Friday, July 23, 2010

Dua Petinggi PT JBG Jadi Tersangka

BANJARMASINÄ Ä © Dit Reskrim Polda Kalsel menetapkan dua orang
petinggi PT Jorong Barutama Greston (JBG) sebagai tersangka kasus
penambangan tanpa izin pinjam pakai dari Menteri Kehutanan
(Menhut).
Á ÁJumat (23/7), Dir Reskrim Kombes Pol Mas Guntur Laope
membenarkan penetapan dua petinggi PT JBG sebagai tersangka, yakni
seorang petinggi PT JBG yang berkedudukan di pusat, berkewargaan
Thailand, serta seorang lagi petinggi PT JBG di lokasi tambang di
Desa Asam Asam, Kecamatan Jorong, Kabupaten Tanah Laut (Tala).
Á ÁSayangnya, Guntur tak merinci siapa saja nama kedua tersangka
tersebut.
Á ÁDisinggung apakah kedua tersangka akan dilakukan penahanan,
Guntur menerangkan bahwa penahanan dipertimbangkan jika kedua
tersangka berpotensi melarikan diri.
Á ÁSat IV Tipiter Dit Reskrim Polda Kalsel Senin (24/5) lalu
memeriksa tiga orang direksi PT JBG, sebagai bagian penyidikan
kasus penambangan di kawasan hutan tanpa izin pinjam pakai Menhut.
Á ÁTidak disebutkan siapa saja nama ketiga direksi tersebut.
Hanya saja, diperkirakan, ketiga orang petinggi JBG itu warga
negara Thailand.
Á ÁBerkas©berkas yang sudah disita pihaknya, kemudian data dan
fakta yang terkumpul selama penyidikan sudah memenuhi unsur, telah
ada pelanggaran pidana terhadap kawasan hutan akibat penambangan
tanpa disertai izin pinjam pakai Menhut tersebut.
Á ÁSebelumnya, serangkaian rencana pemeriksaan terhadap sejumlah
warga Thailand termasuk petinggi PT JBG menjadi tertunda. Pasalnya,
warga asing itu mesti kembali ke negaranya, mengingat situasi
politik dalam negeri Thailand yang memanas.
Á ÁSebagaimana diketahui, Sat IV Tipiter AKBP menerangkan, selain
menambang di luar titik koordinat
PKP2B, PT JBG juga menambang di kawasan hutan industri.
Á ÁPT JBG diduga menambang di kawasan tersebut tanpa surat izin
pinjam pakai dari Menhut. Walaupun menurut PT JBG, mereka sudah
mengantongi rekomendasi dari Dirjen Mineral Energi dan Batubara
(Minerba).
Á ÁIzin pinjam pakai dari Menhut sendiri diduga sudah habis masa
berlakunya pertengahan tahun 2009 lalu. Oleh sebab itu, lanjutnya
lagi, aktivitas penambangan batubara di kawasan tersebut
dihentikan.
Á ÁSemua peralatan operasi penambangan seperti tronton, gleder,
eksavator, dan dozer, termasuk lahan seluas 200 hektar diberi garis
polisi. Ã Ãadi

No comments: