eko juga mengaku tidak mengetahui di mana keberadaan
Iskandar beserta istrinya. "Katanya sih ke Jawa, tetapi di kota
mana saya tidak tahu. Saya saja baru datang kemarin dari Pagatan,
diminta ibu untuk menjaga rumah," aku Eko yang menyatakan masih
kerabat istri Iskandar ini.
Á ÁSebelumnya, Ketua PN Martapura, Edy Suwanto SH MH kepada à ÃMata
BanuaÄ Ä, Senin (12/7) mengatakan, pihaknya baru saja menerima salinan
putusan MA. Dan, pada hari itu juga pihaknya akan memperbanyak
salinan putusan itu untuk diserahkan ke Kejari Martapura, para
terpidana, dan kuasa hukumnya.
Á Á"Salinan putusannya baru tadi pagi datang, kita akan fotokopi
dan periksa salinan putusan itu kemudian kita serahkan ke
kejaksaan, para terdakwa dan kuasa hukum terdakwa," ujarnya.
Á ÁEdy menegaskan, salinan putusan dari MA ini isinya sama dengan
kutipan yakni untuk terdakwa Hairul Saleh dan Iskandar dikenakan
lima tahun penjara dan denda Rp200 juta subsider enam bulan
penjara, serta membayar biaya perkara Rp2.500. Sedangkan, untuk
terdakwa Gunawan Santosa divonis lima tahun penjara dan denda Rp200
juta serta membayar uang pengganti sebesar Rp6.337.350.000.
Á Á"Jika terdakwa Gunawan tidak membayarnya selama satu bulan
maka harta kekayaannya disita dan dilelang, jika tidak punya harta
kekayaan maka diganti dengan pidana penjara selama empat tahun,"
tegas Edy. Ã Ãdio/adi

No comments: