Wednesday, June 30, 2010

Tersangka Peti Mau Dibantarkan

BANJARMASINÄ Ä © As alias Muni (46), tersangka penambangan tanpa izin
(peti), melanggar pasal 158 UU No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan
dan Minerba yang ditahan sejak 15 Juni 2010 lalu, dalam waktu dekat
akan dibantarkan ke RS Bhayangkara.
Á ÁSelasa (29/6), Kasat I Krimum Dit Reskrim Polda Kalsel AKBP
Helfi Assegaff mengatakan, kondisi Muni kurang sehat, karena masih
kesakitan dengan bekas luka tembak di bagian bahunya.
Á Á"Sepertinya serpihan proyektil peluru masih ada bersarang di
bahu tersangka, makanya tersangka kadang meriang kesakitan.
Khawatir kalau terjadi apa©apa, dalam waktu dekat tersangka akan
kita bantarkan ke rumah sakit," cetusnya.
Á ÁSebelum ditangkap, Muni terlibat perselisihan dengan
seseorang, diduga masih berkaitan dengan masalah tambang batubara,
dan mantan anggota Brimobda Kalsel, Leprant sempat melukai Muni
dengan senjata api, sehingga bahu Muni tertembus peluru.
Á ÁSejauh ini, polisi baru menetapkan satu tersangka dalam peti
di kawasan tambang milik PT Arutmin di kawasan Satui.
Á ÁDisinggung apakah H Rudy, pengelola stockpile PT Binuang Jaya
Makmur (BJM) Sungai Cuka, akan dijadikan tersangka, karena
menampung dan menyewakan tempat untuk batubara milik Muni yang
diduga hasil curian, Helfi mengatakan tidak cukup bukti untuk
menjerat H Rudy.
Á Á Menurutnya, PT BJM selaku pemilik stockpile tentunya hanya
bekerja sama menyewakan tempat bagi perusahaan yang menitipkan
sementara batubaranya dengan sistem kontrak.
Á ÁBatubara yang masuk ke stocpile juga mesti jelas asalnya dari
mana seperti kelengkapan surat keterangan asal barang (SKAB) maupun
bukti perusahaan sebagai pemegang kuasa pertambangan (KP). Menurut
Helfi, BJM cuma sekadar memungut uang sewa, dan tidak menyadari
kalau batubara milik tersangka adalah hasil peti, mengingat Muni
juga melampirkan SKAB.
Á ÁPenjelasan ini terkesan bertolak belakang, karena Muni ketika
ditanya wartawan, Selasa (15/6) lalu mengaku cuma menyewa tempat
milik BJM secara lisan dengan anak buah H Rudy.
Á ÁMuni (46), warga Jl MGR RT 23 Selong RT 10 No 18 Desa Sungai
Danau Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu (Tanbu) ini diduga
melakukan penambangan tanpa izin (peti) di kawasan tambang PT
Arutmin, pemilik izin PKP2B di Kecamatan Satui.
Á ÁPria kelahiran Kandangan ini, berdasar Sprint No:
SP.Han/27.1/VI/2010/Dit Reskrim yang ditandatangani oleh Helfi atas
nama Dir Reskrim, ditahan sejak 14 Juni 2010 sampai 3 Juli 2010,
alias selama 20 hari untuk kepentingan penyidikan. Sewaktu©waktu
penahananya bisa diperpanjang jika diperlukan.
Á ÁTersangka kepada wartawan mengakui, dirinya lebih dari 10 hari
menambang di kawasan Arutmin dengan modal kerja Rp35 juta, termasuk
untuk operasional dan menyewa dua eksavator.
Á Á1.600 metrik ton (MT) batubara curian itu sempat dikumpulkan
di pelsus PT BJM di Sungai Cuka.
Á ÁMuni mengatakan, penumpukan batubara di BJM atas sepengetahuan
anak buah H Rudy, pengelola pelsus. "Saya pikir, H Rudy mengetahui
juga kalau saya menyewa tempat penumpukan itu. Tapi, antara saya
dengan H Rudy sebatas saya menyewa tempatnya, bukan kerja sama jual
beli batubara itu," sanggahnya.Ô h) 0*0*0*° ° ÔŒÁ ÁAdapun sewa tempat itu adalah senilai Rp10.000/ton. "Saya
menyewa tempat itu secara lisan melalui anak buah H Rudy," tambah
tersangka.Ã Ã
Á ÁÄ ÄSementara itu, kuasa hukum PT Arutmin, Abdul Hakim SH
mengatakan, dari penyelidikan yang dilakukan pihaknya, H Asmuni
didukung anak buahnya sudah hampir sebulan mengeruk batubara dari
tiga titik yang masih masuk kawasan PKP2B Arutmin di Desa Sungai
Cuka. Ã Ãadi

No comments: